EDUCARE.CO.ID – Empat mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) mengembangkan ARUNIKA, alat pendeteksi banjir berbasis Internet of Things (IoT) yang memanfaatkan energi surya. Perangkat ini memantau kenaikan permukaan air secara real-time dan memberi peringatan ketika air mencapai batas tertentu.
ARUNIKA menggabungkan sensor ultrasonik, alarm, dan dashboard digital dalam satu perangkat. Panel surya menjadi sumber energi utama, sedangkan baterai cadangan membantu menjaga operasional saat sinar matahari kurang optimal.
Tim pengembang berharap ARUNIKA dapat membantu masyarakat di kawasan rawan banjir. Mereka juga membuka peluang integrasi perangkat ini dengan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) milik instansi terkait.
“Alat ini bisa diintegrasikan ke early warning system (EWS) yang telah dimiliki sejumlah instansi untuk memperkuat mitigasi penanganan bencana banjir. Sebagai kampus transisi energi yang ada di Jakarta, kami membuat alat ini agar bisa memberikan dampak positif bagi Jakarta dalam penanganan banjir,” ujar anggota tim ARUNIKA, Ramos Rafael Nainggolan, Sabtu (24/10/2026).
Empat Mahasiswa ITPLN Rancang ARUNIKA
Tim mengembangkan ARUNIKA sebagai proyek mata kuliah Rangkaian Listrik. Ahmad Hafidz Susanto memimpin tim tersebut bersama tiga anggota lainnya, yaitu Ramos Rafael Nainggolan, Muhammad Alvin Nurfansyah, dan Layta Nur Huda.
Keempat mahasiswa itu berasal dari ITPLN. Dosen pengampu Fasharani Fahmi Fauzian membimbing mereka selama proses pengembangan.
Tim memilih nama ARUNIKA sebagai singkatan dari Autonomous Renewable Unit for Networked IoT and Ketinggian Air. Nama ini juga merujuk pada bahasa Sanskerta yang bermakna cahaya matahari saat terbit.
Makna tersebut mencerminkan pemanfaatan energi surya dalam rancangan perangkat. Tim juga berharap inovasi ini dapat menghadirkan solusi teknologi untuk membantu masyarakat menghadapi risiko banjir.
Sensor Ultrasonik Pantau Ketinggian Air secara Real-Time
ARUNIKA menggunakan sensor ultrasonik untuk mengukur jarak antara sensor dan permukaan air. Perangkat kemudian mengirimkan hasil pengukuran ke sistem digital agar pengguna dapat memantau perubahan ketinggian air.
Tim menetapkan ambang batas untuk menandai kondisi waspada dan bahaya. Ketika air mencapai batas tersebut, perangkat menyalakan lampu LED dan buzzer sebagai alarm lokal.
Pengguna juga dapat memantau kondisi air melalui dashboard berbasis web. Sistem ini menyediakan informasi ketinggian air, pengaturan ambang peringatan, dan riwayat perubahan permukaan air.
“Informasi kondisi air juga ditampilkan melalui dashboard berbasis web yang menyediakan pemantauan, pengaturan ambang batas, dan riwayat perubahan ketinggian air,” ungkap Ramos.
Dengan fitur tersebut, ARUNIKA membantu pengguna mengenali perubahan kondisi air tanpa harus memeriksa lokasi secara langsung setiap saat. Informasi yang tersedia juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi warga dan petugas ketika mengambil langkah antisipasi.

Gunakan Panel Surya dan Baterai Cadangan
ARUNIKA mengandalkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan energinya. Tim merancang sistem off-grid agar perangkat tidak bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik utama.
Selain panel surya, tim menambahkan baterai cadangan untuk mendukung operasional saat sinar matahari tidak mencukupi. Rancangan ini memberi perangkat sumber energi alternatif ketika kondisi cuaca berubah.
ARUNIKA juga memadukan sensor ultrasonik, mikrokontroler ESP32, modul relai, dan konektivitas IoT. Komponen tersebut menjalankan fungsi pengukuran, pengolahan data, dan pengiriman informasi ke dashboard.
“Integrasi sensor, mikrokontroler ESP32, modul relai, dan konektivitas IoT diharapkan membantu masyarakat memperoleh informasi kondisi air lebih cepat, terutama di kawasan yang berisiko mengalami banjir,” jelas Ramos.
Meski menawarkan potensi, perangkat tetap menghadapi tantangan teknis. Intensitas cahaya matahari, kualitas jaringan komunikasi, dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kinerja alat saat tim mengujinya di lapangan.
ARUNIKA Berpeluang Dukung Mitigasi Banjir
Tim ingin mengembangkan ARUNIKA agar dapat membantu pemantauan air di permukiman, bantaran sungai, dan titik rawan genangan. Namun, mereka masih perlu menguji kinerja perangkat sebelum menerapkannya secara lebih luas.
Pengujian perlu mencakup akurasi sensor, kestabilan komunikasi, dan ketahanan perangkat terhadap cuaca. Tim juga perlu menyesuaikan ambang peringatan dengan karakteristik setiap lokasi.
Langkah tersebut penting karena setiap kawasan memiliki kondisi yang berbeda. Pengaturan sensor dan ambang peringatan yang sesuai dapat membantu pengguna memperoleh informasi yang lebih relevan.
Dosen pengampu Fasharani Fahmi Fauzian berharap mahasiswa terus menyempurnakan ARUNIKA setelah menyelesaikan proyek perkuliahan. Ia juga mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, dan pihak lain yang menangani persoalan banjir.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta pemerintah daerah lain yang menghadapi risiko banjir dapat mempertimbangkan uji coba perangkat ini di sejumlah titik rawan. Kerja sama tersebut dapat membuka ruang untuk mengevaluasi kemampuan ARUNIKA dalam kondisi nyata.
Berdasarkan sumber laman resmi Institut Teknologi PLN, mahasiswa ITPLN merancang perangkat ini untuk memantau ketinggian air dan memberikan peringatan dini melalui teknologi IoT serta energi surya. Tim masih perlu melakukan pengujian lapangan untuk memastikan akurasi, keandalan komunikasi, dan ketahanan perangkat.
Jika pengujian menunjukkan hasil yang memadai, ARUNIKA berpotensi menjadi perangkat pendukung mitigasi banjir. Teknologi ini diharapkan membantu masyarakat mengenali kenaikan air lebih awal dan menyiapkan langkah antisipasi secara lebih cepat.

