EDUCARE.CO.ID – Dua mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil meraih prestasi nasional melalui inovasi pengolahan limbah kotoran sapi. Risky Adwitiya Anggara dari Program Studi Ilmu Tanah dan Destia Keke Rizky dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNEJ, meraih Gold Medal I Infografis dalam ajang Pekan Riset dan Ilmiah Mahasiswa (PRISMA) 14.
Keduanya mengangkat persoalan penumpukan kotoran sapi di kawasan peternakan. Mereka kemudian merancang gagasan pengolahan limbah yang dapat memberi manfaat bagi petani dan peternak.
Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya, menggelar kompetisi tersebut. Berdasarkan sumber Berita Kampus Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Risky dan Keke membawa gagasan itu hingga babak final dan berhasil meraih penghargaan tertinggi pada kategori infografis.
500 Peserta Ikut Bersaing di PRISMA 14
PRISMA 14 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Lebih dari 500 peserta mengikuti kategori infografis nasional.
Persaingan berlangsung hingga tahap final. Dari ratusan peserta, hanya 15 tim yang lolos ke babak tersebut.
Risky dan Keke kemudian mempresentasikan karya mereka di hadapan dewan juri. Mereka mengandalkan gagasan yang berangkat dari persoalan lingkungan di kawasan peternakan.
Keduanya memilih sub-tema lingkungan karena melihat penumpukan kotoran sapi sebagai persoalan yang masih sering muncul di desa dengan populasi ternak tinggi.
Kotoran Sapi Jadi Peluang untuk Petani dan Peternak
Risky melihat persoalan limbah tersebut dari kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar. Ia menemukan banyak peternakan yang menghasilkan kotoran sapi dalam jumlah besar.
Jika masyarakat membiarkannya menumpuk, limbah tersebut dapat mengganggu kebersihan dan kualitas lingkungan. Karena itu, Risky dan Keke mencoba mencari cara agar limbah tersebut memiliki fungsi yang lebih produktif.
“Kami sadar dan melihat penumpukan limbah kotoran sapi yang menumpuk khususnya di desa yang memiliki peternakan. Dari sinilah kami bergerak untuk berpikir mengembangkan inovasi yang tidak hanya menjadi produk, namun bisa berkelanjutan bagi petani dan peternak sebagai langkah kecilnya,” ujar Risky.
Gagasan mereka tidak berhenti pada pengolahan limbah. Tim juga ingin menciptakan solusi yang dapat terus berkembang dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat persoalan lingkungan sekaligus menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi di sektor pertanian dan peternakan.
AI dan IoT Ikut Masuk dalam Gagasan Inovasi
Risky dan Keke juga memasukkan teknologi dalam pengembangan gagasan mereka. Mereka memanfaatkan pendekatan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk menjawab tantangan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Menurut Risky, teknologi dapat membantu masyarakat mengembangkan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
“Pengaplikasikan teknologi Artificial Intelligence (AI) maupun Internet of Things (IoT) sebagai upaya untuk memecahkan tantangan pembangunan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ujarnya.
Selain teknologi, tim juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor. Masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta dapat mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Keduanya juga memasukkan kearifan lokal sebagai bagian dari pendekatan tersebut. Mereka menghubungkan inovasi dengan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Ilmu Tanah dan Agroteknologi Saling Melengkapi
Risky dan Keke membawa latar belakang keilmuan yang berbeda. Risky mempelajari Ilmu Tanah, sedangkan Keke menekuni Agroteknologi.
Perbedaan tersebut justru memperkuat kerja mereka. Risky dapat melihat persoalan dari sisi tanah dan lingkungan. Sementara itu, Keke membawa perspektif dari bidang budidaya dan teknologi pertanian.
Keduanya kemudian menggabungkan pengetahuan tersebut untuk menyusun gagasan. Mereka juga menggunakan hasil pengamatan lapangan sebagai dasar dalam mengembangkan solusi.
Kolaborasi lintas program studi ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menggabungkan keahlian berbeda untuk menjawab satu persoalan.
Selain menghasilkan karya untuk kompetisi, proses tersebut juga melatih kemampuan riset dan kerja sama.
Persiapan Gold Medal Dimulai dari Brainstorming
Risky dan Keke tidak langsung mendapatkan hasil dalam satu tahap. Mereka menjalani proses persiapan yang cukup panjang sebelum mengikuti kompetisi pada 6 September 2026.
Tahap awal mereka mulai dengan brainstorming. Keduanya mencari persoalan yang relevan, menentukan sub-tema, lalu menyusun judul dan konsep infografis.
Setelah itu, mereka membagi waktu untuk mengembangkan materi. Mereka juga harus menyesuaikan persiapan lomba dengan jadwal kuliah dan kegiatan lainnya.
Latihan presentasi menjadi tahap berikutnya. Risky dan Keke rutin berlatih agar mampu menyampaikan gagasan dengan jelas di hadapan juri.
Bagi Risky, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu kunci dalam mengikuti kompetisi mahasiswa.
“Mau menjemput bola, dalam artian mencari informasi lomba di semua platform, pantang menyerah untuk setiap tantangan, serta bisa membagi waktu dengan kuliah dan kegiatan lainnya,” pesannya.
Prestasi Jadi Bekal untuk Kompetisi Berikutnya
Risky dan Keke tidak berhenti setelah meraih Gold Medal PRISMA 14. Mereka kini menyiapkan diri untuk mengikuti Super Hero Lingkungan (SHL) 10.
Fakultas Pertanian UNEJ akan menggelar kompetisi tersebut pada akhir September 2026. Keduanya kembali membawa semangat yang sama untuk mengembangkan gagasan berbasis lingkungan.
Pengalaman mengikuti PRISMA 14 memberi mereka ruang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Mereka juga belajar menyusun gagasan, membagi tugas, melakukan riset, dan menyampaikan hasil kerja kepada publik.
Keduanya berharap pengalaman tersebut dapat mendorong mahasiswa lain untuk ikut menghasilkan karya inovatif.
Perkembangan teknologi yang semakin cepat juga membuka peluang baru bagi mahasiswa. Karena itu, mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi untuk mencari solusi atas persoalan lingkungan, sosial, maupun ekonomi.
Mahasiswa UNEJ Dorong Inovasi dari Masalah Lingkungan
Prestasi Risky dan Keke menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi mahasiswa.
Penumpukan kotoran sapi yang awalnya terlihat sebagai masalah justru memberi mereka ide untuk mengembangkan solusi. Mereka kemudian menggabungkan ilmu pertanian, pengamatan lapangan, teknologi, dan kolaborasi untuk menyusun gagasan tersebut.
Melalui PRISMA 14, keduanya tidak hanya mengejar penghargaan. Mereka juga mendapat pengalaman untuk menguji gagasan dan menyampaikannya di tengah persaingan mahasiswa dari berbagai daerah.
Bagi UNEJ, capaian tersebut turut menunjukkan peran mahasiswa dalam mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, pengalaman Risky dan Keke dapat menjadi bekal untuk mengikuti kompetisi lain serta mengembangkan inovasi yang lebih luas.
Semangat tersebut juga membuka peluang bagi mahasiswa lain untuk melihat persoalan di sekitar mereka secara lebih kritis. Dari sana, masalah dapat berubah menjadi ide, riset, dan inovasi yang memberi manfaat nyata.

