EDUCARE.CO.ID – Matcha dan kopi menjadi pilihan populer untuk menemani aktivitas sehari-hari. Keduanya mengandung kafein yang membantu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Namun, kedua minuman ini memiliki kandungan serta efek yang berbeda bagi tubuh.
Sebagian orang memilih kopi untuk melawan rasa kantuk. Sementara itu, pencinta matcha menyukai rasanya yang khas dan sensasi fokus yang mereka rasakan setelah meminumnya. Lantas, mana yang lebih sehat, matcha atau kopi?
Jawabannya bergantung pada kebutuhan tubuh, jumlah konsumsi, dan cara penyajiannya.
1. Matcha dan Kopi Memiliki Kandungan Kafein Berbeda
Kopi mengandung kafein yang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk. Karena itu, banyak orang meminumnya saat bekerja, belajar, atau memulai aktivitas pada pagi hari.
Di sisi lain, matcha berasal dari bubuk daun teh hijau (Camellia sinensis). Minuman ini juga mengandung kafein, tetapi memiliki senyawa lain yang dapat memengaruhi respons tubuh.
Kandungan kafein dalam kedua minuman tersebut tidak selalu sama. Jenis biji kopi, takaran bubuk matcha, ukuran sajian, dan metode penyeduhan dapat memengaruhi jumlah kafein dalam setiap cangkir.
Oleh karena itu, periksa takaran dan cara penyajian sebelum membandingkan efek matcha dengan kopi.
2. Kopi Mengandung Antioksidan yang Bermanfaat
Selain kafein, kopi mengandung senyawa antioksidan, termasuk asam klorogenat. Senyawa ini berperan dalam melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Konsumsi kopi dalam jumlah wajar juga berkaitan dengan sejumlah manfaat kesehatan dalam berbagai penelitian. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa kopi dapat mencegah semua penyakit.
Cara penyajian turut memengaruhi kualitas minuman. Kopi tanpa tambahan gula berlebihan, krimer, atau sirup biasanya memberikan asupan gula yang lebih rendah daripada kopi dengan banyak pemanis.
Meski demikian, setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda. Sebagian orang dapat menikmati kopi tanpa keluhan, sedangkan orang lain mungkin mengalami jantung berdebar, gelisah, atau gangguan tidur setelah meminumnya.
3. Matcha Mengandung L-Theanine dan Katekin
Matcha memiliki kandungan L-theanine, yaitu asam amino yang terdapat dalam daun teh. Senyawa ini menarik perhatian peneliti karena dapat memengaruhi relaksasi dan perhatian.
Matcha juga mengandung katekin, kelompok antioksidan yang terdapat dalam teh hijau. Salah satu jenisnya adalah epigallocatechin gallate (EGCG), yang banyak diteliti karena aktivitas biologisnya.
Kombinasi kafein dan L-theanine sering dikaitkan dengan pengalaman fokus yang berbeda dari konsumsi kopi. Namun, respons setiap orang tidak selalu sama. Penelitian lebih lanjut juga masih diperlukan untuk memastikan besarnya manfaat tersebut dalam berbagai kondisi.
Dengan demikian, matcha dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin menikmati minuman berkafein sekaligus memperoleh senyawa alami dari teh hijau.
4. Matcha vs Kopi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Pilihan terbaik bergantung pada respons tubuh dan tujuan konsumsi.
Jika membutuhkan minuman untuk membantu tetap terjaga, kopi bisa menjadi pilihan. Namun, perhatikan jumlah kafein, terutama jika kamu mudah merasa gelisah atau mengalami gangguan tidur.
Sebaliknya, matcha cocok bagi orang yang menyukai teh hijau dan ingin mencoba sumber kafein alternatif. Meski begitu, matcha tetap mengandung kafein sehingga kamu perlu memperhatikan jumlah konsumsinya.
Selain jenis minuman, perhatikan pula bahan tambahan. Matcha latte dengan banyak gula dan sirup, misalnya, belum tentu menjadi pilihan yang lebih sehat daripada kopi hitam tanpa pemanis.
Karena itu, pertimbangkan beberapa hal berikut sebelum memilih:
- Kebutuhan aktivitas: Sesuaikan pilihan dengan tingkat kewaspadaan yang kamu butuhkan.
- Toleransi kafein: Perhatikan apakah kafein memicu rasa gelisah, jantung berdebar, atau gangguan tidur.
- Kandungan gula: Batasi gula, krimer, dan sirup tambahan.
- Waktu konsumsi: Hindari minuman berkafein menjelang waktu tidur jika kamu sensitif terhadap kafein.
- Kondisi kesehatan: Konsultasikan kebutuhan konsumsi kafein dengan tenaga kesehatan jika kamu memiliki kondisi medis tertentu.
5. Perhatikan Efek Samping Matcha dan Kopi
Walaupun memiliki sejumlah manfaat, matcha dan kopi tetap dapat menimbulkan efek samping. Kandungan kafein dalam keduanya bisa memicu jantung berdebar, kecemasan, sakit kepala, atau gangguan tidur pada orang yang sensitif.
Konsumsi berlebihan juga dapat menyebabkan keluhan pencernaan pada sebagian orang. Selain itu, minuman berkafein pada sore atau malam hari bisa mengganggu kualitas tidur.
Matcha pekat dan suplemen ekstrak teh hijau juga tidak memiliki karakteristik yang sama. Konsumsi ekstrak teh hijau dalam dosis tinggi pernah dikaitkan dengan gangguan hati, sehingga penggunaannya memerlukan perhatian khusus.
Untuk mengurangi risiko, mulailah dengan porsi yang sesuai dan amati respons tubuh. Jika muncul keluhan setelah mengonsumsi salah satu minuman, kurangi jumlahnya atau hentikan sementara.
6. Apakah Matcha Dapat Melancarkan Buang Air Besar?
Respons pencernaan terhadap matcha berbeda pada setiap orang. Kandungan kafein dapat memengaruhi aktivitas usus pada sebagian orang, tetapi efek tersebut tidak selalu muncul.
Matcha juga bukan pengganti asupan serat, air putih, dan pola makan seimbang. Jika mengalami sembelit, tingkatkan konsumsi makanan berserat, cukupi kebutuhan cairan, dan lakukan aktivitas fisik secara teratur.
Apabila sembelit berlangsung lama atau muncul bersama nyeri hebat, muntah, maupun darah dalam tinja, segera cari bantuan medis.
7. Tips Menikmati Matcha dan Kopi dengan Lebih Sehat
Kamu tidak harus berhenti minum kopi atau matcha untuk menjaga kesehatan. Sebaliknya, atur cara konsumsi agar sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu terapkan:
- Batasi asupan kafein. Untuk kebanyakan orang dewasa yang sehat, FDA menyebut konsumsi hingga sekitar 400 miligram kafein per hari umumnya tidak menimbulkan efek negatif. Namun, batas yang sesuai dapat berbeda menurut kondisi dan sensitivitas individu.
- Kurangi gula tambahan. Pilih kopi atau matcha dengan sedikit pemanis agar asupan gula tetap terkendali.
- Perhatikan waktu minum. Beri jarak yang cukup antara konsumsi kafein dan waktu tidur.
- Jangan mengandalkan kafein untuk menggantikan tidur. Istirahat yang cukup tetap penting untuk menjaga konsentrasi dan kesehatan.
- Kenali respons tubuh. Jika muncul keluhan setelah minum kopi atau matcha, sesuaikan takaran dan frekuensi konsumsinya.
Perlu diingat, anjuran 400 miligram kafein per hari bukan target konsumsi yang harus dicapai semua orang. Ibu hamil, orang yang sedang mengonsumsi obat tertentu, dan individu dengan kondisi kesehatan khusus mungkin memerlukan batas yang berbeda.
Kesimpulan
Matcha dan kopi sama-sama menawarkan manfaat, tetapi keduanya memiliki kandungan dan efek yang berbeda. Kopi menyediakan kafein serta antioksidan, sedangkan matcha mengandung kafein, L-theanine, dan katekin.
Pada akhirnya, matcha tidak selalu lebih sehat daripada kopi, begitu pula sebaliknya. Takaran, kandungan gula, waktu konsumsi, dan kondisi tubuh menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan.
Pilih minuman yang sesuai dengan kebutuhanmu, batasi konsumsi berlebihan, dan tetap utamakan pola hidup seimbang.

