Mahasiswa Vokasi UNAIR Dorong Inovasi Briket Sekam Padi di Tuban

EduNews

educare.co.id, Tuban – Mahasiswa Program Studi D3 Akuntansi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Briket Sekam Padi: Solusi Ekonomi Kreatif untuk Petani” di Desa Leran Kulon, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, pada Selasa hingga Kamis (10–12/6/2025).

Desa Leran Kulon dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras utama di Kabupaten Tuban, yang menghasilkan limbah sekam padi dalam jumlah besar. Menyikapi potensi tersebut, Himpunan Mahasiswa D3 Akuntansi UNAIR bekerja sama dengan SDGs Center UNAIR mengadakan pelatihan dan edukasi untuk petani dan warga desa dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi mengenai manfaat sekam padi sebagai bahan bakar alternatif dan sumber penghasilan baru. Saharani Nurlaila Buamonabot, S.Hum., dari SDGs Center UNAIR, menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi energi dan produk bernilai ekonomi merupakan bagian dari penerapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin 8 dan 12.

“Limbah pertanian seperti sekam padi dapat menjadi sumber energi terbarukan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa,” ujar Saharani.

Selain pelatihan teknis pembuatan briket, masyarakat juga memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan keuangan sederhana yang disampaikan oleh Riska Nur Rosyidiana, S.E., M.Ak., CRA, CPMA, CAPF, AWP, dosen Fakultas Vokasi UNAIR. Materi ini membahas tantangan keuangan yang umum dihadapi oleh petani, seperti pendapatan yang fluktuatif, pencatatan yang minim, dan pengelolaan utang.

“Petani perlu belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan utang produktif dan konsumtif. Prinsip dasarnya, penghasilan boleh musiman, tapi pengelolaannya harus tetap terencana,” jelas Riska.

Hari kedua diisi dengan pelatihan praktis pembuatan briket, yang mencakup proses pembakaran sekam, penghalusan, pencampuran dengan bahan perekat, pencetakan, hingga proses pengeringan. Warga juga melakukan uji coba penggunaan briket untuk kebutuhan rumah tangga guna menilai manfaat langsung dari produk tersebut.

BACA JUGA:  Tantangan Pengendalian Tembakau di Indonesia: Implementasi Lemah, Risiko Kesehatan Meningkat

Sesi hari ketiga berfokus pada strategi pemasaran dan promosi, termasuk pengenalan media sosial dan jaringan distribusi sebagai sarana memperluas pasar. Diskusi juga membahas peluang ekspor, perencanaan bisnis, dan cara meningkatkan daya saing produk lokal.

Tak hanya untuk orang dewasa, panitia juga menyelenggarakan sesi edukatif bagi anak-anak SD kelas 3 hingga 5, yang berlangsung di balai desa. Sesi ini bertujuan membangun kedekatan sekaligus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, termasuk perangkat desa, ibu-ibu PKK, dan warga umum, dengan total peserta sebanyak 23 orang. Respons masyarakat sangat antusias, dan banyak yang menyatakan minat untuk melanjutkan produksi briket secara mandiri. Untuk mendukung keberlanjutan, panitia membagikan poster panduan, brosur, serta memberikan bantuan berupa mesin penghalus sekam.

Inisiatif ini mendukung pencapaian beberapa poin SDGs, yakni Goal 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), Goal 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta Goal 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kepala Desa Leran Kulon, H. Parlin, S.E., menyambut baik program ini dan menyatakan bahwa kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi desa yang memiliki limbah sekam melimpah.

“Terima kasih atas pengabdian yang telah dilakukan, kegiatan ini memang cocok untuk Desa Leran Kulon karena kita memiliki banyak limbah sekam padi. Dengan adanya pelatihan pembuatan briket ini diharapkan nanti dapat menambah pendapatan keluarga dan nanti juga bisa saya arahkan untuk kedepannya,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan vokasional. Selain berperan sebagai fasilitator, para mahasiswa juga mendapat pengalaman belajar langsung dari masyarakat dan permasalahan nyata di lapangan.

Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas petani Desa Leran Kulon, baik dari sisi keterampilan produksi maupun manajemen usaha. Briket sekam padi kini menjadi simbol potensi lokal yang mampu dikembangkan untuk mendorong kemandirian ekonomi desa secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  Mahasiswa ITS Ciptakan SWEET, Inovasi Deteksi Glukosa Non-Invasif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *