Mahasiswa Undana Juara 1 Nasional, Sulap Limbah Tempurung Kelapa Jadi Senjata Lawan Bakteri Se’i

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) mencetak prestasi nasional lewat inovasi keamanan pangan berbasis potensi lokal Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Undana berhasil meraih Juara 1 El Bajo Essay Competition 5 melalui karya ilmiah bertajuk “SAFE SE’I”.

Inovasi tersebut mengusung metode pengasapan hibrida berbasis asap cair tempurung kelapa untuk membantu menekan kontaminasi Escherichia coli pada se’i, kuliner khas NTT.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Nusa Cendana (Undana), tim tersebut beranggotakan Gebriella Nada Sampealla sebagai ketua, serta Diva Dativa Nenosaban dan Gabriela Claretya Sua Maga sebagai anggota.

Selain Juara 1, tim Undana juga membawa pulang Gold Medal Subbidang Pangan dan penghargaan Favorite Paper. Kompetisi yang digelar Sentosa Foundation itu berlangsung pada 5–6 September 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

Persaingan berlangsung ketat. Tim SAFE SE’I harus bersaing dengan 374 peserta finalis yang tergabung dalam 123 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah kampus besar turut ambil bagian, seperti UGM, IPB University, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, dan Universitas Mataram.

Manfaatkan Limbah Tempurung Kelapa untuk Keamanan Pangan

SAFE SE’I lahir dari persoalan keamanan pangan sekaligus potensi limbah kelapa yang melimpah di NTT.

Tim mahasiswa Undana melihat bahwa produk se’i masih menghadapi risiko kontaminasi bakteri Escherichia coli. Risiko tersebut dapat muncul ketika proses sanitasi dan pengolahan daging kurang optimal.

Karena itu, tim merancang metode pengasapan hibrida. Metode ini menggabungkan food grade liquid smoke atau asap cair derajat pangan sebagai tahap marinasi awal dengan pengasapan tradisional menggunakan kayu kesambi.

Asap cair dari tempurung kelapa mengandung sejumlah senyawa aktif, seperti fenol, asam organik, dan karbonil. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antimikroba yang dapat membantu menekan bakteri kontaminan.

Menariknya, inovasi ini tetap mempertahankan karakter khas se’i, terutama dari sisi cita rasa dan aroma.

Ketua Tim SAFE SE’I, Gebriella Nada Sampealla, mengatakan ide tersebut muncul dari pengamatannya terhadap banyaknya limbah tempurung kelapa di NTT.

“Saya sangat suka minum air kelapa dan melihat limbah tempurung kelapa melimpah tetapi belum dimanfaatkan maksimal, dari situ muncul ide untuk mengolahnya menjadi liquid smoke guna mendukung keselamatan produk unggulan NTT yaitu se’i.”

SAFE SE’I Buka Peluang Ekonomi Sirkular

Inovasi SAFE SE’I tidak hanya menyasar aspek keamanan pangan. Tim juga menghubungkannya dengan konsep ekonomi sirkular.

Alih-alih membiarkan tempurung kelapa menjadi limbah, masyarakat dapat mengolahnya menjadi asap cair bernilai tambah. Langkah ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi petani kelapa dan pelaku usaha lokal.

Jika penerapannya berkembang, inovasi tersebut juga dapat mempertemukan berbagai pihak. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, UMKM pengolah se’i, hingga sektor pertanian dapat membangun kerja sama untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Dengan begitu, se’i tidak hanya menjadi kuliner khas NTT. Produk ini juga berpeluang meningkatkan standar keamanan serta daya saing di pasar yang lebih luas.

Persiapan Matang Bawa Tim Undana ke Puncak Kompetisi

Perjalanan tim SAFE SE’I menuju Juara 1 berlangsung melalui persaingan yang ketat. Tim harus mempersiapkan berbagai aspek karya, mulai dari latar belakang masalah hingga mekanisme teknologi dalam menekan kontaminasi bakteri.

Pembagian tugas juga menjadi bagian penting dalam persiapan. Setiap anggota memegang peran dalam penyusunan karya dan analisis dampak inovasi.

Anggota tim SAFE SE’I, Diva Dativa Nenosaban, menilai mahasiswa dari daerah tidak perlu minder ketika berhadapan dengan peserta dari kampus besar.

“Jangan takut untuk mencoba hanya karena merasa belum cukup hebat atau harus bersaing dengan mahasiswa dari universitas besar, karena yang paling penting adalah seberapa serius kita mempersiapkan karya yang kita bawa.”

Dukungan dari lingkungan fakultas turut memperkuat perjuangan tim. Mereka mendapat dukungan dari Koordinator Program Studi Kedokteran Hewan, drh. Elisabeth Tangkonda, M.Sc., Ph.D., serta Wakil Dekan II FKKH Undana, drh. Yohanes T. R. M. R. Simarmata, M.Sc.

Pada babak final, peserta harus melewati dua tahap presentasi. Setiap tahap memberikan waktu tujuh menit untuk memaparkan karya di hadapan juri.

Tim Undana sebelumnya meraih Gold Medal Subbidang Pangan pada kategori poster. Setelah itu, mereka masuk ke babak delapan besar yang menggabungkan seluruh subtema.

Pada tahap tersebut, delapan juri nasional menilai presentasi para finalis. Tim SAFE SE’I akhirnya keluar sebagai Juara 1.

Undana Dorong Riset Berbasis Potensi Lokal

Prestasi Gebriella, Diva, dan Gabriela menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber inovasi ketika mahasiswa menggabungkannya dengan pendekatan ilmiah.

SAFE SE’I juga memperlihatkan peluang riset yang tidak berhenti pada kompetisi. Inovasi tersebut dapat menjawab persoalan keamanan pangan sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah dan penguatan ekonomi masyarakat.

Undana pun terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan riset aplikatif yang memiliki manfaat nyata.

Capaian tim FKKH Undana diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk berani mengangkat potensi daerah. Dengan riset yang kuat, karya mahasiswa dari perguruan tinggi di daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article