Mahasiswa UM Gabungkan Budaya Bantengan dan Teknologi untuk Bikin Belajar Fisika Lebih Menarik

Must read

EDUCARE.CO.ID – Bagaimana kesenian Bantengan bisa membantu siswa memahami pelajaran Fisika? Empat mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang (UM) menjawab pertanyaan tersebut melalui pengembangan e-modul berbasis kearifan lokal di SMAN 1 Batu.

Mereka mengangkat kesenian tradisional Bantengan sebagai konteks pembelajaran materi momentum dan impuls. Melalui inovasi ini, siswa dapat menghubungkan konsep Fisika dengan fenomena budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Keempat mahasiswa tersebut terdiri atas Adinda Putri Adrylia Ramadani, Febriamanda Kusuma Neng Ayu, Salsabila Moza Ardiningrum, dan Shelliyant Ivana Firjatillah. Khusaini, S.Pd., M.Ed., Ph.D. membimbing tim dalam mengembangkan e-modul sekaligus menjalankan kegiatan pembelajaran.

Tim mahasiswa melaksanakan kegiatan di SMAN 1 Batu pada 15–26 Oktober 2026. Mereka memadukan teknologi digital dan budaya lokal untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual.

Kesenian Bantengan Bantu Siswa Memahami Konsep Fisika

Tim mahasiswa memilih Bantengan karena kesenian tradisional ini tumbuh di Malang dan sejumlah wilayah Jawa Timur. Berbagai gerakan dalam pertunjukan Bantengan dapat menjadi konteks untuk mengenalkan konsep momentum dan impuls.

Melalui pendekatan local wisdom, mahasiswa mengajak siswa melihat hubungan antara teori Fisika dan fenomena di sekitar mereka. Dengan demikian, siswa tidak hanya mempelajari rumus, tetapi juga memahami penerapan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari.

Tim kemudian mengembangkan e-modul digital yang menghubungkan materi momentum dan impuls dengan kesenian Bantengan. Siswa dapat mempelajari penjelasan materi sekaligus mengerjakan aktivitas pembelajaran di dalam modul tersebut.

Pendekatan ini membuka kesempatan bagi siswa untuk memahami Fisika melalui contoh yang lebih dekat dengan lingkungan mereka. Kesenian daerah pun menghadirkan sudut pandang baru dalam kegiatan belajar di kelas.

E-Modul Digital Hadirkan Pengalaman Belajar Berbeda

Penggunaan e-modul tersebut memberikan pengalaman baru bagi siswa SMAN 1 Batu. Mereka dapat melihat bahwa konsep Fisika tidak hanya berkaitan dengan angka, persamaan, dan perhitungan di buku pelajaran.

Salah seorang siswa mengaku lebih mudah menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari melalui contoh kesenian Bantengan.

“Saya jadi tahu kalau Fisika itu sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, melalui Bantengan, saya bisa belajar materi momentum dan impuls dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

Guru Fisika SMAN 1 Batu juga melihat e-modul ini sebagai alternatif bahan ajar yang memanfaatkan teknologi digital. Menurutnya, penggunaan budaya lokal dapat membantu siswa memahami materi melalui contoh yang sudah mereka kenal.

“E-modul ini bisa menjadi alternatif bahan ajar yang memanfaatkan teknologi. Apalagi materi Fisika dikaitkan dengan budaya lokal sehingga siswa bisa belajar melalui konteks yang mereka kenal,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa guru dapat menghubungkan materi sains dengan berbagai fenomena budaya. Cara ini juga membuka peluang bagi sekolah untuk mengembangkan sumber belajar yang lebih beragam.

Inovasi Mahasiswa UM Dukung Pendidikan Berkualitas

Pengembangan e-modul Fisika berbasis kearifan lokal sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Negeri Malang, kegiatan ini menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan pengenalan budaya lokal dalam pembelajaran sains.

Pendekatan tersebut mendukung upaya menghadirkan sumber belajar yang inovatif dan relevan dengan lingkungan siswa. Selain itu, pengenalan Bantengan melalui materi Fisika dapat menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap warisan budaya daerah.

Siswa pun memperoleh dua pengalaman belajar sekaligus. Mereka mempelajari konsep momentum dan impuls, sekaligus mengenal kesenian tradisional yang berkembang di wilayahnya.

Integrasi sains dan budaya juga memperlihatkan bahwa sekolah dapat memanfaatkan kekayaan daerah sebagai sumber pengetahuan. Berbagai tradisi lokal memiliki potensi untuk memperkaya materi pembelajaran di beragam bidang studi.

Dorong Pengembangan Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal

Melalui kegiatan ini, empat mahasiswa Magister Pendidikan Fisika UM menunjukkan bahwa pembelajaran Fisika dapat melampaui penjelasan teori dan rumus. Guru dapat mengajak siswa memahami konsep ilmiah melalui fenomena sosial dan budaya di sekitar mereka.

E-modul Bantengan juga membuka peluang pengembangan bahan ajar kontekstual dengan tema budaya daerah lainnya. Setiap wilayah memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Tim mahasiswa berharap inovasi tersebut dapat menginspirasi pendidik dan mahasiswa lain untuk mengembangkan metode pembelajaran kreatif. Pemanfaatan teknologi digital dan kearifan lokal juga dapat memperkaya pengalaman belajar sekaligus memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda.

Melalui perpaduan sains, teknologi, dan budaya, pembelajaran Fisika dapat terasa lebih relevan bagi siswa. Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia memiliki ruang dalam perkembangan pendidikan modern.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article