EDUCARE.CO.ID – Pembelajaran kimia tidak harus selalu berkutat pada rumus dan simbol yang sulit dipahami siswa. Tim Technochem Learning dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menghadirkan pendekatan berbeda melalui inovasi Ethno-Storytelling Virtual Lab Berbasis Guided Inquiry yang menggabungkan cerita kontekstual, simulasi laboratorium virtual, dan eksplorasi ilmiah.
Inovasi tersebut mengantarkan Technochem Learning menjadi finalis Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 pada divisi Mikro Pengajaran Digital Pendidikan. Tim mengembangkan media ini untuk membantu siswa memahami konsep kimia melalui fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Technochem Learning beranggotakan Dhea Agustina dan Ahmad Nurzaini dari Jurusan Teknologi Pendidikan, serta Aliman dan Berniat Christiani Lase dari Jurusan Pendidikan Kimia. Dalam proses pengembangan produk, keempat mahasiswa tersebut mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Yogo Dwi Prasetyo, S.Pd., M.Pd., M.Sc.
Ubah Konsep Kimia yang Abstrak Menjadi Pengalaman Belajar
Tim Technochem Learning mengembangkan inovasi ini berangkat dari tantangan pembelajaran kimia di sekolah. Siswa kerap kesulitan memahami materi karena pembelajaran lebih banyak menekankan rumus, simbol, dan perhitungan, sementara hubungan antara fenomena yang terlihat dan proses kimia pada tingkat mikroskopik belum selalu tergambarkan dengan baik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengintegrasikan pendekatan etnokimia dengan storytelling. Pendekatan ini menghubungkan konsep kimia dengan budaya dan aktivitas sehari-hari sehingga siswa memiliki gambaran konkret sebelum mempelajari penjelasan ilmiahnya.
Produk Ethno-Storytelling Virtual Lab secara khusus mengangkat materi faktor luas permukaan terhadap laju reaksi kimia. Melalui cerita kontekstual, siswa diajak mengenali fenomena terlebih dahulu, kemudian mengeksplorasi konsep melalui simulasi dan kegiatan penyelidikan.
Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa mengenali konsep kimia, tetapi juga mendorong mereka memahami hubungan antara teori dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Virtual Lab Hadirkan Simulasi Fenomena Sehari-hari
Salah satu komponen utama inovasi Technochem Learning ialah aplikasi Virtual Lab yang dikembangkan secara mandiri menggunakan perangkat lunak Unity. Aplikasi tersebut menghadirkan simulasi berbagai fenomena keseharian untuk membantu siswa memahami faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi kimia.
Tim mengangkat contoh seperti mengunyah obat maag, memotong tahu sebelum menggorengnya, dan proses fermentasi tapai. Fenomena tersebut menjadi titik awal untuk membahas bagaimana luas permukaan berhubungan dengan proses kimia.
Melalui simulasi, siswa dapat mengeksplorasi materi tanpa hanya bergantung pada penjelasan guru atau ilustrasi dalam buku. Media digital ini juga memberi ruang bagi siswa untuk mengamati fenomena dan menghubungkannya dengan konsep yang sedang dipelajari.
Dengan demikian, Virtual Lab berfungsi sebagai sarana eksplorasi ilmiah, bukan sekadar pelengkap visual dalam pembelajaran.
Satukan Materi, E-LKPD, dan Asesmen dalam Satu LMS
Technochem Learning tidak hanya mengembangkan simulasi laboratorium virtual. Tim juga merancang ekosistem pembelajaran digital yang menghubungkan berbagai aktivitas siswa melalui satu Learning Management System (LMS).
Sistem tersebut mencakup presensi, penyampaian materi, eksplorasi melalui aplikasi Virtual Lab, pengerjaan lembar kerja peserta didik elektronik (E-LKPD), hingga asesmen. Integrasi ini membantu menyusun aktivitas pembelajaran secara lebih terarah, mulai dari pengenalan materi sampai evaluasi pemahaman siswa.
Penggunaan guided inquiry atau inkuiri terbimbing menjadi bagian penting dalam rancangan tersebut. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengikuti tahapan penyelidikan dengan arahan yang sesuai.
Siswa diajak mengamati fenomena, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen melalui Virtual Lab, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan. Rangkaian aktivitas tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahaman melalui proses eksplorasi.
Kolaborasi Tim Jadi Kunci Pengembangan Inovasi
Pengembangan media pembelajaran terintegrasi membutuhkan koordinasi yang konsisten. Tim Technochem Learning membagi tanggung jawab secara terstruktur, mulai dari penyusunan laporan dan pengembangan media hingga penyuntingan visual serta pelaksanaan mikropengajaran.
Meski setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing, tim tetap melakukan diskusi dan evaluasi berkala. Langkah ini membantu mereka memastikan setiap komponen, mulai dari cerita pembuka hingga asesmen, memiliki keterkaitan dalam satu alur pembelajaran.
Tim mengakui bahwa tantangan terbesarnya terletak pada proses menyatukan cerita, materi kimia, simulasi virtual, LKPD digital, video pembelajaran, dan aktivitas belajar lainnya. Mereka juga menghadapi kendala teknis ketika menyesuaikan aplikasi serta tampilan media.
Untuk mengatasinya, tim mengandalkan pembagian tugas yang jelas, koordinasi rutin, dan serangkaian uji coba. Evaluasi tersebut membantu mereka menyempurnakan produk agar setiap fitur dapat mendukung tujuan pembelajaran secara terpadu.
Dosen Pembimbing Tekankan Fungsi Teknologi dalam Pembelajaran
Dosen pembimbing Yogo Dwi Prasetyo menekankan bahwa pengembangan inovasi pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan media yang menarik secara visual. Mahasiswa juga perlu memastikan teknologi yang mereka gunakan mampu menjawab kebutuhan belajar dan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.
Pendampingan selama proses pengembangan pun tidak hanya berfokus pada produk akhir. Mahasiswa perlu memahami alasan di balik pemilihan pendekatan, merancang aktivitas yang sesuai dengan materi, dan mengevaluasi efektivitas setiap komponen pembelajaran.
Prinsip tersebut menjadi penting dalam pengembangan media digital. Teknologi seharusnya membantu siswa memahami materi, mengeksplorasi konsep, dan membangun keterampilan berpikir, bukan sekadar menghadirkan pengalaman visual yang menarik.
Melalui kombinasi ethno-storytelling, Virtual Lab, dan guided inquiry, Technochem Learning berupaya menghadirkan pembelajaran kimia yang lebih kontekstual sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk aktif membangun pemahaman.
Finalis LIDM 2026 Jadi Langkah untuk Pengembangan Lebih Luas
Keberhasilan Technochem Learning menembus final LIDM 2026 menunjukkan upaya mahasiswa ULM dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi yang berangkat dari kebutuhan siswa.
Tim berharap dapat terus menyempurnakan Ethno-Storytelling Virtual Lab agar pemanfaatannya semakin luas dalam pembelajaran kimia. Mereka juga ingin inovasi tersebut mendorong mahasiswa lain untuk mengembangkan solusi pendidikan yang kreatif, relevan, dan memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Lambung Mangkurat, pengembangan produk ini berfokus pada integrasi cerita kontekstual, laboratorium virtual, dan inkuiri terbimbing untuk membantu siswa memahami konsep laju reaksi kimia. Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam menghubungkan teknologi digital dengan kebutuhan nyata pembelajaran di sekolah.
Melalui pendekatan yang menggabungkan konteks kehidupan sehari-hari dan eksplorasi ilmiah, Technochem Learning memperlihatkan bahwa inovasi digital dapat membuka alternatif pembelajaran kimia yang lebih interaktif dan bermakna bagi siswa.

