EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu membawa pulang sejumlah penghargaan dari dua ajang riset di Provinsi Riau. Mereka memperkenalkan inovasi penyelamatan pangan berbasis wakaf digital, tinta spidol dari limbah biji salak, hingga konsep teknologi finansial syariah untuk mendukung UMKM hijau.
Delegasi UIN FAS meraih berbagai penghargaan dalam KaSEIVENT 9.0 Universitas Riau (UNRI) dan Pekan Riset Internasional (PRI) UIN Sultan Syarif Kasim (SUSKA) Riau pada 28–31 Oktober 2026.
Ketiga inovasi tersebut mengangkat persoalan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Tim mahasiswa menggabungkan teknologi digital, ekonomi syariah, dan prinsip keberlanjutan untuk menawarkan solusi di bidang pangan, lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi.
SisaRasa Ubah Surplus Makanan Menjadi Peluang Wakaf Digital
Tim pertama menghadirkan SisaRasa, sebuah gagasan pemanfaatan wakaf digital untuk membantu mengurangi limbah makanan. Hasta Tiara, Amelia Lupika Amanda, dan Ghina Zakiyah Qonitah mengembangkan konsep ini dengan menghubungkan teknologi digital dan instrumen wakaf.
Dalam KaSEIVENT 9.0 UNRI, mereka mempresentasikan karya ilmiah berjudul “SisaRasa Waqf: Model Wakaf Pangan Digital Berbasis Cash Waqf Linked Rescue Food”.
Karya tersebut masuk subtema “Muafakat Wakaf Digital: Menggagas Buah Fikiran, Menulis Ikhtiar demi Kemaslahatan Ummah”. Tim berhasil meraih Medali Emas Best Paper Kategori Digitalisasi Wakaf serta Juara Harapan II Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional.
Tim kemudian mengembangkan gagasan tersebut menjadi rancangan bisnis digital untuk ajang internasional di UIN SUSKA Riau. Mereka mengusung karya berjudul “SisaRasa: Aplikasi FoodTech Marketplace Dua Sisi untuk Penyelamatan Makanan Layak Konsumsi di Ekosistem Kampus”.
Melalui karya tersebut, tim meraih Juara Harapan II Lomba Business Plan Internasional.
SisaRasa mengusung konsep two-sided marketplace yang mempertemukan kantin kampus dengan mahasiswa. Platform ini dirancang untuk menyalurkan makanan surplus yang masih layak konsumsi, higienis, dan halal.
Pengguna nantinya dapat membeli makanan tersebut melalui paket bernama “Rescue Bag”. Tim merancang potongan harga sebesar 30–70 persen agar mahasiswa memperoleh pilihan makanan dengan harga lebih terjangkau.
Sementara itu, instrumen wakaf tunai menjadi salah satu rencana pendukung operasional platform. Melalui konsep ini, tim ingin menggabungkan upaya penyelamatan pangan dengan pemberdayaan ekonomi berbasis wakaf digital.
TIDOBILAK Olah Limbah Biji Salak Menjadi Tinta Spidol
Inovasi kedua datang dari tim Ar-Rasyidah Innovator di bawah naungan KSEI SEM-C. Mereka mengembangkan TIDOBILAK atau Tinta Spidol dari Biji Salak sebagai alternatif berbahan limbah organik.
Tim ini terdiri atas Nidia Albarida dan Alda Andira Safitri dari Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta Fatima Gena Azzarah dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Tadris (FTT).
Melalui karya ilmiah berjudul “TIDOBILAK: Driving Circular Economy and Transparent Eco-Education Via Salacca-Net Platform”, mereka meraih Medali Perak Lomba Esai Internasional di UIN SUSKA Riau.
Gagasan TIDOBILAK berangkat dari perhatian terhadap limbah biji salak dan potensi dampak lingkungan tinta spidol konvensional. Tim ingin memanfaatkan bahan yang selama ini kurang bernilai menjadi produk alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dalam proses pengembangannya, tim mengolah biji salak melalui pirolisis pada suhu 300–400 derajat Celsius. Proses tersebut menghasilkan karbon mikro yang kemudian mereka padukan dengan pengikat alami berupa gum arab dari pohon Acacia senegal.
Tim juga mengintegrasikan inovasi ini dengan platform digital Salacca-Net. Berdasarkan data pengujian yang disampaikan tim, produk tersebut memenuhi parameter SNI 06-1567-1999, termasuk ketentuan pH netral.
Keterlibatan mahasiswa dari dua program studi berbeda memperlihatkan pendekatan lintas disiplin dalam pengembangan produk. Tim memadukan pengetahuan ekonomi syariah, pendidikan agama, teknologi pengolahan bahan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Meski demikian, pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan pengujian menyeluruh terhadap keamanan bahan, performa tinta, dan dampak lingkungannya sebelum produk dapat digunakan secara luas.
Berdasarkan sumber laman resmi UIN FAS Bengkulu mengenai prestasi delegasi mahasiswa dalam KaSEIVENT 9.0 dan Pekan Riset Internasional UIN SUSKA Riau, SisaRasa, TIDOBILAK, dan ECO-WAQF PLAY menjadi tiga gagasan yang mengangkat isu pangan, lingkungan, serta ekonomi berkelanjutan. Masing-masing tim memperoleh penghargaan melalui kategori kompetisi yang berbeda.
ECO-WAQF PLAY Tawarkan Fintech Syariah untuk UMKM Hijau
Selain SisaRasa dan TIDOBILAK, mahasiswa UIN FAS juga memperkenalkan ECO-WAQF PLAY. Inovasi ini mengangkat pemanfaatan teknologi finansial syariah dan blockchain untuk mendukung pengembangan UMKM hijau.
Tim pengembangnya terdiri atas Nidia Albarida, Alda Andira Safitri, dan Heri Susanto. Mereka mengikuti KaSEIVENT 9.0 UNRI melalui karya berjudul “ECO-WAQF PLAY: Transformasi Fintech Syariah Berbasis Blockchain Guna Akselerasi UMKM Hijau dalam Mewujudkan Sustainable Tourism Kota Bengkulu”.
Gagasan tersebut meraih Medali Emas Best Paper Kategori Fintech Syariah.
Melalui ECO-WAQF PLAY, tim menawarkan konsep pemanfaatan blockchain dan fintech syariah untuk mendukung aktivitas UMKM yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Mereka juga mengaitkan konsep tersebut dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kota Bengkulu.
Inovasi ini memperluas cakupan riset mahasiswa UIN FAS. Selain membahas pengelolaan pangan dan pemanfaatan limbah, mahasiswa juga mengeksplorasi peran teknologi keuangan dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Dosen Pendamping Apresiasi Inovasi Mahasiswa UIN FAS
Dosen pendamping sekaligus Pembina KSEI SEM-C, Khairiah Elwardah, M.Ag., mengapresiasi capaian para mahasiswa. Menurutnya, ketiga inovasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab persoalan di masyarakat.
“Aplikasi SisaRasa dan produk TIDOBILAK adalah bukti nyata bahwa mahasiswa UIN FAS Bengkulu mampu berkolaborasi secara lintas keilmuan untuk melahirkan riset tingkat tinggi yang aplikatif dan memberikan jawaban langsung atas problem pangan serta limbah di masyarakat,” ungkap Khairiah.
Ia juga menyoroti peluang pengembangan wakaf digital sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat memperluas fungsi wakaf untuk mendukung berbagai kebutuhan sosial dan ekonomi.
“Lebih dari sekadar solusi limbah, karya-karya ini menjadi sumbangsih pemikiran besar bagi masa depan transformasi wakaf digital di Indonesia. Kita berhasil membuktikan bahwa instrumen wakaf jika dikawinkan dengan teknologi seperti blockchain dan konsep circular economy, mampu menjadi motor penggerak ketahanan pangan dan kesejahteraan umat secara transparan,” tegasnya.
Prestasi Mahasiswa Perkuat Ekosistem Riset UIN FAS
Rangkaian penghargaan di Riau memperlihatkan keragaman tema riset yang dikembangkan mahasiswa UIN FAS Bengkulu. Mereka tidak hanya mengangkat gagasan berbasis teknologi, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
SisaRasa menawarkan konsep penyelamatan makanan melalui wakaf digital. TIDOBILAK mengeksplorasi pemanfaatan limbah biji salak sebagai bahan tinta spidol. Sementara itu, ECO-WAQF PLAY mengembangkan gagasan fintech syariah untuk mendukung UMKM hijau dan pariwisata berkelanjutan.
Ketiga inovasi tersebut menunjukkan ruang kolaborasi antara ekonomi syariah, teknologi, dan prinsip ekonomi sirkular. Ke depan, pengembangan gagasan-gagasan ini membutuhkan pengujian, penyempurnaan, serta penerapan agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Capaian tersebut sekaligus menambah kontribusi mahasiswa UIN FAS Bengkulu dalam kompetisi riset nasional dan internasional. Kampus berharap prestasi ini mendorong lahirnya lebih banyak penelitian kreatif yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

