EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) UGM meraih Juara 2 cabang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam Informatics Competition and Innovation Lab (ICONLAB) 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Tim tersebut beranggotakan Hammam Abdullah, Kevin Kurniawan Cahyadi, dan Ahdania Aurora. Mereka mengangkat inovasi teknologi kesehatan yang berfokus pada deteksi dini stunting melalui sampel air liur atau saliva.
Karya ilmiah berjudul “Integrasi Biosensor SERS Berbasis Biomarker Saliva (IGF-1 & Ghrelin) sebagai Sistem Deteksi Dini Stunting Noninvasif di Era Society 5.0” menjadi andalan tim untuk bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Tawarkan Deteksi Dini Stunting Lewat Sampel Air Liur
Gagasan yang dibawa mahasiswa DTETI UGM berangkat dari kebutuhan akan metode deteksi stunting yang lebih nyaman dan minim invasif. Mereka mengusulkan integrasi teknologi Surface-Enhanced Raman Spectroscopy (SERS) dengan biomarker dalam saliva, yakni IGF-1 dan ghrelin.
Kedua biomarker tersebut berkaitan dengan proses pertumbuhan dan regulasi metabolisme tubuh. Melalui pendekatan biosensor, tim mengembangkan gagasan pemanfaatan indikator biologis tersebut untuk mendukung deteksi dini risiko stunting.
Berbeda dari metode yang memerlukan pengambilan sampel darah, pendekatan berbasis saliva berpotensi menawarkan proses pengambilan sampel yang lebih sederhana dan nyaman. Meski demikian, penerapannya sebagai alat skrining stunting tetap memerlukan penelitian dan validasi klinis lebih lanjut.
Berdasarkan sumber laman resmi Fakultas Teknik UGM, karya tersebut menjadi upaya mahasiswa untuk menghubungkan riset teknologi dengan persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius di Indonesia.
Lolos Grand Final ICONLAB 2026 di UNNES
Prestasi Juara 2 itu diraih setelah tim melewati rangkaian seleksi dan penilaian hingga mencapai babak Grand Final. Kompetisi final berlangsung secara luring di kampus Universitas Negeri Semarang pada 23 Mei 2026.
Pada tahap tersebut, Hammam, Kevin, dan Ahdania mempresentasikan karya ilmiah mereka di hadapan dewan juri. Mereka memaparkan gagasan pengembangan biosensor serta potensi pemanfaatannya untuk mendukung deteksi dini stunting.
Persaingan dalam ICONLAB 2026 memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji gagasan, menyusun argumentasi ilmiah, dan menjelaskan relevansi inovasi yang mereka tawarkan. Capaian tim UGM sekaligus menunjukkan bahwa persoalan kesehatan dapat menjadi ruang pengembangan riset lintas disiplin, termasuk melalui teknologi informatika dan rekayasa.
ICONLAB 2026 Hadirkan Workshop AI dan Technopreneur
Selain kompetisi karya ilmiah, ICONLAB 2026 menghadirkan agenda pengembangan wawasan melalui workshop bertajuk Artificial Intelligence Engineering and Technopreneur 5.0.
Kegiatan tersebut membahas perkembangan kecerdasan buatan serta peluang pengembangan inovasi teknologi. Materi ini relevan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan gagasan akademik menjadi solusi yang memiliki manfaat lebih luas.
Bagi tim DTETI UGM, keikutsertaan dalam ICONLAB tidak hanya menjadi kesempatan untuk meraih penghargaan. Kompetisi ini juga membuka ruang untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan mempelajari pendekatan inovasi dari mahasiswa perguruan tinggi lain.
Prestasi Mahasiswa UGM Dorong Inovasi untuk Masyarakat
Raihan Juara 2 ICONLAB 2026 memperlihatkan upaya mahasiswa dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan di masyarakat. Melalui gagasan deteksi dini stunting berbasis biosensor saliva, tim DTETI UGM mengangkat potensi riset teknologi dalam mendukung bidang kesehatan.
Inovasi tersebut masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalam layanan kesehatan. Namun, gagasan ini menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat membuka peluang pendekatan baru terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Prestasi Hammam Abdullah, Kevin Kurniawan Cahyadi, dan Ahdania Aurora juga menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan ide melalui riset, kolaborasi, dan kompetisi ilmiah. Dengan proses penelitian yang kuat, gagasan di lingkungan kampus dapat berkembang menjadi inovasi yang berpotensi memberi manfaat nyata.

