EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan alat pencuci telur semi otomatis untuk membantu proses produksi UMKM Telur Asin “1001” di Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Kelompok 55 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB membawa inovasi tersebut ke UMKM.
Tim memperkenalkan alat itu sebagai teknologi tepat guna untuk mempercepat proses pencucian telur. Inovasi tersebut juga membantu mengurangi beban tenaga kerja saat produksi meningkat.
Cuci Telur Manual Masih Membutuhkan Banyak Tenaga
Sebelum menggunakan alat tersebut, pekerja UMKM Telur Asin “1001” mencuci telur secara manual.
Pekerja membersihkan telur satu per satu dengan tangan. Mereka menggunakan spons atau busa pencuci untuk menggosok permukaan cangkang.
Cara tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Beban kerja juga meningkat ketika jumlah telur yang harus dicuci bertambah.
Pekerja pun harus berulang kali bersentuhan dengan air dan bahan pembersih selama proses berlangsung.
Kondisi itu mendorong mahasiswa UB mencari solusi yang dapat membantu mitra bekerja lebih efisien.
Alat Gunakan Roller Sikat dan Motor Listrik
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Brawijaya, Program 3M FTAB UB memperoleh alat pencuci telur tersebut melalui jalur pengadaan resmi dari mitra rekanan panitia, AJ Bengkel.
Alat menggunakan roller sikat yang bergerak dengan bantuan motor listrik.
Sistem distribusi air juga membantu proses pencucian. Ketika telur melewati bagian pencucian, roller sikat membersihkan permukaan cangkang.
Mekanisme tersebut memungkinkan pekerja mencuci beberapa telur secara bersamaan. Pekerja tidak perlu lagi menggosok telur satu per satu dengan tangan.
Rancangan alat memiliki kapasitas sekitar 10 butir telur dalam satu batch.
Setiap batch membutuhkan waktu pencucian sekitar 3–4 menit.
Kapasitas tersebut memberi alternatif bagi UMKM untuk menangani pencucian telur dengan waktu yang lebih terukur.
Mahasiswa Uji Alat Langsung di UMKM
Kelompok 55 menjalankan penerapan alat melalui beberapa tahapan.
Mahasiswa terlebih dahulu melakukan survei dan berkoordinasi dengan pihak UMKM. Mereka kemudian menyiapkan alat sebelum memasuki tahap instalasi.
Setelah instalasi selesai, mahasiswa memeriksa kondisi alat. Mereka juga melakukan uji coba menggunakan telur milik UMKM Telur Asin “1001”.
Tim kemudian memberikan sosialisasi kepada pekerja. Materi sosialisasi mencakup cara mengoperasikan alat dan melakukan perawatan.
Pihak UMKM juga mencoba alat secara langsung. Mahasiswa mendampingi proses tersebut agar pekerja memahami setiap tahapan penggunaan.
Pemilik UMKM Nilai Proses Cuci Lebih Ringan
Pemilik UMKM Telur Asin “1001”, Listyoningsih, menyambut baik penggunaan alat pencuci telur tersebut.
Menurutnya, alat itu membantu mengurangi pekerjaan manual yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
“Kami sangat senang dengan adanya alat ini karena proses mencuci telur menjadi lebih mudah. Sebelumnya telur harus digosok satu per satu, sekarang dengan adanya alat ini pekerjaan menjadi lebih ringan dan tidak terlalu menguras waktu dan tenaga,” ujar Listyoningsih.
Penggunaan alat tersebut juga memberi kesempatan bagi pekerja untuk mengalokasikan tenaga pada tahapan produksi lainnya.
Dosen Dorong Pemanfaatan Alat Berkelanjutan
Dosen Pembimbing Lapangan, Ubaidillah, S.TP., M.Si., berharap inovasi tersebut terus memberikan manfaat bagi UMKM.
Ia juga meminta mitra tetap berkomunikasi dengan tim apabila menghadapi kendala saat menggunakan alat.
“Kalau ke depannya Ibu memiliki keluhan atau menemukan kendala dalam penggunaan alat, silakan disampaikan kepada kami. Kami akan berusaha membantu dan mencari solusi bersama agar alat ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan,” ujar Ubaidillah.
Pendampingan tersebut penting untuk memastikan UMKM dapat menggunakan alat secara optimal dalam kegiatan produksi sehari-hari.
Komunikasi lanjutan juga dapat membantu mahasiswa dan mitra menemukan kebutuhan pengembangan alat pada masa mendatang.
15 Mahasiswa Bergabung dalam Kelompok 55
Kelompok 55 Program 3M FTAB UB terdiri dari Mochammad Danish Al Fachrudin, Nakata Tristan Akiko, Annisa Nurul Hidayah, Muhammad Naufal Abdalla, Kathleen Lauren Wahyudo, Laura Anabella Nalsalisa, Abiawan Dasa Abdinata, Natalia Clarisa Clara Belinda, Dwi Nur Rochman Satya Putra, Rheino Guizha Azzaro, Muhammad Ryan Wildan, Nabila Salsa Devanti, Muhammad Fathur Kanazakia, Keysa Alya Lestari Atmaja, dan Gerald Efraim Pangapul Rajagukguk.
Dosen Ubaidillah, S.TP., M.Si. dan Putri Setiani, S.T., M.E.S., Ph.D. membimbing kelompok tersebut.
Kegiatan ini juga memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa. Mereka mengidentifikasi masalah di lapangan, mencari solusi teknologi, mendampingi mitra, lalu mengevaluasi penerapannya.
Teknologi Tepat Guna Bantu UMKM
Penerapan alat pencuci telur semi otomatis menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menerapkan ilmu perkuliahan untuk menjawab kebutuhan UMKM.
Teknologi sederhana dapat memberi dampak langsung ketika mahasiswa merancang penerapannya sesuai kondisi mitra.
Ke depan, mahasiswa dan UMKM Telur Asin “1001” akan menjaga komunikasi untuk memantau penggunaan alat.
Jika muncul kendala atau kebutuhan baru, kedua pihak dapat membahas solusi dan pengembangan berikutnya.
Melalui Program 3M, mahasiswa UB tidak hanya belajar di lingkungan kampus. Mereka juga mendapat pengalaman menghadapi persoalan produksi secara langsung dan membantu UMKM meningkatkan efisiensi kerja.
Penulis: Andini Namira Saskirana

