EDUCARE.CO.ID – Empat mahasiswa Telkom University Purwokerto mengembangkan AeroCast, konsep smart inhaler berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu penderita asma memantau penggunaan obat dan mengenali potensi risiko serangan. Inovasi yang memadukan Internet of Things (IoT), AI, dan sensor lingkungan ini berhasil mengantarkan tim pengembang meraih Juara 1 dalam sebuah kompetisi.
AeroCast lahir dari perhatian mahasiswa terhadap tantangan penderita asma saat beraktivitas di lingkungan dengan kualitas udara yang kurang baik. Paparan kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi perhatian bagi penderita asma. Karena itu, tim ingin mengembangkan perangkat yang tidak hanya membantu penggunaan inhaler, tetapi juga menyediakan informasi pendukung terkait pola pemakaian dan kondisi lingkungan sekitar.
Empat mahasiswa yang mengembangkan AeroCast terdiri atas Nuzul Nada, Rosa Azmil, Inanda Maulia, dan Muhammad Nazmi Al Faiz. Mereka menggabungkan sejumlah teknologi digital dalam satu rancangan perangkat kesehatan yang memungkinkan pengguna memantau aktivitas penggunaan inhaler secara lebih praktis.
AeroCast Gabungkan IoT, AI, dan Sensor Lingkungan
AeroCast mengandalkan tiga komponen teknologi utama, yakni IoT, AI, dan sensor lingkungan. Ketiganya memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam mengumpulkan, menghubungkan, dan mengolah data.
IoT memungkinkan perangkat terhubung dengan sensor lingkungan. Sensor tersebut mengumpulkan informasi kondisi sekitar pengguna. Selanjutnya, sistem AI mengolah data yang tersedia bersama informasi penggunaan inhaler untuk menghasilkan analisis pendukung.
Ketua tim pengembang, Muhammad Nazmi Al Faiz, menjelaskan bahwa rancangan AeroCast memungkinkan penderita asma memantau penggunaan inhaler secara digital. Sistem ini juga membuka peluang bagi tenaga kesehatan atau pihak berwenang untuk mengakses data sesuai mekanisme dan hak akses yang nantinya diterapkan.
Dalam konsep operasionalnya, AeroCast mencatat aliran udara ketika pengguna menghirup melalui inhaler. Sistem mengamati sejumlah parameter, seperti kecepatan dan frekuensi hisapan. Model AI kemudian mengolah data tersebut untuk membantu mengenali pola penggunaan inhaler.
Tim merancang sistem agar dapat mengirimkan informasi ke perangkat pengguna. Selain itu, layar pada bagian depan inhaler akan menampilkan sejumlah indikator sehingga pengguna dapat melihat informasi pemakaian dengan lebih mudah.
Melalui integrasi tersebut, AeroCast tidak sekadar mencatat frekuensi penggunaan obat. Tim juga ingin menghubungkan data pemakaian inhaler dengan informasi lingkungan untuk mengembangkan sistem pemantauan yang lebih menyeluruh.
Dilengkapi Canister yang Dapat Diganti dan Layar Informasi
Selain menggabungkan teknologi digital, tim merancang AeroCast dengan sejumlah fitur untuk mendukung penggunaan sehari-hari. Salah satunya adalah replaceable canister, yaitu tabung obat jenis metered-dose inhaler (MDI) yang dapat pengguna ganti ketika persediaannya habis atau membutuhkan penggantian.
Tim juga menempatkan layar pada bagian depan perangkat. Layar tersebut dirancang untuk menampilkan indikator yang berkaitan dengan penggunaan inhaler dan informasi hasil pemantauan.
Kombinasi fitur itu menjadi bagian dari konsep pengembangan AeroCast. Jika inhaler konvensional terutama berfungsi menyalurkan obat, tim ingin menambahkan kemampuan pemantauan digital melalui perangkat yang sama.
Meski demikian, keunggulan dan manfaat fitur tersebut masih membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Tim perlu menguji fungsi perangkat, ketepatan pembacaan sensor, serta kemampuan sistem dalam mengolah data sebelum dapat menilai kinerjanya dalam penggunaan sehari-hari.
Kembangkan AeroCast Sejak September 2026
Tim mulai mengembangkan gagasan AeroCast sekitar 20 September 2026. Keempat anggota membagi tugas sesuai kebutuhan proyek, mulai dari perancangan model inhaler, pembuatan desain poster, hingga riset literatur sebagai landasan pengembangan konsep.
Pembagian tanggung jawab membantu setiap anggota berfokus pada bagian pekerjaan masing-masing. Namun, mereka tetap saling membantu untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan selama proses pengembangan.
Berdasarkan sumber laman resmi Telkom University Purwokerto, tim menerima pengumuman penghargaan pada 12 Oktober 2026. Capaian tersebut menjadi hasil dari proses pengembangan konsep yang menggabungkan rekayasa perangkat, pengolahan data, dan kecerdasan buatan.
Prestasi ini juga memperlihatkan upaya mahasiswa dalam mengeksplorasi pemanfaatan teknologi digital untuk menjawab persoalan di bidang kesehatan.
Masih Gunakan Dataset Digital, Belum Jalani Uji In Vivo
Meski membawa konsep pemantauan dan prediksi risiko serangan asma, AeroCast masih berada pada tahap pengembangan awal. Tim belum melakukan pengujian in vivo atau pengujian pada organisme hidup.
Sebagai gantinya, mereka menggunakan dataset digital yang tersedia secara daring untuk melakukan pengujian awal. Tim juga merujuk literatur ilmiah yang relevan dalam proses analisis.
Kondisi tersebut membuat kemampuan AeroCast dalam mengenali potensi serangan asma belum dapat dianggap sebagai hasil yang tervalidasi secara klinis. Tim masih perlu melakukan pengujian teknis dan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui ketepatan sensor serta kemampuan model AI dalam membaca pola data.
Validasi menjadi tahap penting karena sistem yang berkaitan dengan pemantauan risiko kesehatan membutuhkan tingkat akurasi dan keandalan yang memadai. Tim perlu memastikan bahwa data penggunaan inhaler dan kondisi lingkungan benar-benar dapat mendukung analisis secara tepat.
Berpeluang Dikembangkan Menjadi Perangkat Fisik
Ke depan, tim belum menetapkan tahapan pengembangan lanjutan secara terperinci. Namun, Muhammad Nazmi Al Faiz menyampaikan bahwa peluang untuk merealisasikan AeroCast dalam bentuk perangkat fisik tetap terbuka.
Ia berharap inovasi tersebut dapat membantu penderita asma memperoleh informasi mengenai penggunaan inhaler selama menjalani aktivitas sehari-hari. Sistem pemantauan digital juga berpotensi memudahkan pengguna meninjau pola pemakaian, sekaligus membuka ruang pemantauan oleh tenaga kesehatan atau pihak berwenang sesuai ketentuan akses yang berlaku.
Pengembangan AeroCast menjadi salah satu bentuk eksplorasi mahasiswa Telkom University Purwokerto dalam memanfaatkan teknologi AI dan IoT di bidang kesehatan. Inovasi ini menggabungkan perangkat medis, sensor, dan pengolahan data dalam satu konsep yang berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Namun, perjalanan AeroCast masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum dapat digunakan secara luas. Pembuatan perangkat fisik, pengujian sensor, evaluasi model AI, serta validasi keamanan dan manfaat akan menentukan sejauh mana konsep tersebut dapat diterapkan.
Capaian Juara 1 menjadi awal bagi tim untuk membawa AeroCast ke tahap pengembangan berikutnya. Dengan pengujian dan penyempurnaan yang memadai, inovasi ini berpeluang menjadi salah satu alternatif teknologi pendukung pemantauan penggunaan inhaler bagi penderita asma.

