EDUCARE.CO.ID – Inovasi kalung pintar untuk membantu penanganan bencana mengantarkan mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) meraih Juara II dalam kompetisi internasional. Tim tersebut membawa karya bernama JAGA dalam Disaster Futuristic Idea Competition – USK Global Award on Disaster Resilience 4.0 di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, pada 15–17 Oktober 2026.
JAGA menggabungkan kalung pintar (JAGA Necklace) dengan aplikasi pemantauan dan koordinasi penyelamatan (JAGA App). Tim merancang teknologi ini untuk mendukung peringatan dini, mempercepat respons darurat, dan membantu proses evakuasi.
Inovasi tersebut juga memperhatikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Melalui perangkat pintar dan sistem digital, tim ingin membantu petugas mengoordinasikan penyelamatan secara lebih terarah.
Kalung Pintar JAGA Hadirkan Peringatan Darurat
JAGA Necklace menjadi salah satu komponen utama dalam sistem ini. Pengguna dapat mengenakan kalung tersebut untuk menerima peringatan melalui getaran dan suara ketika menghadapi situasi berbahaya.
Perangkat ini juga menyediakan tombol darurat. Pengguna dapat menekan tombol tersebut untuk mengirimkan sinyal SOS saat membutuhkan pertolongan.
Sementara itu, JAGA App menghubungkan perangkat dengan sistem pemantauan digital. Tim mengembangkan aplikasi tersebut bersama web dashboard untuk membantu petugas memantau lokasi pengguna secara real-time.
Informasi koordinat dapat membantu tim penyelamat menentukan arah penanganan dan menyusun langkah evakuasi. Namun, pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan akurasi pelacakan dan keandalan perangkat dalam berbagai kondisi bencana.
Tiga Mahasiswa PNL Satukan Keahlian Teknologi
Tim JAGA terdiri atas tiga mahasiswa dari dua program studi dan bidang keahlian yang saling melengkapi. Mereka menggabungkan kemampuan rekayasa perangkat keras, pengembangan aplikasi, dan manajemen proyek untuk membangun prototipe.
Berikut susunan tim pengembang JAGA:
- Raihan Saputra — mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika, Jurusan Teknik Elektro. Ia memimpin tim sekaligus menangani perangkat keras sebagai Hardware Engineer.
- Nazril Kanahaya Akbar — mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Ia mengelola proyek sebagai Project Manager.
- Yuli Mulia Dinah — mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Jurusan TIK. Ia mengembangkan aplikasi sebagai Application Developer.
Kolaborasi ketiganya menyatukan perangkat fisik dan sistem digital dalam satu prototipe. Perpaduan kompetensi tersebut membantu tim merancang solusi yang mengacu pada kebutuhan penanganan bencana.
PNL Apresiasi Inovasi Mahasiswa di Tingkat Internasional
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni PNL, Ir. Syukri, S.T., M.T., mengapresiasi pencapaian tim JAGA. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan teknologi yang mengutamakan manfaat sosial.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PNL memiliki kompetensi, kreativitas, dan kemampuan berinovasi yang mampu bersaing pada level internasional. Capaian tersebut sejalan dengan visi PNL untuk menjadi institusi pendidikan vokasi yang berdaya saing global, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kampus mampu menjawab tantangan nyata masyarakat,” ujar Syukri.
Ia menilai mahasiswa perlu melampaui pencapaian berupa penghargaan. Mereka juga perlu menghasilkan karya yang relevan, adaptif, dan mampu menjawab persoalan kemanusiaan.
Karena itu, PNL terus mendorong riset terapan, kolaborasi lintas disiplin, dan pengembangan inovasi mahasiswa. Kampus berharap upaya tersebut dapat melahirkan solusi yang bermanfaat serta memiliki peluang penerapan di masyarakat.
Tim Kembangkan Prototipe JAGA dalam Satu Minggu
Dosen pembimbing tim, Salahuddin, S.ST., M.T., dari Jurusan Teknik Elektro PNL, menyoroti peran kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan JAGA. Menurutnya, tim berhasil menyatukan rekayasa teknologi dengan kebutuhan sistem tanggap darurat.
Ia juga melihat sejumlah aspek yang perlu tim kembangkan lebih lanjut. Aspek tersebut mencakup keandalan perangkat, akurasi pelacakan lokasi, dan integrasi teknologi komunikasi. Pengujian pada berbagai skenario bencana dapat membantu tim menilai kemampuan sistem secara lebih menyeluruh.
Ketua tim, Raihan Saputra, mengungkapkan bahwa waktu persiapan menjadi tantangan tersendiri. Timnya hanya memiliki sekitar satu minggu untuk merancang prototipe fisik sekaligus membangun aplikasi yang terintegrasi.
“Kami harus merancang dan menyelesaikan prototipe fisik beserta aplikasinya hanya dalam waktu satu minggu. Bahkan, karya baru berhasil kami kirimkan beberapa jam sebelum batas akhir pendaftaran ditutup,” ungkap Raihan.
Meski menghadapi tenggat yang singkat, tim berhasil mengintegrasikan kalung pintar dengan aplikasi. Mereka juga memperagakan fungsi prototipe secara langsung di hadapan dewan juri.
Pengalaman tersebut memperluas wawasan tim dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi. Sebelumnya, mereka pernah mengikuti ajang U-DARE pada kategori Short Movie. Kali ini, mereka kembali berkompetisi dengan membawa inovasi di bidang mitigasi bencana.
“Bagi saya pribadi, pengalaman ini kembali meyakinkan saya pada satu hal. Saya yakin, berani mencoba adalah langkah awal untuk mencapai sesuatu yang jauh lebih besar dan sering kali tak disangka-sangka,” pungkas Raihan.
Kalung Pintar JAGA Berpeluang Dukung Keselamatan Masyarakat
Raihan berharap timnya dapat terus menyempurnakan JAGA agar teknologi tersebut semakin andal dan memberi manfaat nyata. Tim perlu menguji kinerja kalung pintar, ketepatan pelacakan lokasi, serta kemampuan aplikasi dalam mendukung koordinasi penyelamatan.
Berdasarkan sumber laman resmi Politeknik Negeri Lhokseumawe, inovasi ini memadukan perangkat wearable dan aplikasi digital untuk mendukung peringatan dini serta koordinasi evakuasi. Pengujian lanjutan akan membantu tim menilai kesiapan teknologi tersebut dalam situasi kebencanaan.
Prestasi di USK Global Award on Disaster Resilience 4.0 menambah kiprah mahasiswa PNL dalam pengembangan teknologi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Melalui riset terapan dan kolaborasi lintas bidang, tim berharap JAGA dapat berkembang menjadi solusi mitigasi bencana yang inklusif dan berkelanjutan.

