Kolaborasi UI-NUS Soroti Krisis Karbon dan Perubahan Iklim yang Ancam Budaya Lokal

EduJurnal EduNews

EDUCARE.CO.ID, Depok – Universitas Indonesia (UI) dan National University of Singapore (NUS) berkolaborasi dalam acara “Sustainability Day: Sustaining Carbon, Sustaining Life” di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI. Acara yang digelar pada Kamis (8/10) ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang dampak emisi karbon terhadap perubahan iklim, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi karbon, terbukti dari peringkat ke-42 pada Climate Change Performance Index yang menunjukkan performa perlindungan iklim yang rendah.

Tanggung Jawab Kolektif dan Batas Waktu Kritis

Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan UI, Nurul Isnaeni, Ph.D., menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan komitmen global untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologis. Ia menekankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan; tanpa kesadaran kolektif, konsep sustainability hanya akan menjadi kata-kata manis tanpa tindakan nyata.

Ari Mochamad dari Climate and Energy Lead at World Wide Fund for Nature Indonesia menyoroti bahwa dunia sedang berpacu dengan waktu. Ia mengingatkan target global untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat Celcius, karena kenaikan 2 derajat Celcius dapat berarti bencana, terutama bagi negara-negara kepulauan kecil. Solusinya adalah melalui mitigasi (menekan sumber emisi) dan adaptasi (menyesuaikan diri dengan perubahan).

Ancaman Perubahan Iklim pada Budaya Lokal

Isu perubahan iklim memiliki dampak yang kompleks dan meluas hingga ke akar budaya, bukan hanya sekadar soal cuaca. Alfath Alima Hakim dari Energy Advisor at Energy Management Investment B.V. memberikan contoh dari Sumba. Kelangkaan alang-alang akibat perubahan iklim memaksa masyarakat beralih ke material modern, yang mengancam warisan budaya lokal.

Oleh karena itu, transisi energi harus berbasis dan memberdayakan masyarakat agar ketahanan energi juga mampu membangun ketahanan sosial. Sebagai bagian dari komunitas epistemik, universitas seperti UI berperan penting dalam menghasilkan pengetahuan, memberi rekomendasi kebijakan, dan mendorong perubahan sosial. UI sendiri telah memulai aksi nyata, seperti gerakan mengurangi penggunaan botol plastik dan peluncuran School of Social Sustainability & Innovation. (DSM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *