EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus memperkuat sistem pengasuhan anak melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA). Program ini menggantikan Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga Indonesia.
Berdasarkan sumber Kemendukbangga/BKKBN, transformasi tersebut bertujuan mempercepat penurunan stunting sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Rektor Universitas YARSI sekaligus Kepala BKKBN periode 2013–2015, Fasli Jalal, menyampaikan pandangan tersebut dalam pemaparan mengenai transformasi pengasuhan anak di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Indonesia Masih Menghadapi Tantangan Pengasuhan Anak
Fasli Jalal menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan dalam pembangunan kualitas anak.
Selain angka stunting yang masih tinggi, cakupan imunisasi nasional juga belum mencapai target pemerintah. Di sisi lain, sejumlah daerah masih mencatat kasus kematian anak akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, seperti diare.
Menurut Fasli, cakupan imunisasi nasional saat ini berada di kisaran 63 hingga 64 persen. Padahal, pemerintah menargetkan angka minimal 80 persen.
Karena itu, Aceh, Sumatra Barat, dan Papua membutuhkan perhatian lebih agar layanan kesehatan anak semakin merata.
Seribu Hari Pertama Kehidupan Menentukan Masa Depan Anak
Fasli menegaskan bahwa investasi terbaik dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pada masa tersebut, tubuh, otak, karakter, dan kemampuan belajar anak berkembang sangat cepat.
Oleh sebab itu, keluarga perlu memberikan gizi yang baik, stimulasi yang tepat, dan pola pengasuhan yang berkualitas.
Menurutnya, kualitas pengasuhan pada masa awal kehidupan akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan.
Bonus Demografi Perlu Didukung Keluarga Berkualitas
Selain membahas pengasuhan, Fasli juga menyoroti bonus demografi yang akan berlangsung hingga 2045.
Momentum tersebut hanya memberi keuntungan apabila Indonesia berhasil membentuk generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing.
Karena itu, penguatan keluarga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi penerus bangsa.
TAMASYA Ubah Cara Pandang Pengasuhan
Selama lebih dari 40 tahun, Program BKB membantu meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai kesehatan balita dan tumbuh kembang anak.
Kini, Kemendukbangga mengembangkan program tersebut menjadi TAMASYA dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga masa kini.
Program baru ini tidak hanya berganti nama. Sebaliknya, pemerintah juga mengubah paradigma pengasuhan dari mothering menjadi parenting.
Dengan pendekatan tersebut, ayah, ibu, keluarga besar, pengasuh, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha ikut mengambil peran dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Layanan Pengasuhan Menjangkau Tempat Kerja dan Ruang Publik
Kemendukbangga memperluas layanan TAMASYA ke berbagai lokasi.
Program ini hadir di tempat penitipan anak, kawasan industri, perkantoran, pasar, sentra pertanian, dan ruang publik lainnya.
Selain itu, Kemendukbangga memanfaatkan teknologi digital agar layanan pengasuhan semakin mudah dijangkau masyarakat.
Selanjutnya, pemerintah meningkatkan kompetensi para pengasuh melalui pelatihan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan fasilitas kesehatan, sekolah, organisasi masyarakat, dan dunia usaha.
Melalui langkah tersebut, Kemendukbangga ingin membangun ekosistem pengasuhan yang lebih kuat dan lebih adaptif terhadap kebutuhan keluarga modern.
“Melalui transformasi BKB menjadi TAMASYA, pemerintah berharap dapat menghadirkan sistem pengasuhan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan keluarga masa kini,” ujar Fasli Jalal.
Dengan demikian, TAMASYA diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengasuhan, mempercepat penurunan stunting, memperkuat kesehatan anak, dan mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.




