Kemdiktisaintek Dorong Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Daerah untuk Atasi Stunting dan Kemiskinan di NTT
educare.co.id, Kupang – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini tercermin dalam Rapat Koordinasi Program KPT Kosabangsa dan KKN Tematik GENTASKIN (Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan) yang digelar di Kupang, Senin (14/7).
Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam merumuskan strategi pengabdian dan riset yang berdampak langsung di desa-desa sasaran.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, yang hadir mewakili Dirjen Riset dan Pengembangan, menyatakan bahwa program Kosabangsa dirancang untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Kosabangsa tidak hanya menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, tetapi juga harus mampu mengidentifikasi dan mengkurasi permasalahan nyata di lapangan agar dapat ditangani secara solutif melalui keterlibatan akademisi,” jelasnya, dalam siaran tertulis kemdiktisaintek (17/7).
Selain program Kosabangsa yang melibatkan dosen dan peneliti, Kemdiktisaintek juga mendorong keterlibatan mahasiswa melalui skema Pengabdian Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Program ini ditujukan untuk membentuk kepedulian sosial generasi muda dalam menghadapi persoalan-persoalan nyata di masyarakat. Ketut menekankan pentingnya memperkuat jalur riset berbasis teknosains dengan orientasi pada implementasi langsung, khususnya di wilayah 3T, agar hasil riset tidak hanya berakhir di jurnal tetapi juga memberi manfaat konkret.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan apresiasi atas sinergi multipihak yang dibangun melalui kegiatan ini.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat NTT, saya mengapresiasi kerja keras LLDIKTI yang berhasil membuktikan bahwa kolaborasi berbagai pihak mampu mempercepat kemajuan daerah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pendidikan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
“Saya melihat perguruan tinggi negeri dan swasta sangat berkomitmen untuk menjalankan arah kebijakan Kemdiktisaintek. Ini adalah bagian konkret dari apa yang sedang kita tuju bersama. Semoga kelak, hasil penelitian dari keberhasilan program ini dapat diakses secara luas dan dimanfaatkan secara maksimal. Kita dapat mengatasi stunting dan kemiskinan dengan menggerakkan kontribusi ekonomi melalui substitusi produk lokal dan dukungan aktif dari semua pihak,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, menyampaikan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi kekuatan utama dalam mendorong pembangunan daerah.
“Kampus merupakan simpul pertumbuhan ekonomi dan penghasil sumber daya unggul. Melalui riset unggulan dan pengabdian yang terukur, kampus juga berperan sebagai katalisator kebijakan strategis pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan di daerah, termasuk di NTT, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” paparnya.
Menutup kegiatan, Direktur Ketut kembali menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat dampak riset dan pengabdian masyarakat.
“Kami mengapresiasi peran Wakil Gubernur, Anggota Komisi X DPR RI, jajaran pemerintah provinsi dan daerah, serta Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, XII, dan XV atas komitmennya dalam mendorong riset dan pengabdian yang berdampak,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi mitra, dan LLDIKTI Wilayah XV. Melalui langkah konkret ini, program Kosabangsa dan KKN Tematik GENTASKIN diharapkan menjadi model penguatan kapasitas daerah yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia.
