EDUCARE.CO.ID – Gula aren semakin populer sebagai pemanis makanan dan minuman. Salah satu olahan yang paling mudah ditemukan ialah kopi susu gula aren.
Banyak orang menilai gula aren lebih sehat daripada gula pasir. Alasannya, gula aren memiliki rasa khas dan melalui proses yang lebih tradisional.
Namun, anggapan tersebut tidak berarti gula aren bebas dari batasan konsumsi. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengingatkan bahwa gula aren tetap termasuk gula.
Karena itu, jumlah gula yang masuk ke tubuh tetap perlu diperhatikan. Jenis pemanis bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampak konsumsi gula.
Gula Aren Tetap Mengandung Sukrosa
Gula aren berasal dari nira pohon aren. Produsen merebus nira hingga mengental, kemudian membentuknya menjadi gula.
Proses tersebut cenderung lebih tradisional dan minim pemurnian dibandingkan pembuatan gula putih. Kondisi itu membuat gula aren masih memiliki sejumlah mineral.
Beberapa mineral yang terdapat dalam gula aren antara lain kalium, magnesium, dan zat besi. Namun, jumlahnya relatif kecil.
Karena itu, kandungan mineral tersebut tidak membuat gula aren berubah menjadi pemanis yang bisa dikonsumsi tanpa batas.
Gula aren tetap mengandung sukrosa sebagai komponen utama. Tubuh akan mengolah gula tersebut dan konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori harian.
Gula Aren Memiliki Indeks Glikemik Lebih Rendah
Gula aren memang memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih rendah daripada gula putih. Kondisi ini berarti tubuh dapat mengalami kenaikan kadar gula darah secara lebih lambat setelah mengonsumsinya.
Meski begitu, perbedaan indeks glikemik tidak berarti seseorang bebas mengonsumsi gula aren dalam jumlah besar.
Jumlah konsumsi tetap menjadi perhatian utama. Semakin banyak gula yang masuk ke tubuh, semakin besar pula asupan gula harian yang perlu diperhitungkan.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., juga menyoroti hal tersebut.
Dalam diskusi detikcom Leaders Forum bertajuk Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut pada Jumat, 5 Juni 2026, dr Nadia membahas tren mengganti gula pasir dengan gula aren.
“Sekarang kan suka ada tren ya, mengganti gula pasir menjadi gula aren. Nah itu sebenarnya tidak ada bedanya,” ujar dr Nadia.
Saat membahas perbedaan keduanya, dr Nadia menjelaskan bahwa tubuh tetap memproses keduanya sebagai gula. Perbedaannya lebih berkaitan dengan proses metabolisme.
“Sama. Cuma memang metabolitnya lebih lambat. Yang penting itu kurangi gula, bukan mengganti gula,” lanjutnya.
Kopi Susu Gula Aren Bisa Mengandung Bahan Tambahan
Konsumen juga perlu melihat seluruh komposisi makanan atau minuman. Gula aren bukan satu-satunya bahan yang menentukan jumlah gula dan kalori dalam sebuah produk.
Kemenkes menjelaskan bahwa sejumlah minuman dengan gula aren dapat menggunakan bahan tambahan. Produsen bisa menambahkan gula lain, sirup, krimer, atau susu tinggi lemak.
Kombinasi tersebut dapat meningkatkan jumlah kalori dalam satu sajian. Karena itu, konsumen perlu memperhatikan keseluruhan bahan saat membeli minuman.
Kopi susu gula aren menjadi salah satu contoh yang perlu diperhatikan. Mengganti gula pasir dengan gula aren saja belum tentu mengurangi total gula dalam minuman.
Porsi dan frekuensi konsumsi juga ikut menentukan jumlah gula yang masuk ke tubuh.
Jadi, Apakah Gula Aren Lebih Sehat?
Gula aren memiliki karakteristik yang berbeda dari gula putih. Proses produksinya juga membuat gula aren masih membawa sejumlah mineral.
Namun, jumlah mineral tersebut relatif kecil. Sementara itu, gula aren tetap mengandung sukrosa sebagai komponen utama.
Indeks glikemik yang sedikit lebih rendah juga tidak mengubah fakta bahwa gula aren tetap termasuk gula. Tubuh tetap memproses gula tersebut sebagai sumber energi.
Karena itu, Kemenkes menekankan pentingnya mengurangi konsumsi gula, bukan sekadar mengganti satu jenis gula dengan jenis lainnya.
Anggapan bahwa gula aren otomatis lebih sehat daripada gula pasir perlu dipahami secara lebih tepat. Gula aren bisa menjadi pilihan pemanis, tetapi konsumen tetap perlu mengatur porsinya.
Selain jenis gula, perhatikan pula bahan tambahan dalam makanan atau minuman. Dengan begitu, masyarakat dapat mengontrol jumlah gula dan kalori yang masuk ke tubuh setiap hari.
Penulis: Andini Namira Saskirana


