EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Tim riset Hydromodelling dan Arkana ITS meraih juara 2 Dr James A. Lisnyk Student Ship Design Competition 2026.
Kompetisi tersebut digelar oleh The Society of Naval Architects & Marine Engineers (SNAME) yang berbasis di Amerika Serikat. Ajang desain kapal itu berlangsung secara daring pada Maret hingga Juni 2026.
Enam mahasiswa ITS bergabung dalam tim tersebut. Mereka terdiri atas Faiz Yudistira Hidayat, Diarza Syafa, Najzwa Gita Purnama Putri, Emilda Safa’atus Sholihah, Hafizh Dzaky Firananda, dan Farizha Habibie.
Berdasarkan sumber ITS, kompetisi menantang peserta untuk menghasilkan desain kapal yang inovatif sekaligus mampu menjawab kebutuhan industri.
Tim ITS Rancang Kapal untuk Operasi Lepas Pantai
Tim Hydromodelling dan Arkana mengusung desain kapal untuk mendukung kegiatan operasi lepas pantai. Kapal tersebut memiliki length of perpendicular 90 meter, lebar 20 meter, tinggi 8 meter, dan sarat air 6,4 meter.
Rancangan itu mampu mencapai kecepatan dinas 14 knot dengan bobot mati sekitar 4.000 ton. Kapal juga menyediakan kapasitas muatan hingga 3.600 metrik ton.
Tim menyesuaikan rancangan kapal dengan kebutuhan operasi di Laut Natuna. Kapal dapat membawa modul struktur bawah laut, logistik rig, peralatan inspeksi dan perbaikan pipa, serta fluida pengeboran.
Staf Ahli Divisi Desain Tim Hydromodelling ITS, Farizha Habibie, mengatakan setiap inovasi dalam kompetisi harus memiliki dasar perhitungan teknis.
“Inovasi yang diusulkan juga harus bisa diterapkan pada desain kapal dan dibuktikan lewat perhitungan,” jelas Farizha, dikutip dari laman ITS.
Enam Mahasiswa Bagi Tugas Sesuai Keahlian
Enam anggota tim membagi pekerjaan berdasarkan bidang masing-masing. Faiz Yudistira Hidayat mengerjakan 3D modelling.
Diarza Syafa fokus pada design hull analyst. Najzwa Gita Purnama Putri menangani general arrangement, machinery, and propulsion.
Emilda Safa’atus Sholihah mengerjakan background analysis and formatting. Farizha Habibie menangani construction and structure analyst.
Sementara itu, Hafizh Dzaky Firananda mengerjakan aspek electrical, HVAC, dan EEDI analyst.
Pembagian tugas tersebut membantu tim menyatukan berbagai aspek desain kapal. Setiap anggota juga dapat fokus mengembangkan bagian yang sesuai dengan kompetensinya.
Konsep Flying Dutchman Gunakan Energi Hidrogen
Tim ITS menghadirkan salah satu inovasi utama melalui konsep Flying Dutchman. Konsep ini menggabungkan mesin hibrida dengan bahan bakar hidrogen.
Dalam rancangan tersebut, hidrogen mengalir langsung menuju mesin dual-fuel. Proses pembakaran kemudian menggerakkan generator listrik.
Generator tersebut menyediakan energi untuk kebutuhan operasional kapal. Tim juga mengembangkan konsep ini untuk menekan emisi karbon dari kegiatan pelayaran.
“Melalui integrasi hidrogen ini, kapal dapat beroperasi 12–20 hari di Natuna dan emisi karbon mendekati nol,” ungkap Farizha.
Konsep energi tersebut membuat rancangan kapal tidak hanya mengejar kemampuan angkut. Tim juga memperhitungkan efisiensi energi dan aspek keberlanjutan.
Rancang Kapal Selama Lima Bulan
Tim mengerjakan desain kapal selama lima bulan, mulai Februari hingga Juni 2026. Mereka menggunakan metode spiral design untuk mengembangkan rancangan secara bertahap.
Setiap tahap memungkinkan tim mengevaluasi dan menyempurnakan desain. Mereka juga mengutamakan ketelitian dan koordinasi agar seluruh komponen kapal dapat bekerja sesuai rancangan.
Dosen ITS Ir. Rizky Chandra Ariesta turut memberikan arahan selama proses pengembangan.
Menurut tim, proses tersebut tidak hanya menguji kemampuan teknis. Kompetisi juga melatih mereka untuk bekerja dengan tenggat waktu dan menyatukan berbagai bidang keahlian dalam satu proyek.
Prestasi Mahasiswa ITS Dorong Inovasi Maritim
Gelar juara 2 dalam kompetisi internasional SNAME menambah catatan prestasi mahasiswa ITS di bidang teknologi maritim.
Rancangan kapal Hydromodelling dan Arkana memadukan desain kapal, analisis teknis, teknologi hidrogen, serta kebutuhan operasi lepas pantai.
Farizha berharap inovasi tersebut dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi industri perkapalan, baik di Indonesia maupun tingkat global.
“Semoga tim kami nantinya mampu terus membawa nama Indonesia lebih harum lagi,” tutup Farizha.
Prestasi ini juga menunjukkan potensi mahasiswa Indonesia dalam mengembangkan solusi teknologi maritim yang lebih inovatif dan rendah emisi.

