IHSG Belum Stabil, Akademisi UGM Ingatkan Investor Pemula untuk Tetap Bijak

EduNews EduSchool

educare.co.id, Yogyakarta – Pasar saham Indonesia masih mengalami tekanan setelah beberapa waktu lalu mengalami penurunan tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang konsisten. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global seperti melemahnya harga komoditas, inflasi yang meningkat, serta sentimen pasar yang negatif.

Di tengah ketidakpastian ini, Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), I Wayan Nuka Lantara, Ph.D., menyebut situasi saat ini tetap bisa dimanfaatkan sebagai momen belajar oleh para investor pemula. Namun, ia mengingatkan pentingnya mengatur keuangan secara bijak sebelum terjun ke dunia investasi.

“Sekarang ini sebenarnya justru bisa jadi waktu yang bagus untuk masuk, karena harga saham sedang diskon. Tapi bukan berarti asal beli. Pilih yang fundamentalnya kuat dan masa depannya masih cerah,” ujarnya dalam siaran tertulis UGM (17/4).

Wayan menekankan bahwa masyarakat harus memastikan kebutuhan dasar telah terpenuhi sebelum mulai berinvestasi. Dana darurat juga harus tersedia agar keuangan tetap aman dalam kondisi mendesak. Ia turut menyinggung fenomena ‘mantap’ atau makan tabungan, yang sering terjadi di kalangan investor pemula.

“Kalau tabungan tipis dan pemula melakukan investasi tanpa dikalkulasikan, akan jebol juga,” katanya.

Menurutnya, investasi tidak bisa disamakan dengan keberuntungan atau sekadar mengikuti tren sesaat. Dalam situasi ekonomi yang fluktuatif, keputusan emosional yang hanya berorientasi pada keuntungan cepat justru berisiko merugikan.

“Jangan sampai keinginan untuk untung besar membuat orang mengorbankan prinsip dasar. Punya penghasilan 10 juta tapi 9 juta diinvestasikan semua, bahkan sampai berani pinjam, itu sangat tidak disarankan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dinamika pasar yang tidak lagi bisa ditebak dengan pola lama. Fenomena naik-turunnya harga emas, anjloknya nilai Bitcoin, serta penurunan saham teknologi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pendekatan investasi kini perlu disesuaikan dengan kondisi yang lebih kompleks.

BACA JUGA:  Resep Fudgy Brownies: Renyah di Luar, Lumer di Dalam

“Satu-satunya cara membangun ‘sekoci’ masa depan ya tetap lewat investasi,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya tetap berinvestasi sebagai perlindungan daya beli jangka panjang dari inflasi.

Melihat kondisi saat ini, Wayan memperkirakan tren pasar dalam tiga bulan ke depan masih belum menunjukkan sinyal positif yang signifikan. Ia justru melihat potensi pesimisme meningkat jika tidak ada langkah strategis dari pemerintah.

“Tidak ada satupun insentif yang menunjukkan adanya optimisme. Jika sentimen tersebut tidak berhenti, kondisi ini membahayakan,” jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah agar segera melakukan kajian ulang terhadap strategi ekspor nasional, yang saat ini masih terlalu bergantung pada komoditas seperti batubara dan nikel.

“Kita perlu segera mencari celah baru di tengah tekanan global,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *