Gangguan Penglihatan Bisa Dicegah, Kemenkes Perluas Pemeriksaan Mata hingga Puskesmas

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat deteksi dini gangguan penglihatan setelah menemukan sekitar 1,6 juta orang dengan indikasi masalah penglihatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Temuan tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap 34 juta orang di berbagai wilayah Indonesia.

Data ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata secara berkala. Sebab, gangguan penglihatan tidak selalu menimbulkan keluhan pada tahap awal. Karena itu, masyarakat perlu memeriksakan mata sebelum masalah berkembang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk memperluas upaya tersebut, Kemenkes meluncurkan program Comprehensive Community Eye Care (CCEC) dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2026. Kegiatan berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (15/10).

Acara tersebut menghadirkan siswa SMP dan SMA, perwakilan organisasi profesi, serta mitra pembangunan kesehatan. Selain meluncurkan program, penyelenggara juga memberikan edukasi dan mengadakan pemeriksaan mata bagi anak sekolah.

Dalam tiga tahun ke depan, CCEC menargetkan skrining mata bagi lebih dari 60.000 siswa dan pekerja. Program ini menyasar masyarakat di lima provinsi dan 19 kabupaten/kota.

Kemenkes Ajak Masyarakat Periksa Mata Sejak Dini

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa masyarakat perlu menjadikan pemeriksaan mata sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan.

Menurut Dante, gangguan penglihatan masih menjadi persoalan kesehatan global. Secara global, sekitar 1,1 miliar orang mengalami gangguan penglihatan yang belum tertangani. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen kasus dapat dicegah atau diobati.

“Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujar Dante.

Selain pemeriksaan berkala, Dante mengajak masyarakat menerapkan kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan mata. Langkah ini semakin penting ketika seseorang menghabiskan banyak waktu di depan komputer, ponsel, atau perangkat digital lainnya.

Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan ialah aturan 20-20-20. Caranya, alihkan pandangan dari layar setiap 20 menit selama 20 detik. Selama jeda tersebut, pandang objek yang berjarak sekitar enam meter.

Dengan menerapkan kebiasaan ini, masyarakat dapat memberi jeda bagi mata selama bekerja atau belajar. Meski demikian, aturan tersebut tidak menggantikan pemeriksaan profesional ketika seseorang mengalami gangguan penglihatan.

Empat Langkah Kemenkes untuk Menekan Gangguan Penglihatan

Berdasarkan sumber rilis Kemenkes RI, pemerintah menjalankan empat langkah strategis untuk mencegah dan menangani gangguan penglihatan.

Pertama, Kemenkes memperkuat skrining mata melalui program CKG. Melalui pemeriksaan ini, petugas dapat menemukan indikasi gangguan penglihatan lebih awal dan mengarahkan masyarakat ke layanan lanjutan sesuai kebutuhan.

Kedua, pemerintah memperluas akses operasi katarak. Langkah ini bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan medis untuk mengatasi gangguan penglihatan akibat katarak.

Ketiga, Kemenkes berupaya memeratakan ketersediaan dokter spesialis mata. Dengan demikian, masyarakat di berbagai daerah memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh layanan sesuai kebutuhan medis.

Keempat, pemerintah meningkatkan edukasi kesehatan mata di sekolah dan tempat kerja. Upaya ini membantu masyarakat memahami cara menjaga kesehatan mata sekaligus mengenali tanda gangguan penglihatan.

Selain menjalankan empat langkah tersebut, Kemenkes berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Kolaborasi ini bertujuan mengatasi ketimpangan alokasi layanan operasi katarak antardaerah.

Vision Center Perluas Akses Pemeriksaan Mata

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pengembangan vision center menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan layanan kesehatan mata kepada masyarakat.

Model layanan ini menghubungkan Puskesmas, dinas kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan mitra pembangunan. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memperoleh pemeriksaan serta penanganan gangguan penglihatan.

Selama ini, rumah sakit masih memegang peran besar dalam pelayanan kesehatan mata. Akibatnya, sebagian masyarakat harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk menjalani pemeriksaan atau memperoleh penanganan.

Karena itu, pengembangan vision center diharapkan dapat memperluas layanan hingga tingkat Puskesmas. Masyarakat nantinya dapat mengakses pemeriksaan mata, dukungan tenaga profesional, serta penyediaan kacamata dengan lebih mudah.

Selain mendekatkan layanan, model ini juga membuka peluang bagi tenaga kesehatan untuk menemukan gangguan penglihatan lebih awal. Dengan begitu, masyarakat dapat memperoleh arahan penanganan sebelum kondisi tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari.

CCEC dan The Fred Hollows Foundation Targetkan Ribuan Penerima Manfaat

Chief of Programs & Partnership The Fred Hollows Foundation, Amanda Huang, menjelaskan bahwa program CCEC melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah Indonesia. Kerja sama ini berfokus pada perluasan layanan kesehatan mata berbasis masyarakat.

Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengakses pemeriksaan dan penanganan gangguan penglihatan lebih awal. Sekolah dan fasilitas kesehatan tingkat pertama juga menjadi jalur penting untuk menjangkau kelompok yang membutuhkan layanan.

Dalam tiga tahun ke depan, CCEC menetapkan sejumlah target untuk memperluas cakupan pelayanan kesehatan mata. Berikut target yang tercantum dalam materi program:

  • Melatih lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru.
  • Mendukung 16.500 operasi katarak.
  • Mendistribusikan lebih dari 100.000 kacamata.
  • Membangun 13 vision center baru.
  • Memperkuat 21 vision center yang sudah tersedia.

Melalui target tersebut, The Fred Hollows Foundation berharap masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan mata yang berkualitas tanpa harus menghadapi kendala akses yang berlebihan.

Selain itu, keterlibatan guru dan tenaga kesehatan dapat membantu memperluas edukasi hingga lingkungan sekolah dan komunitas. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenali gangguan penglihatan sejak dini.

Pemeriksaan Mata Bantu Fayra Mendapatkan Kacamata

Manfaat skrining mata juga dirasakan Fayra Salsabila, siswi SMP Negeri 145 Jakarta. Ia mengikuti pemeriksaan mata dalam rangkaian kegiatan CCEC.

Hasil pemeriksaan menunjukkan angka silinder 2,00 pada salah satu mata Fayra dan 1,50 pada mata lainnya. Selain memperoleh hasil pemeriksaan, ia juga mendapatkan kacamata gratis serta edukasi mengenai kebiasaan yang perlu dihindari untuk menjaga kesehatan mata.

“Aku dapat kacamata gratis dari pemeriksaan ini. Nanti aku tinggal cek lagi untuk pilih model kacamata yang diinginkan di optik,” ujar Fayra.

Pengalaman Fayra memperlihatkan bagaimana skrining dapat membantu siswa mengenali kondisi penglihatannya. Selain itu, akses terhadap kacamata dapat mendukung kenyamanan mereka saat belajar dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Meski begitu, setiap hasil pemeriksaan tetap perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lanjutan juga dapat membantu memastikan kebutuhan koreksi penglihatan sesuai kondisi masing-masing siswa.

Hari Penglihatan Sedunia 2026 Dorong Kebiasaan Skrining

Hari Penglihatan Sedunia 2026 mengangkat tema nasional “Skrining Mata: Langkah Kecil untuk Manfaat Besar”. Sementara itu, tema globalnya ialah Love Your Eyes.

Tema tersebut mengajak masyarakat memberi perhatian lebih besar terhadap kesehatan mata. Pemeriksaan berkala menjadi salah satu langkah penting, terutama bagi anak sekolah dan orang yang sering menggunakan perangkat digital.

Melalui CKG dan program CCEC, Kemenkes berupaya memperluas deteksi dini sekaligus mendekatkan layanan kesehatan mata kepada masyarakat. Di sisi lain, kolaborasi dengan organisasi profesi dan mitra pembangunan mendukung perluasan edukasi serta akses pemeriksaan.

Berdasarkan sumber rilis Kemenkes RI, penguatan skrining, pemerataan layanan, dan edukasi menjadi bagian dari upaya pemerintah menangani gangguan penglihatan di Indonesia.

Karena itu, masyarakat perlu menjadikan pemeriksaan mata sebagai bagian dari rutinitas menjaga kesehatan. Jangan menunggu hingga penglihatan terasa kabur atau mengganggu aktivitas. Dengan mengenali masalah lebih awal, masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

 

Penulis: Riezka Ayu Juniarty

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article