EDUCARE.CO.ID – Akses modal masih menjadi persoalan bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebagian pelaku usaha kesulitan mengajukan pembiayaan karena belum memiliki laporan keuangan yang tertata atau aset untuk agunan.
Melihat kondisi tersebut, lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan Synergy, sebuah prototipe platform pembiayaan yang memadukan teknologi blockchain dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Synergy membantu UMKM menyusun pencatatan keuangan dan membangun profil kelayakan usaha. Platform ini juga menawarkan konsep yang mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pemberi dana melalui skema pembiayaan bagi hasil.
Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026. Tim pengembang berharap Synergy dapat membuka alternatif akses pembiayaan bagi UMKM melalui pengelolaan informasi keuangan yang lebih terstruktur.
Synergy Gunakan Blockchain untuk Mencatat Transaksi Pembiayaan
Ketua tim Synergy, Muhammad Abid Yasir, menjelaskan bahwa gagasan ini muncul dari persoalan akses modal yang masih dihadapi pelaku UMKM. Menurut mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi UMY tersebut, banyak usaha kecil belum memiliki laporan keuangan memadai untuk meyakinkan calon pemberi dana.
Melalui Synergy, tim ingin membantu pelaku usaha mengelola informasi keuangan sekaligus menyediakan rekam transaksi yang dapat mereka telusuri.
“Synergy dirancang untuk mempertemukan secara langsung investor dan UMKM dengan dukungan blockchain. Teknologi tersebut digunakan sebagai perantara pencatatan agar transaksi lebih transparan dan risiko kecurangan dapat dikurangi,” ujar Abid saat diwawancarai pada Senin (14/9).
Dalam rancangan platform, teknologi blockchain mencatat nilai transaksi dan parameter kesepakatan antara calon pemberi dana dengan UMKM. Informasi tersebut mencakup jumlah modal, jangka waktu kerja sama, dan nisbah bagi hasil.
Sebagai ilustrasi, seorang investor memberikan modal Rp10 juta kepada pelaku UMKM untuk membeli peralatan usaha. Kedua pihak kemudian menyepakati jangka waktu kerja sama dan nisbah bagi hasil, misalnya 40:60.
Synergy mencatat seluruh parameter tersebut dalam sistem. Ketika UMKM membagikan hasil usaha, platform juga menyimpan riwayat transaksinya. Dengan begitu, kedua pihak dapat meninjau kembali catatan pembiayaan dan kesepakatan mereka.
Meski demikian, blockchain tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko kecurangan. Keandalan sistem tetap bergantung pada kebenaran data awal, keamanan aplikasi, proses verifikasi pengguna, dan tata kelola platform.
AI XGBoost Bantu Analisis Kelayakan UMKM
Selain blockchain, Synergy mengandalkan AI untuk mengolah data keuangan yang dimasukkan pelaku UMKM. Tim menggunakan algoritma XGBoost atau Extreme Gradient Boosting untuk mengembangkan model analisis tersebut.
Sistem ini dirancang menghasilkan pemeringkatan kredit atau credit scoring. Hasil analisis dapat membantu calon pemberi dana memahami gambaran kondisi keuangan dan profil usaha sebelum mempertimbangkan pembiayaan.
“AI akan menghasilkan credit scoring yang digunakan untuk menggambarkan kelayakan UMKM dalam memperoleh pembiayaan. Kami memanfaatkan AI untuk menyederhanakan dan mengotomatisasi proses tersebut sehingga investor dapat melihat profil usaha sebelum mengambil keputusan,” jelas Abid.
Fitur tersebut diharapkan memudahkan calon pemberi dana mengenali kondisi usaha melalui informasi keuangan yang tersedia. Di sisi lain, pelaku UMKM juga dapat menggunakan sistem pencatatan untuk menyajikan perkembangan bisnis secara lebih terstruktur.
Namun, hasil analisis AI tidak menjamin keberhasilan usaha maupun kemampuan UMKM memenuhi kewajiban pembiayaan. Kualitas penilaian sangat bergantung pada kelengkapan, keakuratan, dan kebenaran data yang masuk ke sistem.
Karena itu, tim tetap perlu mengembangkan proses verifikasi identitas, pemeriksaan kegiatan usaha, dan penilaian risiko. Calon pemberi dana juga perlu mempertimbangkan evaluasi manusia sebelum mengambil keputusan pembiayaan.
Synergy Usung Akad Musyarakah dan Mudharabah
Synergy membawa konsep pembiayaan syariah melalui dua akad, yaitu musyarakah dan mudharabah. Kedua akad tersebut mengatur kerja sama serta pembagian hasil berdasarkan nisbah yang disepakati oleh para pihak.
Tim memilih pendekatan ini untuk menawarkan konsep pembiayaan yang mengedepankan prinsip kerja sama. Melalui kesepakatan sejak awal, calon pemberi dana dan pelaku UMKM dapat memahami hak, kewajiban, pembagian hasil, serta risiko selama masa kerja sama.
Selain itu, sistem pencatatan digital membantu kedua pihak meninjau parameter kesepakatan dan riwayat transaksi. Transparansi informasi tersebut menjadi salah satu aspek yang ingin diperkuat tim melalui pengembangan Synergy.
Meski begitu, penerapan akad syariah membutuhkan lebih dari sekadar pencantuman istilah dalam aplikasi. Tim perlu memastikan struktur kontrak, mekanisme pembagian risiko, pengawasan, dan kesesuaian prinsip syariah sebelum menjalankan layanan secara komersial.
Mahasiswa UMY Uji Prototipe Synergy pada UMKM di Bantul
Berdasarkan sumber UMY, mahasiswa telah menyelesaikan prototipe aplikasi berbasis Web3 dan mulai menguji sejumlah fungsinya. Mereka mengumpulkan masukan calon pengguna untuk mengevaluasi kemudahan penggunaan serta kesesuaian fitur dengan kebutuhan usaha.
Salah satu lokasi uji coba ialah Sinom Coffee & Space di Kasihan, Bantul. Melalui kegiatan tersebut, tim ingin memahami pengalaman pelaku usaha ketika menggunakan platform sekaligus menemukan bagian yang masih perlu mereka perbaiki.
Selanjutnya, Abid dan rekan-rekannya berencana memperluas pengujian kepada sedikitnya sepuluh UMKM. Mereka ingin mengumpulkan masukan yang lebih beragam mengenai fitur pencatatan keuangan, profil kelayakan usaha, dan rancangan mekanisme pembiayaan.
Tim menargetkan pengembangan hingga penyelesaian laporan akhir PKM pada Oktober 2026. Setelah itu, mereka berencana berkonsultasi mengenai ketentuan perizinan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sesuai dengan model layanan yang akan mereka kembangkan.
Pada tahap ini, Synergy masih berstatus prototipe untuk pengujian. Tim belum menggunakan platform tersebut untuk menghimpun maupun menyalurkan dana masyarakat.
“Kami berkomitmen melanjutkan pengembangan Synergy setelah program PKM selesai. Karena platform ini dirancang untuk mempertemukan masyarakat sebagai pemberi dana dengan UMKM, pengembangannya harus mengikuti ketentuan dan pengawasan resmi dari OJK,” pungkas Abid.
Lima Mahasiswa UMY Berkolaborasi Kembangkan Synergy
Muhammad Abid Yasir memimpin pengembangan Synergy bersama empat mahasiswa lainnya, yaitu Muhammad Akmal Taufansyah, Husna Kamila Syahida, Nandyra Dwi Azzahra, dan Muhammad Dafa Fachrul Annas Pambudi.
Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D. bertindak sebagai dosen pembimbing tim.
Kolaborasi tersebut mempertemukan bidang teknologi, pengelolaan informasi keuangan, dan konsep pembiayaan syariah. Setiap bidang memberikan kontribusi dalam merancang platform yang berupaya menjawab persoalan akses modal bagi UMKM.
Ke depan, tim masih perlu menyempurnakan sistem, menguji keandalan analisis AI, memperkuat keamanan data, dan memenuhi ketentuan regulasi. Jika mampu memenuhi berbagai aspek tersebut, Synergy berpeluang berkembang sebagai alternatif layanan yang mempertemukan UMKM dengan calon pemberi dana secara lebih terstruktur dan bertanggung jawab.

