EDUCARE.CO.ID – Dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Inty Nahari, berhasil mengembangkan limbah daun nanas menjadi material tekstil berbasis serat alam. Melalui inovasi ini, ia membuktikan bahwa bagian tanaman yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi dan artistik yang tinggi.
Berdasarkan sumber Unesa, Inty mengembangkan serat daun nanas Kelud sebagai bahan tekstil ramah lingkungan. Ia memulai penelitian tersebut sejak 2023.
Menurut Inty, penelitian tidak hanya menghasilkan karya seni. Penelitian juga menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa material lokal Indonesia mampu mengangkat isu global, seperti keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan limbah pertanian, dan pelestarian pengetahuan tradisional.
“Serat daun nanas dari kawasan Kelud merupakan material yang sangat lokal, tetapi dapat membicarakan isu yang sedang menjadi perhatian dunia, seperti keberlanjutan, limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, serta perlunya menghargai kembali pengetahuan tradisional,” ujar Inty seperti dikutip dari laman resmi Unesa, Senin (27/7/2026).
Karya Tekstil “Barik” Lahir dari Serat Daun Nanas
Dari riset tersebut, Inty melahirkan karya tekstil bernama Barik. Nama itu berasal dari bahasa Jawa yang berarti garis. Ia memilih nama tersebut karena permukaan tekstil menampilkan garis-garis alami dari serat daun nanas.
Inty menjelaskan bahwa setiap serat membawa jejak lingkungan tempat tanaman tumbuh. Jejak itu terlihat dari kondisi tanah, intensitas cahaya matahari, curah hujan, hingga proses pengolahannya.
“Ketidakteraturan tersebut tidak saya pandang sebagai kekurangan, tetapi sebagai rekaman alami dari lingkungan tempat tanaman itu tumbuh,” katanya.
Karena itu, ia mempertahankan variasi tekstur, warna, dan ketebalan serat agar karakter alaminya tetap terlihat.
Dipadukan dengan Teknik Tenun Kluwung
Selanjutnya, Inty memadukan serat daun nanas dengan teknik tenun kluwung. Perpaduan pola tenun yang teratur dan karakter alami serat menciptakan permukaan tekstil yang unik. Hasilnya juga sulit ditiru secara identik.
Eksplorasi tersebut menunjukkan potensi besar serat alam Indonesia dalam pengembangan tekstil berkelanjutan.
Riset Dimulai Sejak 2023
Inty mulai mengeksplorasi daun nanas madu Kelud pada 2023. Pada tahap awal, ia mengolah serat tersebut menjadi bahan tenun alat tenun bukan mesin (ATBM). Ia mengambil inspirasi dari relief Candi Palah Penataran.
Setelah itu, penelitiannya berkembang ke eksplorasi berbagai serat alam di lereng Gunung Kelud. Ia mempelajari karakter material dan peluang pengembangannya untuk industri kreatif.
Tembus Pameran Seni Internasional di Bali
Karya Barik kemudian tampil dalam pameran seni internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali. Pameran tersebut menghadirkan 79 karya dari 50 seniman dan praktisi asal delapan negara.
Keikutsertaan dalam ajang internasional itu memperkuat pengakuan terhadap inovasi tekstil berbasis serat daun nanas dari Indonesia.
Berpotensi Menjadi Produk Fesyen dan Interior
Menurut Inty, hasil penelitiannya membuka peluang pengembangan berbagai produk bernilai tambah. Produk tersebut meliputi fesyen, aksesori, elemen interior, panel dekoratif, dan produk kriya.
Selain itu, ia melihat peluang kolaborasi antara petani nanas, perajin tenun, desainer, peneliti, industri, dan pemerintah daerah. Kolaborasi itu dapat memperkuat rantai nilai ekonomi serat daun nanas.
Siapkan Pusat Riset Serat Alam Indonesia
Ke depan, Inty ingin memperluas jejaring penelitian serat alam Indonesia. Ia juga berencana mengembangkan pusat dokumentasi dan laboratorium. Fasilitas tersebut akan mempelajari karakter material, teknik pengolahan, dan peluang hilirisasi serat alam.
Melalui langkah tersebut, limbah daun nanas tidak hanya menjadi solusi pengurangan limbah pertanian. Serat itu juga berpotensi menjadi sumber inovasi tekstil berkelanjutan yang berdaya saing global.



