EDUCARE.CO.ID – Menggerakkan kursi roda secara mandiri bukan perkara mudah bagi penyandang quadriplegia atau kelumpuhan total dari leher hingga kaki.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan solusi berbasis teknologi.
Mereka menciptakan smart wheelchair yang memungkinkan pengguna mengendalikan kursi roda melalui gerakan mata.
Tak hanya mengandalkan kendali mata, tim juga menambahkan sistem navigasi cerdas. Mereka turut memasang sejumlah fitur keselamatan untuk menjaga pergerakan kursi roda.
Inovasi ini diharapkan dapat membantu pengguna bergerak lebih mandiri. Sistem keselamatan juga membantu mengurangi risiko kecelakaan saat kursi roda berjalan.
Berawal dari Pengalaman Melihat Pasien Lumpuh
Tim UMY menamai inovasi tersebut Assistive Smart Wheelchair Electrooculography.
Alfiansyah Restu Pramono Adias Nugroho memimpin tim tersebut. Ia bekerja bersama Ghiffary Yustar Afif, Jaler Satrio Negoro, Ahmad Ulinnuha S.M.F, dan Febriane Iftinan Maharani.
Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 mendukung pengembangan inovasi tersebut.
Ide awal muncul setelah Alfiansyah melihat kondisi pasien lumpuh di rumah sakit.
Pengalaman itu membuatnya berpikir tentang peran teknologi. Ia ingin mencari cara agar penyandang kelumpuhan total dapat bergerak lebih mandiri.
Ketertarikannya pada teknologi kemudian mempertemukan ide tersebut dengan proyek electrooculography (EOG).
Alfiansyah mengerjakan proyek EOG saat memasuki semester tiga. Ia bersama tim kemudian mengembangkan teknologi tersebut untuk mengendalikan kursi roda.
Tim selanjutnya mengajukan inovasi itu melalui program PKM-KC.
Gerakan Mata Jadi Perintah Kursi Roda
Smart wheelchair UMY mengandalkan gerakan mata sebagai sistem kendali utama.
Pengguna dapat memberikan perintah melalui kedipan dan arah lirikan.
“Untuk kursi rodanya sendiri, nanti menggunakan pergerakan mata. Perintah kedipan dua kali dengan waktu tertentu itu akan menghidupkan motor atau mematikannya,” jelas Alfiansyah saat dihubungi, Sabtu (12/9).
Untuk mengubah arah, pengguna cukup melirik ke kanan atau kiri. Sistem kemudian menerjemahkan gerakan tersebut menjadi perintah bagi kursi roda.
Teknologi EOG bekerja dengan membaca perubahan sinyal listrik akibat pergerakan bola mata.
Sistem mengolah sinyal tersebut dan mengubahnya menjadi perintah. Dengan cara ini, pengguna tidak perlu menggerakkan tangan untuk mengoperasikan kursi roda.
Tiga Fitur Keselamatan Jadi Andalan
Tim UMY juga memikirkan aspek keselamatan. Mereka menambahkan tiga fitur utama pada smart wheelchair.
Ketiganya terdiri dari:
- Intelligent Obstacle Detection
- Emergency Braking
- Standby Mode
Intelligent Obstacle Detection membantu sistem mengenali benda yang berada di depan kursi roda.
Ketika sensor menemukan objek, Emergency Braking langsung menghentikan motor.
“Emergency Braking itu berguna ketika sensor Intelligent Obstacle Detection mendeteksi adanya benda di depan, maka motor akan berhenti,” ungkap Alfiansyah.
Sementara itu, Standby Mode membantu mengendalikan perubahan perintah pengguna.
Fitur ini mencegah kursi roda melakukan perubahan arah secara tiba-tiba. Sistem menjaga pergerakan tetap lebih terkendali saat pengguna mengubah arah lirikan.
Keluarga Bisa Pantau Lokasi Pengguna
Tim UMY juga mengembangkan aplikasi smartphone sebagai bagian dari sistem.
Aplikasi tersebut terhubung dengan Google Maps. Keluarga atau pendamping dapat memantau lokasi pengguna saat bepergian.
Selain lokasi, aplikasi juga memantau detak jantung pengguna secara real time.
Sistem memiliki batas detak jantung sebesar 120 BPM. Ketika detak jantung mencapai angka tersebut, sistem akan menghentikan motor kursi roda secara otomatis.
Fitur ini memberi lapisan pemantauan tambahan selama pengguna mengoperasikan kursi roda.
Tiga Program Studi Bergabung dalam Riset
Pengembangan smart wheelchair melibatkan mahasiswa dari tiga program studi di UMY.
Ketiganya yaitu Teknologi Elektro-Medis, Teknik Elektro, dan Ilmu Keperawatan.
Mahasiswa Teknologi Elektro-Medis dan Teknik Elektro mengembangkan sistem serta perangkat elektronik.
Sementara itu, mahasiswa Ilmu Keperawatan memberikan masukan mengenai kondisi dan kebutuhan pengguna.
Kolaborasi tersebut membuat tim tidak hanya melihat persoalan dari sisi teknologi.
Masukan mahasiswa Keperawatan membantu tim memahami kebutuhan pasien sebagai calon pengguna.
Alfiansyah mengatakan pendekatan lintas disiplin membantu mereka mengembangkan alat dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna.
Prototipe Sudah Berjalan Normal
Tim UMY telah melakukan uji coba prototipe. Mereka mengujinya pada pengguna yang tidak mengalami quadriplegia.
Hasil uji coba menunjukkan alat dapat berfungsi dengan normal.
Namun, tim belum melakukan pengujian langsung pada pasien quadriplegia.
Keterbatasan waktu program menjadi salah satu kendalanya. Saat ini, program memasuki tahap evaluasi lanjutan.
Karena itu, tim masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum alat dapat menjangkau pengguna yang menjadi sasaran utama.
Mahasiswa UMY Ingin Teknologi Ini Bisa Dipakai Pasien
Alfiansyah berharap penelitian tersebut terus berkembang.
Ia ingin smart wheelchair hasil pengembangan tim dapat membantu penyandang kelumpuhan total yang membutuhkan alat bantu mobilitas.
“Harapannya, alat hasil penelitian kami ini nantinya dapat membantu pasien yang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.
Inovasi tersebut menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat berangkat dari persoalan nyata.
Tim UMY memadukan teknologi EOG, navigasi, pemantauan kesehatan, dan fitur keselamatan dalam satu prototipe.
Jika pengembangan dan pengujian berikutnya berjalan baik, smart wheelchair ini berpotensi menjadi salah satu alternatif teknologi asistif bagi penyandang quadriplegia.
Penulis: Putri Faathiman Niara


