Dari Sekolah untuk Bumi: KomProMi, Aksi Nyata Siswa MAN IC Pekalongan Atasi Sampah

EduNews

EDUCARE.CO.ID , Pekalongan – Siswa Madrasah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Pekalongan kembali menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari sekolah. Melalui program pengolahan sampah makanan bertajuk KomProMi (Komposting Projek Mizan), para siswa menghadirkan solusi nyata atas persoalan sampah nasional. Menariknya, inovasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong keterlibatan pelajar dalam mengatasi krisis sampah melalui gerakan berbasis pendidikan.

KomProMi mengolah food waste menggunakan metode Bokashi Composting yang dikenal cepat, higienis, tanpa bau, dan tanpa emisi. Program ini bahkan telah dijalankan sebelum seruan resmi Presiden disampaikan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul. Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, mengaku bangga atas inisiatif siswanya yang tidak hanya menggagas ide, tetapi juga mengeksekusinya secara mandiri, termasuk dalam mencari dukungan pendanaan di tengah kesibukan akademik.

Dipimpin oleh Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa kelas XII, KomProMi melibatkan lebih dari 50 relawan siswa dan mengintegrasikan pendekatan eko-teologi dan ekonomi sirkular. Nama “Mizan” diambil dari konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman: 7–9), yang menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral dan spiritual manusia. Sampah makanan difermentasi secara anaerobik selama 10–14 hari hingga menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk penghijauan sekolah dan urban farming.

Tak berhenti pada pengolahan sampah, KomProMi juga aktif menggelar edukasi, kampanye visual, dan seminar lingkungan berbasis nilai keislaman. Khoirul Anam menambahkan, Rayyan dikenal sangat aktif dalam isu lingkungan, pernah terlibat riset limbah batik, menjadi pembicara forum internasional eko-teologi, alumni pertukaran pelajar Finlandia, hingga meraih Letter of Acceptance dari enam universitas luar negeri bergengsi. KomProMi pun menjadi bukti bahwa generasi muda madrasah siap menjadi motor perubahan—cerdas, peduli, dan berdaya guna bagi bumi. 🌱

BACA JUGA:  Mabbim Gelar Musyawarah Sekretariat 2024: Memperkuat Bahasa Serumpun di Asia Tenggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *