Dari Eceng Gondok Jadi Probiotik, Inovasi UB Bantu Pembudidaya Lele dan Nila

Must read

EDUCARE.CO.ID – Eceng gondok di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas kini mendapat fungsi baru. Universitas Brawijaya (UB) mengolah tanaman tersebut menjadi bahan fermentasi untuk membuat probiotik dan ecoenzyme.

Tim UB menjalankan inovasi itu melalui program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) JATIMPRO 2026. Mereka mengajak pembudidaya ikan lele dan nila di Dusun Tanggung, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang untuk mempelajari proses pengolahannya.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Brawijaya, tim memanfaatkan eceng gondok dari DAS Brantas sebagai bahan organik. Mereka mengolah biomassa tersebut melalui proses fermentasi untuk menghasilkan produk yang dapat mendukung kegiatan budidaya.

UB Ubah Eceng Gondok Jadi Produk Fermentasi

Eceng gondok dapat tumbuh dengan cepat di perairan. Pertumbuhan tersebut dapat menimbulkan persoalan ketika masyarakat tidak mengelolanya dengan baik.

Tim UB melihat kondisi tersebut sebagai peluang. Mereka mengolah biomassa eceng gondok agar kembali masuk ke dalam siklus produksi.

Ketua tim PMKI JATIMPRO 2026, Muhammad Fakhri, PhD dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, menjelaskan tujuan pendekatan tersebut.

“Pendekatan yang kami kembangkan adalah bagaimana bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi.”

Menurut Fakhri, tim menggunakan eceng gondok dari DAS Brantas sebagai salah satu bahan untuk membuat produk fermentasi berupa probiotik dan ecoenzyme.

Pembudidaya Lele dan Nila Ikut Praktik

Tim UB tidak hanya memberikan penjelasan secara teori. Mereka mengajak pembudidaya mengikuti setiap tahapan pengolahan secara langsung.

Peserta mempelajari cara menyiapkan bahan dan menyusun formulasi. Setelah itu, mereka mengikuti proses fermentasi dan melakukan pengukuran pH.

Tim juga mengajarkan cara menyimpan produk serta melakukan kontrol mutu sederhana. Langkah tersebut membantu masyarakat memahami kualitas produk sebelum menggunakannya dalam kegiatan budidaya.

Fakhri menilai praktik langsung dapat membantu masyarakat menguasai teknologi dengan lebih baik.

“Target kami adalah pembudidaya memahami prosesnya sehingga mampu memproduksi, mengevaluasi kualitas secara sederhana, dan memanfaatkannya secara mandiri,” katanya.

Dengan bekal tersebut, pembudidaya dapat mengembangkan proses pengolahan sesuai kebutuhan di lingkungan masing-masing.

Probiotik Bantu Pengelolaan Air Kolam

Budidaya ikan membutuhkan pengelolaan kualitas air yang baik. Sisa pakan dan feses dapat menambah bahan organik di dalam kolam.

Probiotik dapat membantu menguraikan bahan organik tersebut. Produk ini juga dapat mendukung pengelolaan kualitas air dalam sistem budidaya.

Sementara itu, tim memanfaatkan ecoenzyme untuk mendukung sanitasi sarana. Produk tersebut juga dapat membantu mengurangi bau dan menjaga lingkungan di sekitar kolam.

Pendekatan tersebut menyasar sejumlah persoalan yang sering muncul dalam budidaya ikan lele dan nila.

Eceng Gondok Punya Potensi Ekonomi

Pemanfaatan eceng gondok tidak berhenti pada upaya mengurangi biomassa di perairan. Masyarakat juga dapat mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Fakhri melihat peluang tersebut dari sisi lingkungan dan ekonomi.

“Apabila biomassa lokal dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, masyarakat memperoleh keuntungan ekologis sekaligus ekonomis.”

Menurut Fakhri, masyarakat dapat mengurangi beban bahan organik melalui pengolahan biomassa. Pada saat yang sama, hasil fermentasi dapat mendukung kegiatan budidaya ikan.

Pendekatan tersebut juga mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

UB Gandeng UM dan Unesa

Program PMKI JATIMPRO 2026 melibatkan akademisi dari beberapa perguruan tinggi.

UB menjadi salah satu penggerak utama program. Timnya terdiri atas Muhammad Fakhri, PhD, Prof. Dr. Eng. Riyanto Haribowo, Dr. I Made Dedi Mahariawan, Dr. Nasrullah Bai Arifin, dan Pratama Diffi Samuel, M.Ling.

Tim tersebut kemudian bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang (UM) melalui Dr. Otto Fajarianto.

Kolaborasi juga melibatkan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Arie Wardhono, PhD.

Kerja sama lintas kampus tersebut mempertemukan berbagai keahlian. Tim kemudian mengarahkannya pada teknologi yang dapat masyarakat gunakan secara langsung.

Dorong Budidaya Ikan yang Lebih Berkelanjutan

Tim UB berharap program ini dapat memperkuat hubungan antara pengelolaan lingkungan dan budidaya ikan.

Masyarakat tidak hanya belajar mengolah eceng gondok. Mereka juga belajar membuat produk, mengecek kualitas, dan menggunakannya untuk mendukung kegiatan budidaya.

Pendekatan tersebut dapat membuka peluang baru bagi pemanfaatan biomassa lokal. Pada saat yang sama, masyarakat dapat mengurangi limbah organik di lingkungan sekitar.

Tim UB juga ingin masyarakat mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri setelah program selesai.

Dengan cara itu, eceng gondok tidak hanya menjadi tanaman yang tumbuh di perairan. Masyarakat dapat mengubahnya menjadi bahan yang memiliki nilai guna bagi kegiatan budidaya ikan.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat membuka peluang pengembangan teknologi. Kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat pun dapat menghasilkan solusi yang lebih dekat dengan kebutuhan di lapangan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article