EDUCARE.CO.ID – Kementerian Kebudayaan menggelar Pagelaran Budaya Nusantara di Taman Reinwardt, Kebun Raya Bogor, sebagai bagian dari Festival Budaya Nasional 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk merayakan keberagaman budaya Indonesia sekaligus memperkuat peran kebudayaan dalam mempersatukan bangsa.
Dalam puncak kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan refleksi mengenai pentingnya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Ia menegaskan bahwa keberadaan Kementerian Kebudayaan perlu mendorong upaya pemajuan budaya secara lebih terarah.
“Dengan hadirnya Kementerian Kebudayaan, kita harus semakin fokus dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan juga pembinaan kebudayaan,” ujar Fadli Zon.
Pagelaran ini juga menjadi bagian dari perayaan megadiversitas budaya Indonesia. Menurut Fadli, keragaman tradisi, ekspresi seni, dan identitas daerah merupakan kekayaan bangsa yang perlu terus dirawat. Karena itu, masyarakat perlu melihat perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai alasan untuk terpecah.
Bhinneka Tunggal Ika Jadi Kekuatan Pemersatu Bangsa
Tanggal 17 Oktober diperingati sebagai Hari Kebudayaan dalam konteks peringatan 75 tahun penetapan aturan mengenai lambang dan semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana dijelaskan dalam materi kegiatan.
Fadli Zon menilai prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu atau unity in diversity mencerminkan pencapaian penting kebudayaan Indonesia. Prinsip tersebut menunjukkan bagaimana keberagaman dapat membangun ikatan sosial sekaligus memperkuat persatuan nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya memandang perbedaan budaya sebagai ancaman. Sebaliknya, keberagaman menjadi daya ikat atau binding power yang menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Oleh sebab itu, perayaan budaya perlu berjalan seiring dengan upaya pengembangan dan pelestarian. Dengan pendekatan tersebut, kekayaan budaya dapat menjadi modal bangsa untuk menghadapi tantangan masa depan.
Fadli turut menekankan pentingnya kolaborasi dalam pemajuan kebudayaan. Ia merujuk Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sebagai landasan bagi upaya tersebut.
Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja bersama komunitas, pegiat budaya, sektor swasta, individu yang peduli terhadap kebudayaan, hingga filantropis. Sinergi berbagai pihak akan membantu menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Festival Budaya Nasional 2026 Dorong Warisan Budaya Tetap Hidup

Festival Budaya Nasional 2026 mengusung tema “Indonesia Budaya yang Terus Hidup”. Tema ini menekankan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Fadli Zon menjelaskan bahwa konsep living heritage mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan warisan budaya melalui praktik, karya, dan aktivitas komunitas. Dengan demikian, situs budaya tidak hanya menjadi monumen yang menyimpan sejarah, tetapi juga ruang yang tetap memiliki makna bagi kehidupan masa kini.
Ia juga mendorong masyarakat untuk merayakan kekayaan budaya melalui berbagai kegiatan dan inovasi. Selain menjaga tradisi, masyarakat dapat mengembangkan potensi budaya agar memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
Menurut Fadli, pelindungan serta pewarisan budaya kepada generasi mendatang perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan yang bertanggung jawab. Melalui pendekatan tersebut, kebudayaan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
Dana Abadi Kebudayaan Buka Ruang bagi Komunitas
Untuk memperkuat pemajuan kebudayaan, Kementerian Kebudayaan mendorong keterlibatan komunitas melalui Dana Abadi Kebudayaan yang disalurkan melalui LPDP.
Fadli Zon menjelaskan bahwa dukungan tersebut diharapkan membantu komunitas, sanggar, dan padepokan mengembangkan kegiatan kebudayaan. Mekanisme kompetisi dan seleksi proposal menjadi salah satu jalur untuk mendukung inisiatif dari para pelaku budaya.
“Dana Indonesia Raya atau Dana Abadi Kebudayaan diharapkan menjadi instrumen untuk mempercepat pemajuan kebudayaan, termasuk bagi komunitas, sanggar, dan padepokan melalui mekanisme kompetisi dan seleksi proposal,” jelas Fadli Zon.
Dukungan tersebut dapat membuka peluang bagi pelaku budaya untuk mengembangkan program, mempertahankan tradisi, dan memperluas jangkauan karya mereka. Selain itu, keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga agar kebudayaan tetap tumbuh bersama masyarakat pendukungnya.
Pada akhir refleksinya, Fadli mengajak komunitas, sanggar, padepokan, seniman, dan budayawan dari berbagai bidang untuk memperkuat kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat mendukung pembangunan Indonesia yang maju, berbudaya, beradab, dan berdaya saing.
Sejumlah Pejabat Hadiri Pagelaran Budaya Nusantara
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kebudayaan Bambang Wibawarta, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, serta Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti.
Hadir pula Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan Fryda Lucyana dan Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri. Sejumlah pejabat lainnya juga mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Staf Khusus Menteri Bidang Hak Kekayaan Intelektual Putri Woelan Sari Dewi serta Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis.
Selain itu, hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Undri, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti.
Melalui Pagelaran Budaya Nusantara, Kementerian Kebudayaan kembali mengajak masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan partisipasi bersama agar tradisi tetap lestari sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Fadli Zon menegaskan bahwa kecintaan terhadap budaya merupakan bagian penting dari jati diri bangsa. Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu menghargai akar budaya, melestarikannya, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Berdasarkan sumber Kementerian Kebudayaan RI, Pagelaran Budaya Nusantara menjadi bagian dari upaya memperkuat kebinekaan dan mendorong pemajuan kebudayaan melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, seniman, serta masyarakat luas.

