Bukan Sekadar Membatik, ISI Padangpanjang Buka Jalan Penyandang Disabilitas Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif

Must read

EDUCARE.CO.ID – Seni dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, sekaligus membangun kemandirian. Semangat tersebut mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menggelar pelatihan membatik bagi kelompok penyandang disabilitas di Kota Padangpanjang.

Melalui Program Studi Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI Padangpanjang menggandeng Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padangpanjang dalam kegiatan tersebut.

Berdasarkan sumber ISI Padangpanjang, pelatihan ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dengan dukungan pendanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.

Program tersebut tidak hanya mengajarkan teknik membatik. Tim pengabdi juga mendorong peserta mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, kemandirian, serta peluang ekonomi melalui karya kriya.

Peserta Belajar Membatik dari Dasar

Pelatihan berlangsung dengan pendekatan partisipatif. Tim pengabdi menyesuaikan materi dan metode dengan kebutuhan setiap peserta.

Peserta memulai pembelajaran dari pengenalan alat dan bahan. Selanjutnya, mereka membuat desain, menyusun motif, dan memindahkan pola ke kain.

Peserta kemudian berlatih menggunakan canting dan malam. Mereka juga mempelajari proses pewarnaan hingga menyelesaikan produk batik.

Selain teknik batik tulis, instruktur memperkenalkan batik cap. Teknik tersebut dapat membantu peserta menghasilkan produk dengan proses yang lebih efisien.

Pendampingan secara langsung memberi peserta kesempatan untuk mencoba setiap tahapan. Mereka juga dapat mengeksplorasi motif dan gagasan visual sesuai kemampuan masing-masing.

Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Berkarya

Ketua Tim Pengabdian, Mutia Budhi Utami, S.Pd., M.Sn., menilai kegiatan tersebut dapat menjadi pintu awal bagi terbentuknya ekosistem seni yang lebih inklusif.

“Kami ingin memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya,” ujar Mutia.

Menurutnya, keterampilan membatik dapat menjadi sarana bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan sekaligus melihat peluang ekonomi dari karya yang mereka hasilkan.

Mutia juga menilai perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan keterampilan seni.

Karena itu, program pengabdian masyarakat perlu hadir dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran.

Kriya Tak Berhenti pada Keterampilan Teknis

Ketua Program Studi Kriya Seni ISI Padangpanjang, Hendra, S.Sn., M.Sn., mengatakan pembelajaran kriya memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menguasai teknik.

Menurut Hendra, proses berkarya memberi setiap peserta kesempatan mengolah ide, keterampilan, dan kreativitas menjadi produk yang memiliki nilai artistik maupun fungsi.

“Kami melihat kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran dan praktik kriya yang semakin inklusif,” ujarnya.

Ia menilai setiap peserta memiliki karakter dan potensi berbeda. Karena itu, pendamping perlu menyesuaikan metode pembelajaran agar peserta dapat mengembangkan kemampuan secara optimal.

ISI Padangpanjang juga ingin membawa peserta ke tahap berikutnya. Setelah menguasai teknik dasar, mereka dapat belajar mengembangkan desain dan meningkatkan kualitas produk.

Karya Batik Bisa Masuk Pasar Kreatif

Keterampilan membatik membuka banyak kemungkinan pengembangan produk. Peserta dapat mengolah kain batik menjadi aksesori, cendera mata, produk fesyen, maupun berbagai produk kriya lainnya.

Pengembangan tersebut dapat membuat keterampilan membatik menjadi aktivitas produktif. Pada tahap berikutnya, produk yang memiliki kualitas dan identitas kuat berpeluang masuk ke pasar ekonomi kreatif.

Hendra berharap proses pendampingan terus berlanjut setelah pelatihan selesai. Pengembangan desain, kualitas produk, pengemasan, branding, dan pemasaran menjadi beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian.

“Ke depan, kami berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan. Ada proses lanjutan yang dapat membantu peserta mengembangkan desain, meningkatkan kualitas produk, membangun identitas atau branding, sampai membuka akses pemasaran,” kata Hendra.

PISN Dorong Perguruan Tinggi Hadir di Masyarakat

Dukungan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kemdiktisaintek 2026 turut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk menerapkan keilmuan secara langsung di tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, kompetensi dosen dan mahasiswa dapat berkembang bersama kebutuhan masyarakat. Hasilnya pun tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat memberikan manfaat langsung kepada kelompok yang mengikuti program.

Dalam konteks pelatihan membatik, seni memiliki fungsi yang lebih luas. Kriya dapat menjadi media ekspresi, sarana pembelajaran, sekaligus jalan menuju pemberdayaan dan penguatan ekonomi kreatif.

Bangun Ruang Berkarya yang Setara

Kolaborasi ISI Padangpanjang dan PPDI Kota Padangpanjang menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki ruang yang sama untuk mengembangkan potensi di bidang seni.

Pendampingan yang berkelanjutan menjadi kunci agar keterampilan tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman pelatihan. Peserta membutuhkan dukungan untuk mengembangkan produk, membangun identitas karya, dan memperluas akses pasar.

Ke depan, program serupa diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni yang inklusif di Padangpanjang. Dengan begitu, semakin banyak penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkarya, membangun kemandirian, dan mengambil bagian dalam perkembangan ekonomi kreatif.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article