Bukan Cuma Jadi Keripik! Ubi Gadung Disulap SMKN 1 Curugbitung Jadi Pestisida

Must read

EDUCARE.CO.ID – Ubi gadung selama ini identik dengan keripik. Masyarakat Lebak, Banten, juga mengenal tanaman ini sebagai salah satu potensi sumber daya alam daerah.

Namun, SMKN 1 Curugbitung melihat peluang lain dari ubi gadung. Sekolah tersebut memanfaatkan kandungan alami tanaman itu untuk mengembangkan pestisida nabati bernama Bio Sirga.

Berdasarkan sumber Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi kemendikdasmen, inovasi tersebut menjadi salah satu produk unggulan sekolah di bidang pertanian. Pengembangannya juga melibatkan siswa dalam proses pembuatan.

SMKN 1 Curugbitung Lihat Potensi Lain Ubi Gadung

Ubi gadung tumbuh cukup melimpah di Kabupaten Lebak. Masyarakat setempat sudah lama mengolahnya menjadi berbagai produk, salah satunya keripik.

Pengolahan ubi gadung membutuhkan tahapan tertentu. Tanaman tersebut mengandung zat aktif yang dapat menimbulkan bahaya jika tidak melalui proses pengolahan yang tepat.

Kondisi tersebut justru menarik perhatian SMKN 1 Curugbitung. Sekolah melihat kandungan alami ubi gadung sebagai peluang untuk menghasilkan produk pertanian.

Alih-alih hanya mengolah umbinya sebagai makanan, sekolah memanfaatkan kandungan tersebut untuk membuat pestisida nabati.

Guru Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Curugbitung, Wiwit, menjelaskan awal mula ide tersebut.

“Masyarakat tahunya ubi gadung ya diolah menjadi keripik. Nah kita melihat kalau racun yang terkandung dalam ubi itu cukup aktif dan kenapa tidak kita manfaatkan menjadi pestisida alami,” ujar Wiwit.

Bio Sirga Manfaatkan Bahan dari Alam

Bio Sirga menggunakan ubi gadung sebagai salah satu bahan utama. Produk tersebut juga memanfaatkan daun sirih dalam formulanya.

Kombinasi bahan tersebut menghasilkan pestisida nabati yang dikembangkan untuk kebutuhan pertanian.

Inovasi ini sejalan dengan latar belakang SMKN 1 Curugbitung sebagai sekolah yang memiliki konsentrasi keahlian di bidang agribisnis tanaman pangan dan hortikultura.

Sekolah mengembangkan produk berdasarkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar. Kondisi lahan pertanian di wilayah Lebak turut membuka peluang untuk menghasilkan produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Wiwit mengatakan Bio Sirga hadir sebagai alternatif pemanfaatan ubi gadung yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan makanan.

Menurutnya, sekolah ingin menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan petani dan masyarakat yang memiliki hobi berkebun.

Siswa Ikut Membuat Bio Sirga

Proses pembuatan Bio Sirga melibatkan siswa SMKN 1 Curugbitung. Mereka mengikuti sejumlah tahapan untuk mengolah bahan hingga menjadi produk pestisida nabati.

Keterlibatan tersebut memberi siswa pengalaman praktik di luar pembelajaran teori. Mereka dapat melihat langsung bagaimana sebuah potensi lokal bisa berkembang menjadi produk.

Pengalaman seperti ini juga memperkenalkan proses inovasi kepada siswa. Mereka tidak hanya belajar mengenai tanaman, tetapi juga memikirkan cara memanfaatkan hasil alam untuk kebutuhan pertanian.

Bagi pendidikan vokasi, pengalaman tersebut memiliki nilai tersendiri. Siswa dapat menghubungkan kompetensi yang mereka pelajari dengan persoalan dan kebutuhan di lingkungan sekitar.

Dorong Alternatif Pengendalian Hama

Pengembangan Bio Sirga juga membawa pesan tentang pemanfaatan bahan nabati dalam pertanian.

Pestisida nabati dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengendalian hama. Penggunaannya tetap perlu menyesuaikan kebutuhan dan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Melalui produk ini, SMKN 1 Curugbitung mengenalkan pemanfaatan bahan alam kepada masyarakat. Sekolah juga menunjukkan bahwa potensi tanaman lokal dapat menghasilkan produk dengan fungsi yang berbeda.

Inovasi tersebut menjadi semakin relevan bagi wilayah yang memiliki aktivitas pertanian cukup kuat. Produk seperti Bio Sirga dapat menjadi bagian dari pembelajaran sekaligus pengembangan potensi daerah.

Pemasaran Bio Sirga Manfaatkan Media Sosial

Setelah mengembangkan produk, SMKN 1 Curugbitung memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan Bio Sirga.

Masyarakat yang ingin mengetahui produk tersebut dapat menemukan informasinya melalui Instagram dan TikTok Bio Sirga.

Pemanfaatan media sosial membuka akses yang lebih luas bagi produk inovasi sekolah. Informasi tidak hanya menjangkau lingkungan sekolah, tetapi juga masyarakat yang tertarik dengan produk pertanian berbahan nabati.

Strategi ini juga memperlihatkan bagaimana sekolah dapat memanfaatkan platform digital untuk mendukung pengembangan produk karya siswa dan guru.

Dari Ubi Gadung Menjadi Inovasi Pertanian

Bio Sirga menunjukkan cara berbeda dalam melihat potensi sumber daya alam lokal. Ubi gadung tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk pertanian.

SMKN 1 Curugbitung menggabungkan potensi tersebut dengan pembelajaran vokasi. Siswa ikut terlibat dalam proses pembuatan dan mengenal penerapan ilmu pertanian secara langsung.

Bagi Kabupaten Lebak, inovasi seperti ini juga memperlihatkan peluang pengembangan produk berbasis potensi daerah.

Bio Sirga akhirnya menjadi contoh bagaimana sekolah dapat mendorong siswa untuk melihat bahan yang ada di sekitar dengan sudut pandang baru.

Melalui inovasi tersebut, ubi gadung yang selama ini populer sebagai bahan keripik mendapat pemanfaatan lain. SMKN 1 Curugbitung mengolah potensinya menjadi bagian dari produk pestisida nabati yang bernama Bio Sirga.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article