Bahaya Memelihara Otter: Naluri Liar dan Ancaman Konservasi

EduNews

educare.co.id, Surabaya – Insiden gigitan otter kembali menyoroti risiko nyata dalam memelihara hewan eksotik sebagai peliharaan. Meskipun terlihat menggemaskan, otter tetap memiliki naluri liar yang dapat berbahaya bagi manusia. Selain itu, tidak semua jenis otter dapat dipelihara karena sebagian besar masuk dalam daftar satwa dilindungi.

Dosen Satwa Liar Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR, Aditya Yudhana, drh, MSi, menjelaskan bahwa otter sering disebut sebagai berang-berang dan merupakan mamalia semi-akuatik yang hidup di sekitar sungai atau rawa. Secara taksonomi, terdapat dua kelompok berang-berang yang berbeda.

Kelompok pertama adalah otter yang termasuk dalam ordo karnivora, bergantung pada konsumsi daging sebagai sumber utama nutrisi. Kelompok kedua adalah beaver dari ordo rodentia, yang merupakan herbivora dengan pola makan berbasis tumbuhan. Namun, beaver tidak ditemukan di habitat alami Indonesia.

“Otter di Indonesia berhabitat alami berada di tepi aliran air sebagai hewan semi akuatik. Otter akan mencari makan ikan, crustacea, udang, maupun kepiting,” jelasnya.

Indonesia memiliki empat jenis otter, dengan hanya satu spesies yang tidak berstatus dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018, yaitu berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus). Namun, populasi spesies ini terus menurun akibat eksploitasi yang tidak bertanggung jawab dan telah masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Perdagangan hewan eksotik di Indonesia bukanlah 100 persen hasil budi daya. Mayoritas penjual mendapatkan hewan tersebut dari alam. Jangan sampai terjadi eksploitasi untuk hobi yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Aditya.

Naluri Liar dan Risiko Zoonosis

Otter dewasa yang ditangkap langsung dari alam tidak dapat dijinakkan sepenuhnya karena naluri liarnya tetap dominan, sehingga dapat menyerang dengan cakaran atau gigitan. Selain itu, perdagangan hewan tanpa skrining kesehatan berisiko menularkan penyakit zoonosis seperti rabies, bakteri, parasit, dan jamur.

BACA JUGA:  AIIOC UNAIR Dapatkan Hibah Internasional untuk Perkuat Kolaborasi Transregional Asia-Afrika

“Jika otter berasal habitat alami dan sudah dewasa maka tidak dapat jinak sepenuhnya. Berbeda dengan hasil dari penangkaran ek-situ yang mungkin menurunkan sifat liar menjadi jinak,” katanya.

Aditya menekankan pentingnya memahami pola hidup otter yang terbiasa mengeksplorasi alam agar tidak mengalami stres, yang dapat meningkatkan agresivitasnya dan membahayakan pemiliknya. Ia juga mendukung upaya konservasi ek-situ untuk penyelamatan, pemeliharaan, dan peningkatan populasi, meskipun status perlindungan belum mencakup semua spesies otter.

Peran serta dokter hewan dalam meriset dan mengidentifikasi status kesehatan otter yang kini semakin meningkat sebagai hewan peliharaan eksotik. “Masih jarang riset pada otter menjadi tantangan yang concern skrining, identifikasi, sampai surveilans yang belum ada data detail hingga kini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *