Mahasiswa ITB Ciptakan TheraFeel, Sarung Tangan Terapi Cerdas bagi Penderita Cerebral Palsy
educare.co.id – Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil merancang TheraFeel, sebuah sarung tangan terapi semiotomatis untuk membantu penanganan pasien cerebral palsy. Inovasi ini dipamerkan dalam ajang Electrical Engineering (EE) Day yang digelar di Aula Timur Kampus ITB Ganesha pada 26–27 Juni 2025.
TheraFeel dikembangkan oleh Crysanta Caressa, Kent Frumentius, dan Noval Adi Prasetyo sebagai bagian dari proyek Tugas Akhir Capstone Design. Mereka menggarap proyek ini di bawah bimbingan Anggera Bayuwindra, S.T., M.T., Ph.D., dan Isa Anshori, S.T., M.Eng., Ph.D., sebagai bentuk respons terhadap masih minimnya pemanfaatan teknologi dalam alat bantu terapi tangan, khususnya bagi pasien cerebral palsy.
Cerebral palsy merupakan gangguan motorik yang memengaruhi kemampuan mengontrol gerakan dan postur tubuh. Terapi tangan merupakan salah satu pendekatan yang umum dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas sendi penderita. Namun, metode terapi konvensional masih bergantung pada gerakan manual dari terapis yang bersifat subjektif dan melelahkan secara fisik.
“Dalam praktik konvensional, biasanya terapis menggerakkan tangan pasien secara manual sambil menilai tingkat kekakuan otot, sehingga bisa dikatakan bahwa metode ini cenderung subjektif, sulit didokumentasikan, dan secara fisik cukup melelahkan bagi terapis. Oleh karena itu, kami mengembangkan alat terapi yang diharapkan dapat menilai kekakuan otot pasien cerebral palsy secara objektif tanpa menghilangkan peran terapis,” ujar Kent, dalam siaran tertulis itb (31/7).
Teknologi Responsif dan Terukur
TheraFeel menggunakan dua sarung tangan bermotor: satu dikenakan oleh terapis dan satu lagi oleh pasien. Ketika terapis menggerakkan tangannya, gerakan tersebut diteruskan ke tangan pasien melalui sistem kabel dan motor. Alat ini dilengkapi dengan berbagai sensor seperti flex sensor dan hall effect sensor yang mampu mendeteksi sudut gerak dan tingkat kekakuan otot. Seluruh sistem dikendalikan melalui microcontroller Arduino Uno dan ditenagai oleh sumber listrik internal.
Komponen utama alat ini bekerja dalam enam tahap sistematis: wear, move, track, respond, tension, dan feel. Dimulai dari pemasangan sarung tangan oleh terapis dan pasien (wear), hingga respons umpan balik haptik yang memungkinkan terapis merasakan hambatan gerak sebagai indikator kekakuan otot (feel). Data tersebut ditampilkan secara visual melalui antarmuka pengguna, sehingga mempermudah evaluasi perkembangan terapi pasien dari waktu ke waktu.
Berbeda dengan alat terapi otomatis yang sepenuhnya menggantikan terapis, TheraFeel dirancang untuk tetap mempertahankan peran aktif terapis sebagai pengendali utama. Sistem ini menawarkan pendekatan yang presisi dan interaktif tanpa mengesampingkan keterlibatan manusia dalam proses pemulihan pasien.

Prototipe TheraFeel yang dipamerkan di EE Day mendapat apresiasi dari pengunjung dan dosen pembimbing. Respons terhadap performa alat dan aplikabilitas sistemnya dinilai sangat menjanjikan.
“TheraFeel dinilai sangat potensial untuk digunakan. Menurut user, algoritma yang diterapkan dianggap aplikatif dan memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut, termasuk untuk terapi pada bagian kaki,” ujar Kent.
Keberhasilan tim tidak lepas dari sinergi dan kolaborasi yang solid antarmahasiswa. Partisipasi dalam ajang EE Day menjadi momen penting, tidak hanya sebagai sarana unjuk karya, tetapi juga untuk menerima masukan, bertukar ide, dan memperluas cakrawala pengembangan produk.
Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan yang aplikatif, TheraFeel menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan inovasi nyata yang berdampak langsung pada dunia kesehatan. Inisiatif ini membuka jalan bagi pengembangan teknologi rehabilitasi yang lebih canggih dan relevan untuk menjawab tantangan layanan medis di Indonesia.
