educare.co.id, Surabaya – Berangkat dari keprihatinan terhadap maraknya masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda, sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan berupa Intelligence Doll atau boneka pintar. Inovasi ini berhasil mengantarkan mereka lolos pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun ini.
Tim yang terdiri dari Muhammad Nur Aufa Habibi, Arya Maulana Al Hakim, Afdal Lunasri, Edbert Fernando, dan Aqila Fayyaza Nur Husna ini mengembangkan boneka tersebut dengan mengintegrasikan teknologi deep learning untuk mengenali ekspresi wajah dan suara pengguna. Mereka berada di bawah bimbingan dosen Dr. Riries Rulaningtyas, S.T., M.T.
Ketua tim, Muhammad Nur Aufa Habibi, menjelaskan bahwa boneka ini dirancang mampu memberikan tanggapan dalam bentuk suara berdasarkan analisis data yang diterima. Tak hanya itu, sistem juga dikembangkan untuk mengklasifikasikan tingkat depresi pengguna—ringan, sedang, atau berat.
“Hasil analisis tersebut akan menghasilkan output berupa suara sebagai respon percakapan dengan pengguna. Selain itu, hasil percakapan akan menghasilkan klasifikasi level depresi seperti ringan, sedang, atau berat. Dari hasil klasifikasi tersebut, boneka akan merespon sesuai level depresi,” ungkap Aufa, ketua kelompok dalam siaran tertulis unair (15/7).
Menghadirkan Pendekatan Baru dalam Dukungan Emosional
Inovasi boneka ini menjadi alternatif dari pendekatan interaktif yang selama ini lebih banyak berbasis aplikasi. Menurut Aufa, bentuk fisik boneka dapat memberikan sensasi kehadiran yang membuat pengguna merasa lebih nyaman dalam mencurahkan perasaan.
“Kalau bentuknya boneka, pengguna akan terasa ada wujud yang bisa untuk meluapkan keluh kesahnya. Sebab berdasarkan literatur, boneka dapat menghasilkan rasa nyaman pada pemiliknya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penggunaan boneka pintar selama ini lebih sering diterapkan pada pasien demensia, khususnya lansia. Melalui inovasi ini, mereka mencoba mengadaptasi teknologi tersebut untuk mendukung individu yang mengalami depresi, terutama dari kalangan Generasi Z.
Fokus Pengembangan dan Harapan Masa Depan
Sebagai mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Aufa mengakui bahwa tantangan utama setelah memperoleh pendanaan adalah meningkatkan akurasi sistem dalam mendeteksi kondisi psikologis pengguna. Oleh karena itu, mereka berencana untuk mengumpulkan lebih banyak data dari pasien yang telah terdiagnosis oleh profesional agar model dapat belajar dengan lebih akurat.
Meski tim mereka belum memiliki pengalaman dalam program PKM sebelumnya, mereka merasa bangga dapat lolos tahap pendanaan.
“Bahkan kami tidak menyangka bisa lolos. Sebab melihat tim kami yang belum memiliki pengalaman PKM sebelumnya,” utasnya.
Ke depan, mereka berharap produk Intelligence Doll ini dapat dikembangkan lebih lanjut hingga bisa dikomersialisasikan untuk memberikan dukungan psikologis yang lebih luas.
“Kami berharap Intelligence Doll bisa menjadi teman bicara untuk para Gen-Z yang mengalami gangguan mental depresi,” pungkasnya.



