Tim EAST ITB Raih Juara 3 dalam Kompetisi SIGMA 2025 Berkat Inovasi Prediksi Risiko DBD

EduNews EduSchool

educare.co.id, Bandung – Tim EAST dari Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Smart Innovation in Geospatial Mapping and Application (SIGMA) 2025, tim yang beranggotakan Mentari Khoerunnisa Azzahra, Aldi Firdiansyah, dan Fadila As-syifa Febriana berhasil meraih Juara 3.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Society of Exploration Geophysicists Universitas Padjadjaran Student Chapter Indonesia ini mempertemukan para peserta dari berbagai universitas di Indonesia. SIGMA 2025 berfokus pada pemanfaatan teknologi remote sensing untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di era digital 4.0.

Perjalanan Tim EAST dalam kompetisi ini tidaklah mudah. Mereka harus melewati beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan abstrak, pembuatan full paper, hingga presentasi di hadapan dewan juri pada 22 Februari 2025. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah membagi waktu antara persiapan lomba dan kewajiban akademik.

“Kami harus pintar mengatur waktu antara tugas akhir dan persiapan lomba. Awalnya memang terasa berat, tapi dengan konsistensi dalam berdiskusi dan membagi tugas, semua bisa teratasi,” ungkap Mentari.

Dalam kompetisi ini, Tim EAST mengusung penelitian berjudul Pemanfaatan Machine Learning dalam Pembangunan DB Susceptibility Index Berbasis WebGIS untuk Prediksi Risiko Demam Berdarah Dengue di Indonesia pada Tahun 2030. Inovasi ini bertujuan membangun DB Susceptibility Index (DBSI) berbasis WebGIS untuk memprediksi risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia pada tahun 2030.

Infografis Project Tim East, DB Susceptibility Index (DBSI) berbasis WebGIS. (Foto: ITB)

Melalui penelitian tersebut, tim memanfaatkan data penginderaan jauh dan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kerentanan terhadap DBD.

“Model DBSI dapat merepresentasikan peran faktor iklim, lingkungan, dan topografi dalam menentukan tingkat kerentanan DBD. Selain itu, integrasi data penginderaan jauh dengan metode PCA dan machine learning dapat meningkatkan akurasi pemodelan risiko DBD di Indonesia,” jelas Mentari.

BACA JUGA:  Siswa SMAN 1 Blora Ciptakan Banbag, Fesyen Ramah Lingkungan Dari Ban Bekas

Strategi yang diterapkan Tim EAST turut berperan besar dalam keberhasilan mereka. Membaca jurnal ilmiah untuk memperdalam wawasan, rutin melakukan brainstorming, hingga latihan presentasi menjadi kunci kesiapan mereka dalam menghadapi kompetisi.

“Kami juga sering bertukar pikiran untuk memastikan ide yang kami kembangkan solid dan inovatif. Selain itu, tentu saja doa dan kerja sama tim menjadi faktor utama keberhasilan kami,” tambah Mentari.

Menutup perbincangan, para anggota tim membagikan pesan inspiratif bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa.

“Ikut kompetisi seperti ini merupakan wadah yang baik untuk mengimplementasikan dan meningkatkan pemahaman serta menambah pengalaman, jadi jangan takut untuk ikut suatu kompetisi,” ujar Aldi.

Fadila juga menyampaikan pesannya, “Jangan takut untuk mencoba hal baru dan memanfaatkan kesempatan baru yang ada. Coba dalami minat dan kombinasikan dengan keilmuan yang dipelajari saat ini.”

Dengan inovasi yang dikembangkan, Tim EAST dari Teknik Geodesi dan Geomatika ITB berharap penelitian mereka dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan sistem peringatan dini DBD serta mendukung kebijakan mitigasi berbasis data dalam upaya mencapai target eliminasi DBD pada 2030.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *