Dua Siswa MAN IC Pekalongan Ciptakan Alat Deteksi Skoliosis, Raih Perak di Kompetisi Dunia

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dua siswa MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan membawa inovasi teknologi kesehatan ke panggung internasional. Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto yang tergabung dalam Tim SYFORCE berhasil meraih medali perak (Silver Medal) dengan peringkat keenam dalam kompetisi Young Inventors Challenge (YIC) 2026.

Panitia mengumumkan pencapaian siswa Angkatan 9 tersebut pada 4 November 2026. Keduanya mengembangkan karya penelitian berjudul “SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis”.

Melalui SIMUFLEX, Sulthan dan Alrizta merancang perangkat wearable yang memanfaatkan teknologi sensor fusion atau fusi sensor untuk mengukur kelengkungan tulang belakang. Inovasi ini menawarkan pendekatan berbasis teknologi untuk membantu proses deteksi awal skoliosis.

Pengembangan perangkat tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi sensor dalam bidang kesehatan. Selain menghadirkan gagasan baru, karya ini juga memperlihatkan kemampuan siswa madrasah dalam merancang solusi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.

SIMUFLEX Usung Teknologi Sensor untuk Mengukur Kelengkungan Tulang Belakang

SIMUFLEX menjadi karya andalan Tim SYFORCE dalam kompetisi YIC 2026. Tim ini mengangkat persoalan skoliosis, yakni kondisi ketika tulang belakang mengalami kelengkungan yang tidak normal.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Sulthan dan Alrizta mengembangkan sistem pengukuran berbasis perangkat yang dapat dikenakan. Mereka memanfaatkan teknologi sensor fusion untuk menggabungkan informasi dari sensor sehingga perangkat dapat membantu mengukur kelengkungan tulang belakang.

Pendekatan tersebut mempertemukan teknologi dan kebutuhan kesehatan dalam satu gagasan penelitian. Dengan demikian, SIMUFLEX tidak hanya menunjukkan kreativitas dalam merancang perangkat, tetapi juga memperlihatkan perhatian siswa terhadap pemanfaatan inovasi untuk mendukung masyarakat.

Meski demikian, kemampuan perangkat dalam mengukur kelengkungan tulang belakang berbeda dari kemampuan mendiagnosis skoliosis. Karena itu, pengujian akurasi dan validasi medis tetap diperlukan sebelum SIMUFLEX dapat digunakan sebagai alat diagnosis.

Delapan Tim Indonesia Ikuti Young Inventors Challenge 2026

Young Inventors Challenge 2026 merupakan kompetisi penelitian dan inovasi internasional yang diselenggarakan Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI). Ajang ini memberi ruang bagi pelajar tingkat menengah untuk mengasah kreativitas, membangun kolaborasi, serta mengembangkan produk dan solusi inovatif.

Para peserta mengangkat berbagai persoalan masyarakat melalui karya dari sejumlah bidang. Inovasi mereka mencakup teknologi, kesehatan, lingkungan, dan pertanian, termasuk solusi yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirimkan 16 murid terpilih yang tergabung dalam delapan tim untuk mengikuti kompetisi tersebut.

YIC 2026 berlangsung pada 12–19 Oktober 2026 di Jakarta. Dalam rangkaian kompetisi, para peserta mengikuti presentasi dan wawancara utama pada 17 Oktober 2026 untuk memaparkan gagasan sekaligus menjelaskan inovasi yang mereka kembangkan.

Keikutsertaan delapan tim tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan karya pelajar Indonesia dalam forum inovasi internasional. Melalui ajang ini, para siswa juga memperoleh kesempatan untuk menguji gagasan, bertukar pengalaman, dan mengenal perkembangan inovasi dari peserta lain.

Perjalanan Delegasi Indonesia Berawal dari OPSI 2025

Keberhasilan delapan tim Indonesia menembus finalis YIC 2026 tidak berlangsung secara instan. Para peserta terlebih dahulu melewati rangkaian seleksi dan pembinaan yang berawal dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025.

Sebanyak 12 tim yang terdiri atas 24 murid mengikuti kegiatan prapembinaan YIC pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta. Setelah itu, mereka menjalani pembinaan tahap I dan II untuk memperkuat gagasan penelitian serta mempersiapkan karya masing-masing.

Proses tersebut kemudian menghasilkan delapan tim yang berhasil masuk dalam jajaran 32 besar finalis YIC 2026. Selanjutnya, para finalis mempresentasikan karya dan mengikuti sesi wawancara utama pada 17 Oktober 2026.

Di antara delapan tim tersebut, SYFORCE dari MAN IC Pekalongan berhasil meraih medali perak melalui inovasi SIMUFLEX. Capaian ini sekaligus memperlihatkan kontribusi siswa madrasah dalam kompetisi penelitian dan inovasi tingkat internasional.

Kepala MAN IC Pekalongan Bangga atas Prestasi Tim SYFORCE

Kepala MAN Insan Cendekia Pekalongan, Dr. Akhmad Suhadak Solikin, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto.

Ia menilai capaian tersebut membuktikan bahwa siswa madrasah memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat internasional sekaligus menghadirkan gagasan inovatif yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

“Kami sangat bangga atas capaian luar biasa Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto. Keduanya telah mengharumkan nama MAN Insan Cendekia Pekalongan sekaligus Indonesia melalui raihan medali perak pada kompetisi internasional. Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa madrasah mampu berkompetisi dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Akhmad berharap keberhasilan tersebut dapat memotivasi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri. Ia juga mendorong para siswa agar memperkuat budaya riset dan berani menghasilkan karya inovatif yang mampu menjawab berbagai persoalan.

Menurutnya, capaian Tim SYFORCE mencerminkan peran madrasah dalam membentuk generasi yang unggul di bidang akademik dan keagamaan. Pada saat yang sama, madrasah juga memiliki potensi untuk melahirkan inovator muda yang kreatif, kompetitif, dan mampu berkontribusi di tingkat global.

“Prestasi ini sekaligus menjadi langkah nyata MAN Insan Cendekia Pekalongan dalam memperluas kontribusi dan kiprah madrasah di panggung internasional. Dari madrasah, lahir inovasi untuk dunia. Berprestasi di tingkat global, berkontribusi untuk masa depan,” tutupnya.

Prestasi Siswa Madrasah Dorong Penguatan Budaya Riset

Raihan medali perak YIC 2026 menambah catatan prestasi siswa MAN IC Pekalongan dalam bidang penelitian dan inovasi. Melalui SIMUFLEX, Sulthan dan Alrizta menunjukkan bahwa gagasan teknologi kesehatan juga dapat tumbuh dari lingkungan pendidikan madrasah.

Selain membawa nama sekolah dan Indonesia ke tingkat internasional, keberhasilan tersebut memberi dorongan bagi pengembangan budaya riset di kalangan pelajar. Sebab, proses penelitian mengajak siswa mengenali persoalan, menyusun gagasan, dan merancang solusi berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Di sisi lain, inovasi seperti SIMUFLEX memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara pendidikan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan pembinaan serta ruang pengembangan yang berkelanjutan, siswa dapat terus mengasah kemampuan untuk menghasilkan karya yang relevan.

Prestasi Tim SYFORCE pun menjadi pengingat bahwa madrasah memiliki ruang untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dari lingkungan pendidikan tersebut, para siswa dapat mengembangkan kreativitas sekaligus membawa gagasan mereka ke forum internasional.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article