EDUCARE.CO.ID – Limbah biji alpukat berpotensi menjadi bahan baku inovasi di bidang kesehatan. Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengembangkan AVO-SYNCHRO, sebuah gagasan hidrogel nanokomposit berbasis polifenol biji alpukat untuk mendukung pengembangan kandidat fitofarmaka bagi penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2).
Inovasi tersebut mengantarkan Andhika Syahdan Triansyah Agus dan Schmuel Matthew Muhea meraih Juara 4 Klaster Ilmu Alam dan Hayati dalam kompetisi BRINATHON (BRIN Idea Marathon). Ajang ini merupakan bagian dari Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFAIR) 2026 yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 21–23 September 2026 di Gedung BRIN Cibinong, Bogor.
Kedua mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKUI angkatan 2025 itu mengusung karya berjudul “AVO-SYNCHRO: Hidrogel Nanokomposit Polifenol Biji Alpukat–Pektin Terenkapsulasi Kitosan-Alginat sebagai Kandidat Fitofarmaka Triple-Target untuk Diabetes Melitus Tipe 2 melalui Modulasi Aksis Usus–Metabolik dan Pendekatan Green Chemistry Terukur.”
AVO-SYNCHRO Manfaatkan Polifenol Biji Alpukat
AVO-SYNCHRO menggabungkan polifenol dari biji alpukat dan pektin dalam formulasi hidrogel nanokomposit. Tim juga menggunakan kitosan-alginat sebagai bahan enkapsulasi untuk mendukung rancangan sistem penghantaran tersebut.
Melalui pendekatan triple-target, inovasi ini menyasar tiga enzim yang berkaitan dengan pengaturan kadar glukosa darah, yaitu α-amilase, α-glukosidase, dan DPP-IV. Ketiga target tersebut menjadi fokus pengembangan karena memiliki peran dalam proses metabolisme dan regulasi glukosa.
Tim memilih biji alpukat sebagai bahan utama karena bagian buah yang kerap menjadi limbah tersebut mengandung senyawa polifenol. Mereka ingin mengeksplorasi potensi senyawa tersebut sebagai bahan untuk pengembangan kandidat fitofarmaka.
Pendekatan ini sekaligus menghubungkan riset kesehatan dengan pemanfaatan sumber daya alam. Biji alpukat yang biasanya terbuang dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan material bernilai tambah.
Gunakan Teknologi Ekstraksi yang Lebih Ramah Lingkungan
Dalam pengembangan gagasannya, Andhika dan Schmuel mengangkat metode Subcritical Water Extraction. Teknik ini memanfaatkan air bertekanan pada kondisi tertentu untuk mengekstraksi senyawa dari bahan alam.
Metode tersebut menjadi bagian dari pendekatan green chemistry yang mereka usung. Tim ingin mengolah limbah biji alpukat melalui proses ekstraksi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengeksplorasi potensi kandungan polifenolnya.
Rancangan AVO-SYNCHRO juga mengintegrasikan pendekatan aksis usus–metabolik. Konsep ini menghubungkan kesehatan saluran pencernaan dengan proses metabolisme tubuh, termasuk pengaturan kadar glukosa.
Berdasarkan sumber laman resmi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pengembangan AVO-SYNCHRO mencakup pendekatan praklinis melalui metode in silico, in vitro, dan in vivo. Rangkaian pendekatan tersebut menjadi dasar untuk mengeksplorasi potensi formulasi dalam mendukung kontrol glikemik, melindungi sel beta pankreas, serta memengaruhi mikrobiota usus dan metabolit fungsional berupa short-chain fatty acids (SCFA).
Meski demikian, tim masih perlu mengembangkan dan menguji gagasan tersebut lebih lanjut. Hasil yang mereka paparkan belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa AVO-SYNCHRO sudah efektif sebagai terapi diabetes pada manusia.
Mahasiswa FKUI Berharap Inovasi Berlanjut ke Tahap Penelitian
Andhika menyampaikan rasa syukur atas pencapaian timnya. Ia juga mengapresiasi dukungan BRIN, LPDP, dan Universitas Indonesia selama proses pengembangan gagasan penelitian.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi dorongan untuk terus mengeksplorasi potensi biji alpukat melalui pendekatan kimia hijau. Namun, ia menegaskan bahwa AVO-SYNCHRO masih berada pada tahap perancangan ide dalam kompetisi.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada BRIN, LPDP, serta Universitas Indonesia atas dukungan penuh dalam riset ini. Capaian ini menjadi bukti bahwa limbah biji alpukat dapat diolah melalui pendekatan green chemistry menjadi gagasan inovasi fitofarmaka untuk diabetes. Meskipun karya ini masih berada pada tahap perancangan ide dan gagasan dalam kompetisi ini, kami berharap AVO-SYNCHRO dapat dikembangkan lebih lanjut, melalui tahapan penelitian dan uji klinis, hingga nantinya dapat diproduksi dan memberikan manfaat bagi pengelolaan diabetes di Indonesia,” ungkap Andhika.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa tim ingin membawa gagasan AVO-SYNCHRO melampaui kompetisi ilmiah. Pengembangan berikutnya perlu mencakup pembuktian ilmiah, pengujian keamanan, serta evaluasi efektivitas sebelum inovasi dapat mengarah pada pemanfaatan klinis.

Dekan FKUI Apresiasi Semangat Riset Mahasiswa
Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K), turut menyampaikan apresiasi atas pencapaian Andhika dan Schmuel. Ia menilai gagasan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam Indonesia menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam menjawab tantangan di bidang kesehatan.
“Selamat kepada Andhika dan Schmuel atas prestasi yang diraih. Kami mengapresiasi semangat dan kreativitas mahasiswa FKUI dalam menghadirkan gagasan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga berangkat dari potensi sumber daya alam Indonesia. Kami berharap pengalaman ini menjadi langkah awal bagi keduanya untuk terus mengembangkan kemampuan riset, berpikir kritis, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. FKUI akan terus mendorong mahasiswa untuk berani mengeksplorasi ide, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan,” tutur Prof. Anna.
Prestasi dalam BRINATHON 2026 menambah catatan kontribusi mahasiswa FKUI dalam kompetisi riset dan inovasi tingkat nasional. Gagasan AVO-SYNCHRO juga memperlihatkan peluang kolaborasi antara ilmu kedokteran, teknologi material, dan pemanfaatan bahan alam.
Melalui pengembangan tersebut, Andhika dan Schmuel berharap limbah biji alpukat dapat membuka peluang penelitian baru di bidang fitofarmaka. Meski masih memerlukan tahapan pembuktian, gagasan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mengeksplorasi sumber daya lokal untuk menjawab tantangan kesehatan.

