EDUCARE.CO.ID – Eceng gondok selama ini dikenal sebagai gulma yang tumbuh subur di perairan. Namun, tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melihat peluang lain dari tanaman tersebut. Mereka merancang pemanfaatan selulosa eceng gondok sebagai bahan nanokarier untuk membantu penghantaran obat bagi penderita nefropati diabetik.
Gagasan itu mengantarkan tim GreenGreen meraih dua penghargaan dalam ajang Gebyar Ilmiah Sains: Science Writing Competition 2026. Mereka membawa pulang Juara II dan penghargaan Best Paper pada kompetisi yang berlangsung di Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (31/10/2026).
Tim GreenGreen beranggotakan Ferdiansyah Darmawan dan Reza Ranidia Rahim dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), serta Kesumaningtyas Febrina Yusianto dari Fakultas Farmasi (FF) UNAIR.
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengangkat karya tentang nanokarier mukoadhesif pH-responsif yang menggabungkan selulosa eceng gondok dan kitosan. Tim merancang teknologi ini untuk membantu menghantarkan empagliflozin, obat yang berkaitan dengan penanganan diabetes, bagi penderita nefropati diabetik atau komplikasi diabetes yang menyerang ginjal.
Ubah Eceng Gondok Menjadi Bahan Inovasi Farmasi
Ketua tim, Ferdiansyah Darmawan, menjelaskan bahwa gagasan GreenGreen berangkat dari dua persoalan. Pertama, tingginya kasus diabetes beserta komplikasinya di Indonesia. Kedua, melimpahnya eceng gondok yang kerap tumbuh sebagai gulma perairan.
Tim kemudian menghubungkan persoalan kesehatan dan lingkungan melalui konsep waste to value. Mereka ingin mengolah tanaman yang kerap dianggap sebagai pengganggu ekosistem perairan menjadi material bernilai tambah bagi pengembangan teknologi farmasi.
“Melalui konsep waste to value, kami ingin mengubah limbah yang memiliki jumlah melimpah ini menjadi jawaban dari persoalan kesehatan,” ujar Ferdi.
Reza Ranidia Rahim menjelaskan bahwa tim memadukan selulosa eceng gondok dengan kitosan untuk membentuk sistem nanokarier. Mereka merancang material tersebut agar mampu melekat lebih lama pada dinding usus dan melepaskan obat secara bertahap mengikuti tingkat keasaman atau pH saluran pencernaan.
“Inovasi yang dibuat yakni pemanfaatan limbah jadi bahan farmasi, sifat menempel di mukosa usus, dan pelepasan obat yang menyesuaikan pH. Dengan begitu, obat punya waktu lebih lama untuk terserap pada tempat yang tepat sasaran,” ungkap Reza.
Rancang Nanokarier untuk Mengatur Pelepasan Obat
Nanokarier mukoadhesif merupakan sistem pembawa obat yang memiliki kemampuan melekat pada lapisan mukosa. Sementara itu, sifat pH-responsif memungkinkan sistem merespons perubahan tingkat keasaman di lingkungan saluran pencernaan.
Tim GreenGreen menggabungkan kedua karakteristik tersebut dalam rancangan penghantaran empagliflozin. Mereka berharap sistem ini dapat membantu obat bertahan lebih lama di lokasi penyerapan dan mengatur proses pelepasannya.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Airlangga, gagasan tersebut menggabungkan selulosa eceng gondok dan kitosan untuk merancang sistem penghantaran obat yang memiliki sifat mukoadhesif serta responsif terhadap pH.
Meski menawarkan konsep menarik, karya GreenGreen masih bertumpu pada kajian literatur. Tim belum menguji rancangan nanokarier tersebut melalui eksperimen. Karena itu, mereka masih perlu melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui karakteristik material, keamanan, kemampuan penghantaran, dan efektivitasnya.
Potensi Eceng Gondok untuk Pengembangan Terapi Diabetes
Anggota tim, Kesumaningtyas Febrina Yusianto, menjelaskan bahwa rancangan nanokarier tersebut berpotensi mendukung penyerapan dan efektivitas empagliflozin. Namun, ia menyadari bahwa tim masih perlu menguji lebih lanjut seluruh potensi tersebut.
“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi langkah awal menghadirkan terapi diabetes yang lebih efektif, terjangkau, dan ramah lingkungan,” terang Febri.
Gagasan GreenGreen memperlihatkan peluang pemanfaatan eceng gondok sebagai sumber material alternatif. Tanaman yang kerap menimbulkan persoalan di perairan itu dapat membuka peluang penelitian baru di bidang farmasi dan teknologi kesehatan.
Pendekatan tersebut juga menghubungkan inovasi kesehatan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Alih-alih hanya melihat eceng gondok sebagai gulma, tim mencoba menggali kandungan selulosanya untuk kebutuhan pengembangan material.
Namun, perjalanan menuju penerapan teknologi ini masih panjang. Peneliti perlu menjalankan serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan dan kinerja nanokarier sebelum mempertimbangkan penggunaannya dalam pengembangan produk farmasi.
Pesan Tim GreenGreen untuk Mahasiswa yang Ingin Berkompetisi
Selain mengembangkan gagasan inovasi, tim GreenGreen juga mengajak mahasiswa lain untuk berani mengangkat persoalan nyata di lingkungan sekitar. Mereka menilai kompetisi ilmiah dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan riset, menyusun gagasan, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikiran.
Tim menyarankan mahasiswa memilih topik sesuai minat dan memahami batasan karya yang mereka susun. Persiapan sesi tanya jawab juga penting karena bagian tersebut menguji pemahaman peserta terhadap gagasannya sendiri.
“Pilihlah topik yang benar-benar diminati, bersikap jujur atas batasan karya, dan persiapkan sesi tanya jawab dengan matang karena dari situlah pemahaman kita diuji,” pungkas tim GreenGreen.
Raihan Juara II dan Best Paper dalam kompetisi tingkat nasional tersebut menambah catatan prestasi mahasiswa UNAIR. Di sisi lain, gagasan mereka memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat menginspirasi penelitian yang menghubungkan bidang kesehatan, farmasi, dan keberlanjutan.
Melalui pemanfaatan selulosa eceng gondok dan kitosan, tim GreenGreen membuka peluang eksplorasi material alternatif untuk teknologi penghantaran obat. Penelitian lanjutan akan menentukan sejauh mana gagasan tersebut dapat berkembang menuju penerapan yang lebih luas.

