Ciptakan DIGIZONE-AR, Mahasiswa UNJ Bawa Pulang Gold Medal dari Kompetisi Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Delapan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) membawa pulang Gold Medal dari ajang International Invention and Innovative Competition 2026. Mereka menciptakan DIGIZONE-AR, sebuah modul pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) yang mengajak siswa sekolah menengah pertama mempelajari sistem pencernaan manusia secara lebih interaktif.

Tim UNJ mengikuti kategori Higher Institution Students: Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam kompetisi yang berlangsung secara daring pada 3 November 2026. Mereka mengusung karya berjudul “DIGIZONE-AR: An Augmented Reality Learning Module for the Human Digestive System for Junior School”.

Melalui inovasi tersebut, para mahasiswa memadukan teknologi AR dengan pendekatan visual dalam pembelajaran sains. Mereka ingin membantu siswa mengenali struktur organ sekaligus memahami proses kerja sistem pencernaan manusia melalui pengalaman belajar yang lebih menarik.

Delapan Mahasiswa UNJ Gabungkan Keahlian untuk Ciptakan DIGIZONE-AR

Fadiah Agustin memimpin tim yang terdiri atas delapan mahasiswa dari berbagai program studi UNJ. Empat anggota berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), yakni Fadiah Agustin dan Afrillia Nur’Ajizah Azhar dari Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2025, Khusni Mubarok dari Pendidikan Masyarakat, serta Alvin Frenando dari Manajemen Pendidikan.

Sementara itu, empat anggota lainnya berasal dari program studi berbeda. Mereka adalah:

  • Alkadiena Syiam Anggarani – Pendidikan Biologi
  • Gholi Kukuh Mustari – Pendidikan Teknik Elektro
  • Baiq Nada Nafiisa – Psikologi
  • Ardy Putra Wibowo – Teknik Mesin

Keberagaman latar belakang akademik memperkaya gagasan tim selama mengembangkan DIGIZONE-AR. Para mahasiswa menggabungkan pengetahuan pendidikan, teknologi, psikologi, dan ilmu pengetahuan untuk merancang media belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Setiap anggota turut membawa sudut pandang dari bidang keahliannya. Kolaborasi tersebut mempertemukan kebutuhan pembelajaran dengan peluang pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar.

DIGIZONE-AR Hadirkan Visual Interaktif untuk Materi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan manusia menjadi salah satu materi sains yang memerlukan penjelasan mengenai struktur organ dan proses biologis. Siswa perlu memahami hubungan antarbagiannya agar dapat mengenali cara kerja sistem tersebut secara utuh.

Melalui DIGIZONE-AR, tim UNJ menawarkan pendekatan visual dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality. Teknologi ini menghadirkan elemen digital yang dapat memperkaya pengalaman siswa ketika mempelajari materi sistem pencernaan.

Pendekatan tersebut memberi siswa kesempatan untuk mengeksplorasi materi melalui representasi visual. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya bergantung pada teks atau gambar dalam buku pelajaran.

Guru juga dapat memanfaatkan teknologi AR sebagai alternatif untuk menjelaskan konsep sains yang kompleks. Selain memperkaya metode mengajar, media interaktif dapat membantu pendidik menghadirkan variasi pengalaman belajar di kelas.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Negeri Jakarta, tim mengembangkan DIGIZONE-AR sebagai modul pembelajaran sistem pencernaan manusia bagi siswa sekolah menengah pertama. Karya tersebut menggabungkan pendekatan pendidikan dan teknologi melalui kolaborasi mahasiswa lintas program studi.

Fadiah Agustin: Gold Medal Memotivasi Tim Terus Berinovasi

Ketua tim, Fadiah Agustin, menyebut Gold Medal sebagai pencapaian berharga bagi seluruh anggota. Pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga memberi mereka kesempatan untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan.

Fadiah menjelaskan bahwa tim ingin menghadirkan pilihan media belajar yang lebih interaktif. Melalui DIGIZONE-AR, mereka berupaya membantu siswa memahami materi sistem pencernaan manusia dengan pendekatan visual.

“Melalui DIGIZONE-AR, kami ingin menghadirkan alternatif media pembelajaran yang lebih interaktif dan membantu siswa memahami materi sistem pencernaan manusia. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan karya yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan,” ungkapnya.

Bagi tim, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian dalam kompetisi. Mereka juga ingin menjadikan pengalaman ini sebagai dorongan untuk terus mengeksplorasi teknologi dan menciptakan karya yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Kolaborasi delapan mahasiswa dari berbagai bidang turut memperlihatkan pentingnya kerja sama dalam proses inovasi. Perpaduan keahlian memungkinkan mereka melihat persoalan pembelajaran dari sejumlah sudut pandang.

Inovasi DIGIZONE-AR Sejalan dengan Dua Tujuan SDGs

Selain mengembangkan media pembelajaran, tim UNJ mengaitkan inovasi DIGIZONE-AR dengan dua tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Keduanya mencakup bidang pendidikan dan pengembangan teknologi.

Pertama, SDGs poin 4 atau Quality Education menekankan pentingnya pendidikan berkualitas. Pemanfaatan AR dalam DIGIZONE-AR sejalan dengan upaya menghadirkan variasi media belajar dan memperkaya pengalaman siswa selama mengikuti pembelajaran.

Kedua, SDGs poin 9 atau Industry, Innovation, and Infrastructure mendorong pengembangan inovasi serta pemanfaatan teknologi. Dalam konteks tersebut, karya mahasiswa UNJ menunjukkan upaya menggunakan teknologi untuk menjawab kebutuhan di sektor pendidikan.

Kedua tujuan itu memperlihatkan hubungan antara perkembangan teknologi dan peningkatan kualitas pembelajaran. Mahasiswa dapat mengambil peran melalui pengembangan gagasan kreatif yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan pendidikan.

Prestasi Internasional Dorong Mahasiswa UNJ Kembangkan Inovasi Pendidikan

Gold Medal dalam International Invention and Innovative Competition 2026 menambah catatan prestasi mahasiswa UNJ di bidang pendidikan dan teknologi. Melalui DIGIZONE-AR, tim juga memperlihatkan potensi kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan gagasan inovatif.

Ke depan, teknologi AR dapat membuka lebih banyak kemungkinan dalam pengembangan media pembelajaran di sekolah. Namun, guru dan pengelola pendidikan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan siswa, kesiapan tenaga pendidik, ketersediaan fasilitas, serta kesesuaian teknologi dengan kurikulum.

Prestasi ini juga dapat mendorong mahasiswa lain untuk mengeksplorasi potensi akademik dan mengembangkan ide kreatif. Mereka tidak hanya dapat mengikuti kompetisi, tetapi juga menghasilkan karya yang menjawab tantangan masyarakat.

Melalui DIGIZONE-AR, delapan mahasiswa UNJ menunjukkan bahwa teknologi dapat memperkaya cara guru menyampaikan materi pembelajaran. Kolaborasi antardisiplin pun membuka peluang bagi lahirnya berbagai inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article