USK Ubah Pekarangan Warga Jadi Kebun Gizi, Cara Baru Cegah Diabetes dan Hipertensi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Universitas Syiah Kuala (USK) mengajak masyarakat mengoptimalkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi sekaligus ruang untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Melalui inovasi kebun gizi dan gamifikasi digital, USK mendorong warga Gampong Cot Suruy, Aceh Besar, untuk lebih aktif menjaga kesehatan keluarga.

Fakultas Keperawatan USK menjalankan program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) pada Rabu (4/11/2026). Program bertajuk Gamifikasi Hybrid dan Integrated Nutrition Farming System sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian Penyakit Kronik ini memadukan edukasi kesehatan, pertanian rumah tangga, dan pengolahan pangan.

Novi Afrianti memimpin tim pengabdian bersama Fitra Ridhana, Jufrizal, dan Dewiyuliana. Mereka juga mengajak tiga mahasiswa Fakultas Keperawatan USK, yakni Esma Husna Anandia Harahap, Nesha Putri Aulia, dan Salwa Audrea Safda, untuk terlibat dalam kegiatan tersebut.

Melalui program ini, tim mengajak masyarakat mengenali hubungan antara pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, dan risiko penyakit kronis. Warga juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan kebiasaan sehat melalui kegiatan bersama.

Gamifikasi Hybrid Ajak Warga Aktif Menjaga Kesehatan

Salah satu pendekatan utama program ini ialah Gamifikasi Hybrid. Metode tersebut menggabungkan aktivitas langsung di lingkungan masyarakat dengan dukungan teknologi digital.

Ketua tim, Novi Afrianti, menjelaskan bahwa gamifikasi dapat mendorong partisipasi warga melalui aktivitas yang lebih menarik. Masyarakat mengikuti tantangan kesehatan, mencatat aktivitas harian, mengumpulkan poin, dan memantau perkembangan mereka.

“Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk lebih aktif menerapkan perilaku hidup sehat melalui berbagai tantangan kesehatan, pencatatan aktivitas, pengumpulan poin, pemantauan capaian, dan pemberian penghargaan,” ucapnya.

Tim USK mengarahkan berbagai tantangan tersebut pada pencegahan penyakit kronis, terutama diabetes melitus dan hipertensi. Warga mengikuti edukasi kesehatan, melakukan aktivitas fisik bersama, serta memantau kondisi kesehatan secara berkala.

Selain itu, tim mengajak keluarga membiasakan konsumsi sayur dan buah. Kegiatan kebun gizi juga menjadi bagian dari tantangan agar warga dapat menghubungkan pengetahuan kesehatan dengan praktik sehari-hari.

Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya mendengarkan materi edukasi. Mereka juga menjalankan aktivitas yang mendukung pola hidup sehat di lingkungan masing-masing.

Sistem Pertanian Terpadu Ubah Pekarangan Jadi Kebun Gizi

Selain gamifikasi, tim Fakultas Keperawatan USK memperkenalkan Integrated Nutrition Farming System (INFS). Sistem pertanian terpadu berbasis pemenuhan gizi ini mengajak masyarakat mengelola pekarangan sebagai sumber bahan pangan keluarga.

Tim mengarahkan kegiatan INFS melalui empat komponen utama. Pertama, warga menanam sayuran menggunakan teknologi vertikultur untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas.

Kedua, masyarakat membudidayakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Ketiga, mereka mengolah limbah organik rumah tangga menjadi kompos. Keempat, warga memanfaatkan hasil panen untuk membuat produk pangan sehat.

Keempat kegiatan tersebut membentuk siklus pertanian rumah tangga yang saling mendukung. Pekarangan menghasilkan sayuran, sedangkan limbah organik kembali menjadi kompos untuk membantu budidaya tanaman.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Syiah Kuala, INFS menjadi salah satu pendekatan untuk menghubungkan pemenuhan gizi keluarga dengan upaya pengendalian penyakit kronis. Melalui sistem ini, warga belajar mengelola lahan, merawat tanaman, dan memanfaatkan hasil panen untuk kebutuhan pangan.

Hasil Panen Diolah Menjadi Mi Sayur dan Minuman Lidah Buaya

Tim pengabdian tidak hanya mengajak warga menanam dan memanen sayuran. Mereka juga memberikan pendampingan pengolahan hasil kebun menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Beberapa contoh produk yang muncul dalam kegiatan ini ialah mi sayur dan minuman berbahan lidah buaya. Kedua produk tersebut memperluas pilihan olahan pangan keluarga sekaligus mengenalkan cara memanfaatkan hasil pekarangan.

Novi Afrianti menjelaskan bahwa pengolahan hasil panen dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Warga tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga dapat mengeksplorasi usaha produktif melalui kelompok masyarakat.

“Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan sayuran lokal, memperluas pilihan pangan sehat keluarga, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha produktif berbasis kelompok masyarakat,” ucap Novi.

Karena itu, kegiatan pengolahan pangan menjadi bagian penting dalam rangkaian program. Masyarakat dapat mengembangkan kreativitas dalam mengolah bahan lokal sekaligus mengenali peluang usaha dari hasil kebun.

Padukan Kesehatan Keluarga dan Ketahanan Pangan

Novi menilai keterpaduan antara edukasi kesehatan dan ketahanan pangan keluarga menjadi salah satu keunggulan program. Menurutnya, masyarakat perlu membangun lingkungan yang mendukung kebiasaan sehat, bukan sekadar memahami informasi mengenai penyakit kronis.

Dalam pendekatan ini, setiap komponen memiliki fungsi yang saling melengkapi. Kebun gizi menyediakan sumber sayuran bagi keluarga, sementara pengolahan limbah organik membantu menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian.

Pada saat yang sama, gamifikasi mengajak warga mempertahankan keterlibatan melalui tantangan, pencatatan aktivitas, dan pemantauan capaian. Kombinasi tersebut menghubungkan kegiatan kesehatan dengan praktik pertanian di lingkungan masyarakat.

Pendekatan ini juga memberi pengalaman belajar secara langsung. Warga dapat mencoba kebiasaan baru, berdiskusi dengan sesama peserta, dan melihat perkembangan kegiatan yang mereka jalankan.

“Integrasi gamifikasi dan pertanian berbasis gizi diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi dan kebutuhan lokal,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, tim USK ingin memperkenalkan model pemberdayaan yang dapat menyesuaikan karakteristik setiap wilayah. Potensi lahan, ketersediaan bahan pangan, dan kebutuhan masyarakat menjadi pertimbangan dalam pengembangan kegiatan serupa.

LPPM USK Dukung Program Pengabdian Masyarakat

Universitas Syiah Kuala mendanai kegiatan ini melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM USK). Program tersebut masuk dalam Skema PKMBP-TTG Tahun Anggaran 2026.

Tim pengabdian menyampaikan apresiasi kepada LPPM USK atas dukungan pendanaan, fasilitasi, dan kepercayaan selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, tim juga mengapresiasi kontribusi Pemerintah Gampong Cot Suruy, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Kelompok Wanita Tani Udep Sare, kader kesehatan, dan masyarakat setempat turut membantu kelancaran program.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keterlibatan warga. Sebab, keberlanjutan kebun gizi dan kebiasaan hidup sehat membutuhkan partisipasi masyarakat, bukan hanya kegiatan sesaat dari tim pengabdian.

Melalui program ini, Fakultas Keperawatan USK ingin mendorong masyarakat mengoptimalkan pekarangan, memperluas pilihan pangan sehat, dan meningkatkan perhatian terhadap pencegahan penyakit kronis. Inovasi gamifikasi hybrid dan pertanian terpadu berbasis gizi juga membuka peluang bagi pengembangan program pemberdayaan serupa di wilayah lain.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article