EDUCARE.CO.ID – Siswa SMP Nasima Semarang menorehkan prestasi dalam kompetisi inovasi internasional International Invention Expo (IIIEX) 2026. Melalui Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), mereka membawa pulang lima medali emas dan tiga medali perak dari delapan karya inovasi.
Indonesian Young Scientist Association (IYSA) menggelar kompetisi tersebut bersama Politeknik Negeri Semarang (Polines). Para peserta mengembangkan gagasan dari berbagai bidang, mulai dari lingkungan, kesehatan, dan pangan hingga teknologi energi.
Capaian ini menunjukkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi persoalan dan mengembangkan ide menjadi karya penelitian. Selain itu, proses persiapan kompetisi juga melatih ketekunan, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama.
Kepala SMP Nasima, Yudina Tri Heryanti, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian anak didiknya. Menurutnya, delapan medali tersebut mencerminkan kerja keras para siswa selama menjalani penelitian dan mempersiapkan karya.
“Kami sangat bangga atas capaian anak-anak KIR SMP Nasima. Delapan medali yang diraih tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi sekolah, tetapi yang lebih penting adalah proses dan perjuangan yang telah mereka lalui. Mereka sudah bekerja keras, melakukan penelitian, berlatih, dan terus menyempurnakan karya hingga mampu tampil di ajang internasional. Kami sangat mengapresiasi semangat dan ketekunan mereka. Semoga prestasi ini menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus berkarya dan menghasilkan inovasi-inovasi berikutnya,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Lima Inovasi SMP Nasima Berhasil Meraih Medali Emas
Lima tim KIR SMP Nasima memperoleh medali emas melalui gagasan yang berfokus pada pemanfaatan limbah, pengembangan produk kesehatan, dan teknologi energi alternatif.
Masing-masing tim mengangkat persoalan berbeda. Berikut karya yang mengantarkan para siswa meraih penghargaan dalam IIIEX 2026.
1. ECO WRAP, Kemasan Alternatif dari Limbah Beras dan Kulit Kentang
Tim pertama mengembangkan ECO WRAP: Biodegradable Bubble Wrap Using Rice Waste and Potato Peels as A Sustainable Alternative of Plastic Packaging.
Melalui karya ini, para siswa memanfaatkan limbah beras dan kulit kentang sebagai bahan dasar alternatif kemasan gelembung atau bubble wrap. Mereka mengembangkan gagasan kemasan yang dapat terurai secara hayati untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.
Irsyad Dzaki Ramdhani memimpin tim ECO WRAP. Ia bekerja bersama Aulia Ramadhani Indrawan, Aidan Aigana, Sherly Mustika Wijaya, Aryo Bayu Aji Pamungkas, dan Melody Lentera Dirgantara.
2. CALMORA, Gummy dari Tanaman Sambung Nyawa dan Goji Berry
Selanjutnya, tim CALMORA meraih emas melalui karya Functional Gummy from Gynura procumbens and Lycium barbarum for Natural Pain Relief.
Inovasi ini menggabungkan tanaman sambung nyawa (Gynura procumbens) dan goji berry (Lycium barbarum) sebagai bahan pengembangan permen kenyal fungsional. Tim mengeksplorasi potensi kedua bahan tersebut dalam pengembangan produk yang ditujukan untuk membantu meredakan nyeri.
Daifa Athalia Callista Kusuma memimpin tim ini. Anggotanya meliputi Jovita Ghaeran Daniswara Jill Clearesta, Afika Inara Kamila Tanjung, Bilqiz Quinsha Amira, Marsya Vega Prabowo, dan Kaira Nafisa Oktarina Az Zahra.
3. PURE SWIPE, Tisu Penghapus Riasan Berbahan Sekam Padi
Inovasi ketiga mengangkat pemanfaatan sekam padi melalui karya PURE SWIPE: Biodegradable Makeup Remover Wipes Using Rice Husk as an Environmentally Sustainable Solution.
Tim PURE SWIPE mengembangkan konsep tisu penghapus riasan dengan bahan alternatif dari limbah pertanian. Mereka mengarahkan pengembangan produk pada penggunaan material yang lebih ramah lingkungan dan dapat terurai secara hayati.
Aisyah Novitasari bertindak sebagai ketua tim. Ia berkolaborasi dengan Alesha Anindya Putri, Nayla Ghaniyya Mahendra, Dzaka Welanda Al Fahim, Narastyka Helga Handoko, dan Fadhil Zumar Wikandinata.
4. Teknologi Piezoelektrik untuk Menghasilkan Energi Listrik
Berbeda dari tiga karya sebelumnya, tim keempat mengangkat teknologi energi melalui penelitian Mechanical-to-Electrical Energy Conversion Using Piezoelectric-Based Rumble Strips for Alternative Power Generation.
Gagasan tersebut mengeksplorasi pemanfaatan tekanan dan getaran mekanis pada pita penggaduh jalan atau rumble strips. Tim menggunakan teknologi piezoelektrik untuk mengubah energi mekanis menjadi energi listrik alternatif.
Rafif Ithar Agha Hamidhy memimpin pengembangan karya ini. Ia mendapat dukungan dari Ibrahim Ar Rayyan Putra Setyadi, Radithya Adkha Bramanty, Ivana Shafira Khairani, Janeeta Adonia Restiana, dan Elfara Dinarza Haq.
5. Safeview Glasses SVG 2.0, Kacamata dengan Sensor Ultrasonik
Sementara itu, Keenan Muhammad Nalalizza Arifin dan Fariz Widya Purnomo mengembangkan Safeview Glasses SVG 2.0: IoT-Based Glasses Innovation with Ultrasonic Sensor for Distance Warning in Smartphone Use.
Karya tersebut menawarkan konsep kacamata berbasis Internet of Things (IoT) yang memanfaatkan sensor ultrasonik. Sensor itu berfungsi mendeteksi jarak pengguna dengan telepon pintar dan memberikan peringatan ketika jarak terlalu dekat.
Melalui inovasi ini, kedua siswa mengeksplorasi pemanfaatan teknologi sensor untuk mendukung kebiasaan penggunaan ponsel yang lebih memperhatikan jarak pandang.
Tiga Karya Lainnya Membawa Pulang Medali Perak
Selain lima medali emas, tiga tim KIR SMP Nasima juga meraih medali perak. Ketiganya mengembangkan inovasi di bidang kemasan pangan, kesehatan kulit, dan produk makanan bernutrisi.
Berikut rincian karya yang memperoleh penghargaan tersebut.
1. Drava, Kemasan Pangan dari Kulit Singkong dan Buah Naga
Tim Drava meraih medali perak melalui karya Edible Film From Cassava Peel Incorporated With Dragon Fruit Peel For Beverage Packaging Applications With Gastroprotective Benefit.
Para siswa mengembangkan konsep edible film atau lapisan kemasan pangan yang dapat dimakan. Mereka memanfaatkan kulit singkong dan kulit buah naga sebagai bahan alternatif untuk aplikasi kemasan minuman.
Selain mengangkat pemanfaatan limbah bahan pangan, penelitian ini juga mengeksplorasi potensi bahan yang digunakan dalam kaitannya dengan manfaat gastroprotektif.
Radhitya Haykal Pratama memimpin tim Drava bersama Aisyah Salsabila Adi, Carelio Razka Pratama, Bondan Dwi Kartiko, Revaluna Faustin Aldea, dan Arya Satya Maulana.
2. Impeticare, Krim Berbahan Belimbing Wuluh dan VCO
Berikutnya, tim Impeticare memperoleh medali perak melalui karya Hydrocream Formulation Based On Averrhoa Bilimbi And Virgin Coconut Oil As A Topical Solution For Impetigo.
Tim ini mengembangkan formulasi krim dengan memadukan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). Penelitian tersebut mengeksplorasi potensi formulasi untuk penggunaan topikal pada impetigo, yaitu infeksi bakteri yang menyerang kulit.
Keisha Nathania Azzahra memimpin tim Impeticare. Ia berkolaborasi dengan Alfatih Khairul Azzam, Ken Yodya Hudoyo, Devira Filzah Arifin, Naufalul Akbar, dan Muhammad Dzaky Athaya P.
3. NutriBloom Crunch, Camilan dari Ikan Teri dan Bayam
Medali perak ketiga datang dari karya NutriBloom Crunch: A Nutritious Cracker from Anchovy and Spinach as a Prevention of Anemia in Children.
Tim NutriBloom Crunch mengembangkan produk makanan ringan atau cracker dengan bahan ikan teri dan bayam. Mereka mengangkat kebutuhan nutrisi anak sebagai dasar pengembangan produk, sekaligus mengeksplorasi potensi bahan pangan tersebut dalam mendukung upaya pencegahan anemia.
Tazkia Afena Qurrota Ayun memimpin tim ini. Anggotanya terdiri atas Naira Fazilatun Nissa, Savrinadeya Ashalin Yudha, Masayu Ayaziya Khalifa, Zerlina Edria Suyadi, dan Yasmin Raisa Salsabila.
Delapan penghargaan tersebut berasal dari karya KIR yang mencakup beragam bidang penelitian. Sekolah menyoroti proses pengembangan gagasan, ketekunan selama penelitian, dan kolaborasi antarsiswa sebagai bagian penting dari pencapaian tersebut.
SMP Nasima Bangun Budaya Riset dan Inovasi Sejak Dini
Kepala SMP Nasima, Yudina Tri Heryanti, menilai kompetisi internasional memberikan pengalaman yang lebih luas bagi para siswa. Mereka tidak hanya menguji gagasan melalui penelitian, tetapi juga belajar menyampaikan hasil karya dan menghadapi tantangan kompetisi.
Menurutnya, kegiatan KIR dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta bekerja sama dalam tim. Keterampilan tersebut juga berguna dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.
Ragam inovasi yang muncul dalam IIIEX 2026 memperlihatkan bahwa siswa sekolah menengah pertama mampu mengeksplorasi berbagai persoalan di sekitarnya. Mereka mengangkat isu limbah pertanian, kebutuhan kemasan ramah lingkungan, pengembangan produk pangan, kesehatan, hingga pemanfaatan energi alternatif.
Karena itu, sekolah berharap capaian ini dapat mendorong semakin banyak siswa untuk terlibat dalam kegiatan penelitian. Dukungan lingkungan belajar dan pendampingan guru juga berperan dalam membantu mereka mengembangkan rasa ingin tahu serta menguji gagasan secara terarah.
Delapan medali dari IIIEX 2026 menjadi catatan prestasi bagi SMP Nasima Semarang. Namun, pengalaman meneliti, bekerja sama, dan mengembangkan solusi juga menjadi bekal penting bagi para siswa untuk terus berkarya pada masa mendatang.

