Raih Medali Emas Internasional, Mahasiswa UPI Ciptakan Sistem Penyelamat Pendaki di Area Blank Spot

Must read

EDUCARE.CO.ID – Enam mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meraih Gold Award dalam ajang International Invention & Innovative Competition (InIIC) 2026. Mereka mengembangkan MeshRescue, sistem komunikasi darurat yang memungkinkan pendaki mengirimkan pesan SOS dari kawasan tanpa sinyal seluler.

Kompetisi yang diselenggarakan MNNF Network, Malaysia, tersebut berlangsung pada Sabtu (31/10/2026). Tim UPI mengikuti kategori Higher Institution Students – Science, Technology, Engineering & Mathematics (STEM).

Selain membawa pulang medali emas, MeshRescue juga terpilih sebagai salah satu YouTube Lucky Draw Winners. Karya tersebut turut memperoleh ruang publikasi sebagai Chapter 15 dalam buku Compilation of Research Papers on STEM terbitan MNNF Publisher, Malaysia.

MeshRescue Hadir untuk Bantu Pendaki di Area Tanpa Sinyal

MeshRescue berangkat dari persoalan komunikasi yang kerap muncul dalam kegiatan pendakian, terutama ketika seseorang mengalami keadaan darurat di kawasan tanpa jangkauan jaringan seluler atau blank spot.

Dalam situasi tersebut, pendaki dapat kesulitan menghubungi petugas maupun tim penyelamat. Kondisi ini membuat penyampaian informasi mengenai lokasi dan keadaan korban menjadi tantangan tersendiri.

Tim mahasiswa UPI mencoba menjawab persoalan itu melalui sistem komunikasi antarsmartphone. MeshRescue memungkinkan perangkat saling terhubung dan meneruskan pesan darurat tanpa bergantung pada jaringan seluler konvensional.

Sistem ini membawa pesan SOS beserta koordinat GPS korban. Informasi tersebut kemudian dapat bergerak dari satu perangkat ke perangkat lain hingga mencapai pos tim penyelamat.

Gabungkan Bluetooth dan Wi-Fi Direct untuk Teruskan Pesan SOS

Dari sisi teknologi, MeshRescue mengandalkan Bluetooth Low Energy (BLE) dan Wi-Fi Direct untuk membangun jaringan komunikasi antarsmartphone.

Kedua teknologi tersebut memungkinkan perangkat bertukar informasi secara langsung. Dengan demikian, pengguna tidak harus selalu terhubung ke jaringan operator seluler untuk meneruskan pesan darurat.

MeshRescue juga menerapkan mekanisme store-carry-forward. Melalui mekanisme ini, perangkat menyimpan pesan terlebih dahulu, lalu membawanya hingga menemukan perangkat lain yang dapat meneruskan informasi tersebut.

Proses pengiriman berlangsung secara berantai. Pesan SOS dan koordinat lokasi korban dapat berpindah ant perangkat sampai menjangkau perangkat yang terhubung dengan pos penyelamatan.

Selain itu, tim menyematkan fitur digital triage untuk mengatur prioritas pengiriman pesan. Fitur ini secara otomatis menempatkan informasi berdasarkan tingkat kedaruratan kondisi korban.

Dengan pengaturan tersebut, pesan yang berkaitan dengan kondisi lebih mendesak memperoleh prioritas dalam proses pengiriman. Fitur ini menjadi bagian penting dari rancangan MeshRescue untuk mendukung komunikasi dalam situasi penyelamatan.

Berawal dari Tugas Mata Kuliah Fisika Modern

Menariknya, MeshRescue tidak bermula dari proyek komersial atau laboratorium pengembangan teknologi khusus. Gagasan ini justru tumbuh dari tugas mata kuliah Fisika Modern di Program Studi Fisika FPMIPA UPI.

Enam mahasiswa yang mengembangkan inovasi tersebut ialah Pandu Ihsanul Nurzaman, Alifian Nur Fadilah, Anwar Sabiq, Arvenda Anggara Putra, Muhamad Rivan Kusuma, dan Tanisa Dalilatul Wafda.

Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si. membimbing tim dalam proses pengembangan proyek. Kegiatan akademik ini juga melibatkan tim dosen pengampu, yakni Dr. Djudistira Aria, Suci Ramayanti, Ph.D., dan Feri Apriyandi, M.Si.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Pendidikan Indonesia, proyek MeshRescue menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang menghubungkan teori fisika dengan persoalan nyata di masyarakat.

Dosen pembimbing sekaligus pengampu mata kuliah Fisika Modern, Dr. Selly Feranie, menyampaikan bahwa pembelajaran tersebut mengacu pada tiga prinsip utama, yaitu teknologi, masyarakat, dan solusi.

“Kami merancang pembelajaran Fisika Modern dengan tiga kata kunci utama, yaitu Teknologi, Masyarakat, dan Solusi. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menguasai kompetensi pengetahuan fisika standar nasional, tetapi juga terlatih melakukan eksplorasi masalah riil di lapangan hingga merancang desain solusinya,” ujar Dr. Selly Feranie.

UPI Terapkan Penilaian Berbasis Proyek

Pendekatan pembelajaran Fisika Modern di UPI juga memberi ruang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan karya. Menurut Dr. Selly, komposisi penilaian mata kuliah tersebut terdiri atas 60 persen proyek dan 40 persen komponen akademis.

Skema ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengejar hasil ujian tertulis. Mereka juga perlu mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan inovasi yang memiliki manfaat sosial.

“Pendekatan berbasis proyek ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada nilai ujian kertas, tetapi juga terdorong mengasah kreativitas, kolaborasi, dan inovasi yang berdampak sosial. Sebagai bentuk apresiasi kampus, tim yang berhasil meraih minimal medali perak di tingkat internasional secara otomatis mendapatkan nilai sempurna untuk komponen proyek,” jelasnya.

Capaian MeshRescue di InIIC 2026 memperlihatkan hasil dari pendekatan tersebut. Tugas perkuliahan berkembang menjadi gagasan teknologi yang memperoleh pengakuan dalam kompetisi internasional.

MeshRescue Buka Peluang Pengembangan Teknologi Penyelamatan

Raihan Gold Award di InIIC 2026 menjadi pencapaian bagi enam mahasiswa Fisika UPI sekaligus memperkenalkan potensi teknologi komunikasi darurat berbasis perangkat seluler.

MeshRescue menawarkan pendekatan komunikasi yang dapat membantu penyampaian informasi ketika jaringan seluler tidak tersedia. Kombinasi Bluetooth Low Energy, Wi-Fi Direct, mekanisme store-carry-forward, dan fitur digital triage menjadi fondasi utama sistem tersebut.

Ke depan, pengembangan teknologi seperti MeshRescue tetap memerlukan pengujian dalam kondisi lapangan. Tim perlu memastikan jangkauan komunikasi, keandalan penerusan pesan, ketepatan koordinat GPS, serta kinerja sistem ketika banyak perangkat terhubung.

Aspek keamanan data dan kemudahan penggunaan juga penting, terutama karena sistem ini menyangkut informasi lokasi serta kondisi korban dalam situasi darurat.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa Fisika UPI menunjukkan bahwa ruang kuliah dapat menjadi titik awal pengembangan solusi teknologi. MeshRescue sekaligus memperlihatkan bagaimana pembelajaran berbasis proyek dapat menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article