EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (FOK UNG), mengkaji potensi biji kelor sebagai koagulan alami untuk pengolahan air. Mereka memaparkan inovasi tersebut dalam Seminar Akhir Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) III.
Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Instalasi PDAM Bulotadaa, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo.
Dalam kajian ini, mahasiswa mengeksplorasi penggunaan biji kelor (Moringa oleifera) untuk membantu mengurangi kekeruhan air. Mereka juga mengamati perubahan pH sebagai salah satu indikator kualitas air.
Biji kelor menarik perhatian karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Bahan alami ini juga membuka peluang pengembangan alternatif dalam proses pengolahan air. Namun, peneliti tetap perlu menguji efektivitasnya melalui metode ilmiah.
Mahasiswa UNG Kaji Biji Kelor untuk Pengolahan Air
Seminar akhir PBL III menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memaparkan gagasan dan hasil kegiatan lapangan. Mereka membahas potensi biji kelor dalam proses penjernihan air serta cara mengevaluasi perubahan kualitasnya.
Mahasiswa menyoroti dua parameter utama, yaitu kekeruhan dan pH. Pengukuran kekeruhan membantu menggambarkan tingkat kejernihan air. Sementara itu, nilai pH menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan air.
Kedua parameter tersebut membantu mahasiswa memahami proses evaluasi kualitas air. Meski demikian, hasil pengukuran kekeruhan dan pH saja belum cukup untuk memastikan keamanan air.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga belajar menghubungkan teori kesehatan lingkungan dengan persoalan nyata. Mereka berlatih mengamati kondisi lapangan, menganalisis masalah, dan menyusun alternatif solusi.
Dosen FOK UNG Dorong Pengujian Bahan Alami
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Tri Septian Maksum, S.KM., M.Kes., menilai biji kelor memiliki potensi untuk dikaji sebagai koagulan alami. Menurutnya, mahasiswa perlu mengeksplorasi sumber daya di sekitar melalui pendekatan ilmiah.
“Pemanfaatan biji kelor sebagai koagulan alami merupakan gagasan inovatif yang dapat dikembangkan melalui pendekatan ilmiah. Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori pengolahan air, tetapi juga mampu mengeksplorasi potensi bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuan analisis, melakukan evaluasi terhadap parameter kualitas air, serta menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi pengembangan kesehatan lingkungan,” ungkap Tri Septian Maksum.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengujian terukur dalam pengembangan inovasi pengolahan air. Pengujian tersebut membantu peneliti menilai efektivitas biji kelor secara objektif.
Selain mengukur kekeruhan dan pH, peneliti perlu memeriksa parameter kualitas air lainnya. Pemeriksaan menyeluruh membantu menentukan kesesuaian air dengan standar yang berlaku.
PBL III Latih Mahasiswa Mengatasi Masalah Lingkungan
Seminar akhir ini menjadi bagian dari evaluasi kegiatan PBL III. Melalui program tersebut, mahasiswa mendapat kesempatan untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam lingkungan kerja nyata.
Mahasiswa belajar mengidentifikasi persoalan, menyusun alternatif penyelesaian, dan menyampaikan temuan secara ilmiah. Pengalaman lapangan juga melatih kemampuan analisis serta komunikasi mereka.
Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk mengembangkan gagasan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Mereka juga dapat memahami peran ilmu kesehatan lingkungan dalam mendukung pengelolaan air.
Potensi Biji Kelor Masih Perlu Penelitian Lanjutan
Kajian mahasiswa FOK UNG membuka peluang penelitian mengenai bahan alami untuk mendukung pengolahan air. Meski begitu, potensi biji kelor belum otomatis membuktikan bahwa bahan tersebut dapat menghasilkan air yang aman untuk konsumsi.
Peneliti perlu melakukan pengujian lanjutan terhadap berbagai parameter kualitas air. Hasilnya dapat membantu menentukan efektivitas penggunaan biji kelor serta kesesuaiannya dengan standar yang berlaku.
Melalui PBL III, FOK UNG mendorong mahasiswa untuk berinovasi dan menerapkan ilmu kesehatan lingkungan. Upaya ini juga membuka ruang bagi pengembangan teknologi pengolahan air yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan sumber laman resmi FOK UNG, mahasiswa mengkaji potensi biji kelor sebagai koagulan alami dalam pengolahan air. Kajian tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan dan membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan bahan alami untuk penjernihan air.

