EDUCARE.CO.ID – Pendidikan kesetaraan perlu mengikuti perkembangan teknologi agar lulusannya memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Selain mengejar ijazah, peserta didik juga perlu menguasai kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, serta memanfaatkan teknologi digital. Karena itu, keterampilan koding dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mulai mendapat perhatian dalam pengembangan pembelajaran.
Topik tersebut mengemuka dalam program Kita Indonesia di Pro 1 RRI Singaraja, Kamis (22/10/2026). Dialog bertajuk “Bukan Sekadar Mengejar Ijazah! Akselerasi Pendidikan Kesetaraan Berbasis Koding dan AI Menuju Indonesia Emas” itu menghadirkan akademisi Singaraja, Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd.
Dalam dialog tersebut, Ayu menjelaskan bahwa pembelajaran koding tidak selalu menuntut peserta didik membuat robot atau menguasai pemrograman tingkat lanjut. Sebaliknya, pendidik dapat menggunakan koding untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Melalui proses ini, peserta didik juga belajar mencari solusi atas persoalan yang mereka temui sehari-hari.
Koding Melatih Pola Pikir dan Kemampuan Memecahkan Masalah
Dalam pendidikan kesetaraan, pendidik dapat mengenalkan koding melalui proyek yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka dapat mengajak peserta didik mengamati persoalan di lingkungan sekitar, menyusun gagasan, lalu merancang solusi sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, peserta didik dapat mengembangkan keterampilan menganyam menjadi proyek pembelajaran. Mereka tidak hanya berlatih menghasilkan produk, tetapi juga belajar merancang pola, memilih bentuk yang menarik, dan meningkatkan daya saing produk di pasar.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar menghubungkan ide dengan kebutuhan nyata. Mereka juga berlatih menyusun langkah kerja secara teratur, menguji gagasan, dan memperbaiki hasil ketika menemukan kendala.
Menurut Ayu, proses mengenali masalah, merumuskan ide, hingga mengembangkan produk mencerminkan penerapan pola pikir komputasional. Dengan demikian, peserta didik dapat mempelajari dasar pemikiran komputasional tanpa harus selalu menggunakan perangkat digital atau menulis kode program.
AI Membantu Pembelajaran, tetapi Manusia Tetap Memegang Kendali
Selain koding, kecerdasan artifisial dapat membantu peserta didik menyelesaikan tugas, mencari inspirasi, dan mengembangkan proyek. Misalnya, mereka dapat memanfaatkan AI untuk mencari alternatif desain, menyusun kerangka gagasan, atau memahami materi yang belum mereka kuasai.
Meski begitu, pendidik tetap perlu membimbing peserta didik saat menggunakan teknologi tersebut. Mereka perlu mengajarkan cara memeriksa informasi, menilai ketepatan jawaban, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab. Peserta didik juga harus tetap mengandalkan pemikiran sendiri, bukan sekadar menerima hasil dari teknologi.
“AI ini bukan dewa. AI ini adalah alat yang bisa membantu kita, yang pintar itu manusianya,” ujar Ayu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia. Oleh sebab itu, pembelajaran perlu mendorong peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, penalaran, dan tanggung jawab ketika memanfaatkan AI.
Pembelajaran Koding dan AI Perlu Menyesuaikan Jenjang
Penerapan koding dan AI juga perlu mempertimbangkan jenjang pendidikan serta kemampuan peserta didik. Dengan pendekatan yang sesuai, pendidik dapat mengenalkan teknologi secara bertahap tanpa membebani peserta didik dengan materi yang terlalu kompleks.
Pada Paket A yang setara dengan sekolah dasar, pendidik dapat menggunakan permainan edukatif, ilustrasi, dan proyek tematik sederhana. Melalui aktivitas tersebut, peserta didik mulai mengenal urutan instruksi, pola, dan hubungan sebab-akibat.
Selanjutnya, pada Paket B yang setara dengan sekolah menengah pertama, pendidik dapat mengajak peserta didik melakukan penelitian sederhana. Mereka bisa mengumpulkan informasi, membandingkan temuan, lalu menyampaikan pendapat berdasarkan bukti yang tersedia. Dengan cara ini, pembelajaran turut mengasah kemampuan analisis dan berpikir kritis.
Sementara itu, peserta didik Paket C yang setara dengan sekolah menengah atas dapat mengerjakan proyek pemecahan masalah yang lebih kompleks. Mereka dapat memilih persoalan di lingkungan sekitar, menganalisis penyebabnya, kemudian merancang solusi dengan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan.
Melalui tahapan tersebut, pembelajaran koding dan AI tidak hanya berfokus pada penguasaan perangkat. Sebaliknya, setiap jenjang dapat mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan usia, pengalaman, dan kebutuhan peserta didik.
Keterbatasan Internet Bukan Penghalang Belajar Koding
Keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan bagi sebagian satuan pendidikan. Namun, kondisi tersebut tidak harus menghentikan pembelajaran koding. Pendidik dapat menerapkan metode unplugged atau pembelajaran tanpa perangkat digital dan jaringan internet.
Metode ini mengajak peserta didik memahami konsep dasar koding melalui permainan, aktivitas fisik, kartu instruksi, dan penyusunan langkah-langkah logis. Sebagai contoh, pendidik dapat meminta peserta didik menyusun urutan instruksi untuk mencapai tujuan tertentu. Aktivitas sederhana ini membantu mereka memahami algoritma dan berpikir secara sistematis.
Selain itu, satuan pendidikan perlu membangun kesiapan untuk beradaptasi. Pendidik dan pengelola sekolah dapat memulai dari kegiatan sederhana yang sesuai dengan fasilitas serta kondisi lingkungan masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran teknologi tetap dapat berjalan meskipun sekolah belum memiliki perangkat yang lengkap.
Karena itu, keberhasilan penerapan koding dan AI tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat. Kemauan pendidik untuk mencoba metode baru, dukungan satuan pendidikan, dan kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta didik juga memegang peranan penting.
Koding dan AI Menjadi Bekal Menuju Indonesia Emas 2045
Penguatan koding dan AI dalam pendidikan kesetaraan dapat membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan digital sejak dini. Melalui pembelajaran yang kontekstual, mereka dapat melatih kreativitas, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, dan memahami penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Keterampilan tersebut juga relevan untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Peserta didik tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga harus mampu menilai informasi, berkolaborasi, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru.
Berdasarkan sumber RRI Singaraja, penguatan koding dan AI dalam pendidikan kesetaraan menjadi bagian dari pembahasan tentang kesiapan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi. Pendekatan yang sesuai dengan jenjang dan kondisi lingkungan dapat membantu pendidik menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan.
Dengan demikian, pendidikan kesetaraan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar memberikan akses untuk memperoleh ijazah. Melalui penguatan keterampilan digital dan pola pikir kritis, satuan pendidikan dapat membantu peserta didik mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis: Riezka Ayu Juniarty

