EDUCARE.CO.ID – Dua mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) membawa pulang penghargaan dari Andong Mask Dance Festival 2026 di Andong, Gyeongsang, Korea Selatan. Inggil Nayla Yunus dan Nadi Silfa Arkan meraih dua penghargaan internasional melalui karya tari yang mengangkat legenda dan kekayaan budaya Lampung.
Inggil merupakan mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, sedangkan Nadi menempuh studi di Program Studi Teknik Pertambangan. Keduanya menunjukkan kiprah mahasiswa Itera di bidang seni budaya melalui dua kategori kompetisi yang berbeda.
Berdasarkan sumber laman resmi Itera, Inggil bersama Sanggar Tari Muli Mekhanai meraih Silver Prize dalam kategori Group International. Sementara itu, Inggil dan Nadi yang tergabung dalam tim N.I Pranatungga memperoleh Special Award pada kategori Individual International.
Angkat Legenda Lampung Lewat Dua Karya Tari
Dalam kategori kelompok, Inggil bersama Sanggar Tari Muli Mekhanai menampilkan tarian berjudul The Queen of Sekeghumong and Bekugha. Karya tersebut mengangkat kisah Ratu Sekeghumong dan Bekugha, harimau peliharaannya, yang menjadi bagian dari cerita rakyat Lampung.
Melalui pertunjukan ini, tim memperkenalkan kekayaan cerita lokal kepada penonton festival internasional. Mereka juga membawa unsur tradisi Lampung ke panggung yang mempertemukan peserta dari berbagai latar budaya.
Selain tampil dalam kategori kelompok, Inggil berkolaborasi dengan Nadi Silfa Arkan melalui tim N.I Pranatungga. Keduanya membawakan karya berjudul SwaraTunggal dan berhasil meraih Special Award dalam kategori Individual International.
Karya tersebut mengangkat legenda Kyai Tunggal, sosok gajah gaib yang dipercaya masyarakat sebagai penjaga hutan Way Kambas. Masyarakat setempat menghormatinya dengan sebutan Datuk atau Mbah sebagai bentuk penghargaan terhadap sosok yang mereka yakini menjaga keseimbangan hutan.
Inggil merancang koreografi SwaraTunggal melalui riset mendalam dan pengembangan gagasan orisinal. Karya ini pun langsung meraih penghargaan dalam penampilan perdananya di festival internasional tersebut.
Konsisten Menari di Tengah Kesibukan Kuliah
Bagi Inggil, seni tari telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak kecil. Ia juga aktif bermain basket, tetapi tetap menjadikan tari sebagai ruang utama untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi.
Kecintaannya terhadap seni tari tumbuh sejak sekolah dasar dan terus berlanjut hingga sekolah menengah atas. Setelah memasuki dunia perkuliahan di Itera, Inggil tetap melanjutkan aktivitasnya di bidang seni.
Namun, persiapan menuju Andong Mask Dance Festival 2026 menghadirkan tantangan tersendiri. Sebagai mahasiswa baru, Inggil harus menyesuaikan diri dengan perkuliahan sekaligus membagi waktu untuk latihan tari dan kegiatan organisasi.
Di tengah kesibukan tersebut, ia juga baru dinyatakan lolos Nusantera dan aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Basket. Kondisi ini menuntutnya mengatur jadwal secara cermat agar kegiatan akademik dan aktivitas nonakademik tetap berjalan.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil melalui dua penghargaan internasional yang ia raih bersama rekan-rekannya.
“Alhamdulillah, segala upaya tersebut terbayar tuntas. Saya sangat bersyukur dapat mempersembahkan Silver Prize dan Special Award ini untuk Indonesia dan kampus Itera tercinta,” ujar Inggil.
Bawa Cerita Rakyat Lampung ke Panggung Dunia
Prestasi Inggil dan Nadi menunjukkan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi dalam pelestarian budaya melalui berbagai bidang keahlian. Keduanya berasal dari program studi yang berfokus pada bidang non-seni, tetapi mampu mengembangkan karya tari yang mengangkat identitas dan kearifan lokal.
Melalui The Queen of Sekeghumong and Bekugha serta SwaraTunggal, mereka memperkenalkan cerita rakyat Lampung kepada audiens internasional. Kedua karya tersebut juga mengangkat hubungan antara tradisi, identitas masyarakat, dan penghormatan terhadap alam.
Bagi mahasiswa, capaian ini menjadi bukti bahwa kegiatan seni dapat berjalan beriringan dengan pendidikan akademik. Selain mengembangkan kemampuan artistik, keterlibatan dalam festival internasional juga membuka ruang untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.

