EDUCARE.CO.ID – Tim Electric Remote Control (ERC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meraih Juara II Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026 melalui inovasi prototipe kapal penjaga pantai bertenaga listrik yang dikendalikan dari jarak jauh. Tim yang menggunakan nama MR Cuba tersebut bersaing dalam divisi prototipe ERC bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
KKI 2026 berlangsung pada 13–17 September 2026 di Politeknik Negeri Bengkalis, Riau. Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyelenggarakan kompetisi ini dengan melibatkan 129 tim dari 52 perguruan tinggi.
Prestasi tersebut menjadi hasil dari pengembangan teknologi kapal listrik yang menggabungkan perancangan mekanik, sistem kelistrikan, elektronika, dan kendali. Tim ERC UMY merancang kapal dengan bentuk lambung modified U-hull, motor listrik tanpa sikat (brushless DC motor), serta sistem kendali jarak jauh untuk menunjang manuver dan efisiensi energi.
Dosen pembimbing Tim ERC UMY, Dr. Muhamad Yusvin Mustar, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa tim menjalani proses pengembangan secara bertahap sejak April 2026. Mahasiswa terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari menyusun konsep hingga menguji prototipe.
“Pembinaan dimulai sejak April 2026. Mahasiswa tidak hanya membuat kapal, tetapi juga menjalani seluruh proses rekayasa, mulai dari penyusunan konsep, perancangan sistem, pembuatan prototipe, pengujian, evaluasi, hingga simulasi misi kompetisi,” ujar Yusvin saat dihubungi secara daring pada Senin (21/9).
Menurut Yusvin, integrasi berbagai bidang teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan kapal. Tim menyatukan sistem mekanik, elektronika, instrumentasi, dan kendali agar kapal dapat menjalankan misi kompetisi sesuai kebutuhan.
Riset Lima Bulan untuk Menentukan Konfigurasi Kapal
Salah satu anggota tim, Salwa Salsabila Salma, mahasiswa Program Studi Agribisnis UMY, mengungkapkan bahwa tim menghabiskan sekitar lima bulan untuk mencari konfigurasi kapal yang sesuai. Mereka menguji sejumlah komponen, mulai dari bentuk lambung dan sistem penggerak hingga posisi komponen serta sumber energi.
Setiap konfigurasi menjalani pengujian untuk melihat pengaruhnya terhadap stabilitas, kecepatan, kemampuan bermanuver, dan konsumsi baterai. Melalui evaluasi bertahap, tim berupaya menemukan kombinasi komponen yang mendukung performa kapal.
“Sebelumnya, kami melakukan riset selama lima bulan untuk mendapatkan konfigurasi yang sesuai. Kami memulai dari bagian belakang kapal, termasuk penggunaan baling-baling berdiameter besar agar kapal yang berbobot lebih dari lima kilogram dapat bergerak dengan stabil,” kata Salwa pada Senin (21/9).
Selain baling-baling, tim turut menguji ukuran turn fin atau sirip pembelok. Komponen ini menjadi salah satu aspek yang mereka evaluasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan manuver, hambatan, dan efisiensi kapal saat bergerak di air.
Tim juga memilih motor tanpa sikat dengan nilai Kv rendah agar karakter putarannya sesuai dengan kebutuhan sistem penggerak kapal. Menurut Salwa, pemilihan komponen tersebut turut mendukung upaya mengoptimalkan penggunaan baterai.
Pengujian tidak hanya berfokus pada kecepatan. Tim turut mengevaluasi kestabilan kapal, daya tahan baterai, dan respons sistem kendali sebelum menentukan konfigurasi yang digunakan dalam kompetisi.
Kolaborasi Mahasiswa dari Berbagai Program Studi
Pengembangan prototipe kapal listrik ini melibatkan mahasiswa dari sejumlah program studi. Setiap anggota berkontribusi sesuai bidang keahliannya, sehingga proses pengerjaan mencakup aspek teknis sekaligus pengelolaan tim.
Mahasiswa Teknik Elektro menangani sistem kelistrikan, elektronika, kendali, dan instrumentasi. Sementara itu, mahasiswa Teknik Mesin mendukung perancangan mekanik, konstruksi lambung, serta sistem propulsi kapal.
Mahasiswa Teknologi Informasi berkontribusi dalam pemrograman, pengolahan data, dan sistem pemantauan. Adapun mahasiswa Agribisnis mendukung pengelolaan tim, komunikasi, dokumentasi, serta pengembangan gagasan inovasi.
Salwa menyebut dukungan dari berbagai pihak turut membantu tim mempersiapkan diri menghadapi KKI 2026. Dukungan tersebut datang dari Direktorat Kemahasiswaan UMY, dosen pembimbing, anggota tim, senior, alumni, hingga sponsor.
“Banyak pihak yang membantu perjalanan kami, mulai dari dosen pembimbing, teman-teman MRC, Team Landlubber, para senior MRC UMY, alumni, hingga sponsor yang mendukung proses persiapan,” ujarnya.
Penyempurnaan Lambung dan Sistem Baterai Jadi Tantangan
Perjalanan Tim ERC UMY menuju podium tidak lepas dari tantangan teknis. Salah satu pekerjaan yang membutuhkan evaluasi berulang adalah menentukan bentuk lambung dan penempatan komponen agar kapal memiliki stabilitas yang sesuai.
Pada tahap awal, tim menguji beberapa rancangan lambung. Setelah proses pembuatan selesai, mereka tetap melakukan penyempurnaan berdasarkan hasil pengujian.
“Pada awalnya, kami melakukan beberapa kali pengujian lambung untuk menemukan konfigurasi yang sesuai. Setelah lambung selesai dibuat, penyempurnaan masih terus dilakukan hingga kami mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Salwa.
Tim juga memperhatikan titik berat atau center of gravity (COG), bobot kapal, posisi komponen, dan penempatan baterai. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan kapal sekaligus mendukung kinerjanya saat menjalankan misi perlombaan.
Selain persoalan teknis, tim menghadapi tantangan mobilitas selama latihan. Salwa menceritakan bahwa para anggota pernah membawa kapal, kotak perkakas, dan perlengkapan pengujian menggunakan sepeda motor. Mobilitas mereka kemudian terbantu setelah salah satu anggota menyediakan mobil.
“Kami pernah berangkat latihan dengan membawa kapal, kotak perkakas, dan perlengkapan lainnya menggunakan sepeda motor. Setelah itu, mobilitas kami terbantu karena ada anggota tim yang membawa mobil,” katanya.
Dukungan Warga Bengkalis Jadi Pengalaman Berkesan
Bagi Salwa dan anggota tim lainnya, KKI 2026 tidak hanya menjadi ajang menguji hasil rekayasa teknologi. Kompetisi tersebut juga menghadirkan pengalaman baru selama perjalanan menuju Bengkalis yang ditempuh melalui jalur udara, darat, dan laut.
Salah satu pengalaman yang membekas bagi tim adalah sambutan masyarakat setempat. Salwa menuturkan, sejumlah warga mengetahui perjuangan mereka melalui siaran langsung kompetisi dan memberikan dukungan berupa makanan.
“Kami beberapa kali mendapat kiriman makanan dari warga Bengkalis yang melihat perjuangan kami melalui siaran langsung. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi tim,” tambahnya.
Capaian Juara II KKI 2026 memperlihatkan proses panjang di balik pengembangan prototipe kapal listrik, mulai dari riset komponen, pengujian berulang, hingga penyempurnaan sistem. Kolaborasi lintas program studi dan dukungan berbagai pihak turut mengiringi perjalanan Tim ERC UMY hingga meraih prestasi di tingkat nasional.

