Bukan Jajanan Biasa! Sagubite Buatan Mahasiswa FKM UHO Sabet 4 Penghargaan FESMA 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo (FKM UHO) Kendari membawa inovasi pangan lokal ke panggung nasional. Melalui Sagubite, snack bar yang memadukan sejumlah bahan pangan khas Sulawesi Tenggara, mereka berhasil meraih empat penghargaan dalam Festival Essay Siswa, Mahasiswa, dan Akademisi (FESMA) 2026.

Kompetisi tersebut berlangsung di Universitas Mataram, Lombok, pada 26–28 September 2026. Sebanyak 109 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ikut berkompetisi dalam ajang tersebut.

Tim FKM UHO beranggotakan Helsi Yuliatni sebagai ketua, bersama Dewi Chandra dan Sitti Nur Fatimah. Ketiganya merupakan mahasiswa angkatan 2024.

Tim tersebut membawa pulang Gold Medal Subtema Pangan, Favorit Poster Subtema Pangan, Best Presentation, serta Juara Harapan 1 Umum.

Sagubite Padukan Pangan Lokal Sulawesi Tenggara

Sagubite lahir dari gagasan untuk menghadirkan jajanan sehat yang tetap dekat dengan selera generasi muda. Tim FKM UHO melihat kebiasaan Gen Z dan Gen Alpha yang cukup akrab dengan makanan ringan.

Helsi menjelaskan, tim kemudian mencari cara untuk menggabungkan konsep jajanan dengan bahan pangan lokal yang kaya nutrisi.

“Kami melihat kebiasaan anak-anak sekarang khususnya Gen Z dan Gen Alpha yang lebih tertarik pada makanan dalam bentuk jajanan. Sehingga kami berinovasi menciptakan produk jajanan yang tidak hanya sehat, tetapi juga kaya kandungan gizi berbasis pangan lokal,” ujarnya, Minggu (4/10/2026).

Tim memilih sagu, daun kelor, tambelo atau tembelu, serta biji labu sebagai bahan utama Sagubite.

Pemilihan bahan tersebut tidak hanya mempertimbangkan kandungan gizi. Tim juga mengaitkannya dengan kekayaan pangan dan budaya masyarakat Sulawesi Tenggara.

Sagu, misalnya, menjadi salah satu bahan pangan yang umum dikonsumsi masyarakat Suku Tolaki. Sementara itu, masyarakat Suku Buton juga mengenal tambelo atau tembelu sebagai salah satu pangan lokal.

“Sagu umum dikonsumsi masyarakat Suku Tolaki, sedangkan tambelo atau tembelu banyak dikonsumsi masyarakat Suku Buton, khususnya di daerah saya, Desa Laangke, Buton Utara,” jelas Helsi.

Tambelo Jadi Sumber Protein dalam Sagubite

Tim mengusung slogan “unik dan bergizi” untuk Sagubite. Salah satu keunikan produk terletak pada penggunaan tambelo atau tembelu sebagai sumber protein.

Tim kemudian memadukannya dengan biji labu yang mengandung lemak dan magnesium. Kombinasi tersebut menghasilkan produk pangan dengan kandungan zat gizi makro dan mikro.

Sagubite mengandung karbohidrat, mineral, vitamin, antioksidan, protein, lemak, asam amino, hingga magnesium.

Bagi tim, proses menciptakan Sagubite membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Mereka lebih dulu mencari persoalan kesehatan yang relevan, kemudian memetakan potensi pangan lokal yang bisa menjadi bagian dari solusi.

“Prosesnya tentunya membutuhkan waktu, mulai dari mencari permasalahan kesehatan yang ada, jenis potensi pangan lokal, pemilihan kombinasi pangan yang sesuai dengan permasalahan tersebut, hingga penyusunan ide menjadi inovasi yang siap dilombakan,” ucap Helsi.

Bersaing dengan 109 Tim dari Berbagai Kampus

Perjalanan tim FKM UHO di FESMA 2026 juga tidak berlangsung mudah. Mereka harus bersaing dengan 109 tim dari berbagai perguruan tinggi yang membawa ide dan inovasi masing-masing.

Empat penghargaan yang mereka raih menjadi capaian penting bagi tim dan FKM UHO.

“Empat penghargaan tersebut tentunya sangat berarti dan membanggakan bagi kami dan FKM UHO, melihat jumlah tim yang menjadi lawan dalam kompetisi ini tidak sedikit dan juga tidak kalah hebat,” terangnya.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan potensi pangan lokal Sulawesi Tenggara untuk masuk ke dalam inovasi pangan yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda.

Targetkan Sagubite Tak Berhenti di Ajang Kompetisi

Tim FKM UHO tidak ingin Sagubite hanya menjadi produk untuk mengikuti perlombaan. Mereka telah menyiapkan rencana pengembangan secara bertahap.

Pada tahun pertama, tim akan fokus menyempurnakan resep dan menguji kandungan gizi produk. Tahun berikutnya, mereka menargetkan uji kesukaan dan daya terima konsumen.

Memasuki tahun ketiga, tim berharap dapat membawa Sagubite ke tahap produksi dan distribusi.

Langkah tersebut mereka siapkan agar Sagubite memiliki peluang untuk berkembang menjadi alternatif jajanan sehat yang dapat masyarakat kenal dan manfaatkan.

“Saya berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan sehingga Sagubite tidak hanya berhenti sebagai karya mahasiswa dalam ajang kompetisi, tetapi juga memiliki peluang untuk diperkenalkan dan dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif jajanan sehat berbasis pangan lokal Sulawesi Tenggara,” tutup Helsi.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article