Bukan Sekadar Jual Biji Kakao, TEP UNDIP Dorong Petani Keerom Produksi Barang Bernilai Tinggi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) mendorong petani di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, untuk mengembangkan kakao hingga menjadi produk bernilai tambah.

Program tersebut tidak langsung berfokus pada mesin pengolahan. Tim 11 TEP UNDIP lebih dulu memetakan kondisi kebun, petani, produksi, hingga rantai usaha kakao.

Berdasarkan sumber Berita Kampus Kemdiktisaintek, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hilirisasi kakao yang dapat dikelola masyarakat lokal secara mandiri.

Tim ingin memastikan pengembangan kakao berjalan dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, petani tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga memiliki peluang memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.

Tim UNDIP Petakan Potensi Kakao di Senggi

Tim 11 TEP UNDIP dipimpin M. Indra Hadi Wijaya, S.T., MPWK. bersama lima anggota. Mereka terdiri dari Dasdo Wahyu Saragih, S.P.W.K.; Maela Rosinta, S.P.; Narda Nadia Putri, S.M., M.M.; Dwi Sanjaya Rahayu Ohee, S.Tr.P.; dan Rayhan Ahmad Zaki, S.E.

Sepanjang Agustus 2026, tim menjalankan berbagai kegiatan lapangan di Kawasan Transmigrasi Senggi.

Mereka berkoordinasi dengan pemangku kepentingan. Tim juga melakukan survei kebun, pemetaan, wawancara pelaku usaha, mini-FGD, dan validasi potensi kakao.

Kegiatan tersebut membantu tim memahami kondisi kakao dari sisi produksi hingga pemasaran.

Produktivitas Kebun Kakao Mengalami Kendala

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa penguatan sektor hulu menjadi kebutuhan utama.

Sejumlah kebun kakao mengalami penurunan produktivitas. Serangan hama menjadi salah satu kendala yang dihadapi petani.

Petani juga menghadapi keterbatasan akses terhadap bibit unggul. Ketersediaan pupuk dan pestisida turut menjadi persoalan.

Selain itu, kelembagaan petani dan kemampuan budidaya masih perlu diperkuat.

Kondisi tersebut membuat tim menilai pengembangan teknologi pengolahan harus berjalan setelah fondasi produksi membaik.

22 Petani Siap Tanam Kembali Kakao

Di tengah berbagai kendala, Tim 11 menemukan modal sosial yang cukup kuat.

Masyarakat menunjukkan minat tinggi untuk melakukan penanaman kembali atau replanting kakao.

Survei terhadap 22 petani lokal memperlihatkan antusiasme tersebut. Petani ingin menghidupkan kembali kebun yang sudah tua dan tidak lagi produktif.

Mereka juga menyampaikan sejumlah kebutuhan. Pelatihan teknis, penyuluhan budidaya, permodalan, serta kepastian harga dan pasar menjadi perhatian utama.

Salah seorang petani, Udin, berharap masyarakat mendapat akses terhadap bibit berkualitas dan pendampingan.

“Kalau ada bibit kakao yang bagus, kami mau tanam lagi. Dulu kami punya banyak kebun kakao, tetapi sekarang banyak yang sudah tua dan tidak produktif. Kami berharap bisa mulai lagi, apalagi kalau ada pendampingan dan pasar untuk hasil panennya,” ungkap Udin.

TEP UNDIP: Hilirisasi Tak Cukup dengan Mesin

Ketua Tim 11 M. Indra Hadi Wijaya menegaskan bahwa teknologi harus mengikuti kebutuhan lapangan.

Menurutnya, pengembangan hilirisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan mesin pengolahan. Tim perlu memahami kondisi petani dan kebun terlebih dahulu.

“Hilirisasi tidak cukup hanya menghadirkan alat pengolahan. Kita perlu memastikan terlebih dahulu siapa petaninya, di mana kebunnya, bagaimana kondisi tanamannya, berapa potensi produksinya, bagaimana pascapanennya, dan ke mana produknya akan dipasarkan,” ujarnya.

Ia menilai seluruh tahapan tersebut harus berjalan dalam satu rantai usaha.

“Karena itu, penguatan hulu dan hilir harus dirancang sebagai satu rantai usaha,” lanjutnya.

Kakao Senggi Akan Dikembangkan hingga Produk Olahan

Tim 11 kemudian menyusun skenario pengembangan kakao secara terpadu.

Tahap awal berfokus pada revitalisasi kebun. Tim juga ingin memperkuat kelompok tani agar petani dapat mengelola produksi secara lebih terarah.

Setelah itu, tim mendorong standardisasi proses pascapanen. Tahap tersebut mencakup fermentasi, pengeringan, dan sortasi biji kakao.

Biji kakao fermentasi berkualitas kemudian dapat masuk ke tahap pengolahan.

Tim juga menyiapkan konsep pengemasan, branding, dan pemasaran. Produk olahan tersebut nantinya dapat membawa identitas khas Senggi.

Pendekatan ini sejalan dengan arah pengembangan kakao nasional. Pemerintah mendorong komoditas kakao agar tidak berhenti sebagai bahan baku mentah.

Kakao dapat berkembang menjadi biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi.

Pemerintah dan Masyarakat Ikut Bangun Ekosistem Kakao

TEP UNDIP tidak bekerja sendiri. Tim membangun komunikasi dengan berbagai pihak di Senggi.

Kolaborasi melibatkan pemerintah daerah, pemerintah kampung, Ondoafi, BPP atau penyuluh pertanian, BUMDes, hingga pengepul lokal.

Kerja sama tersebut membantu tim memahami kebutuhan petani sekaligus menyusun model pengembangan yang sesuai dengan kondisi daerah.

Tahap berikutnya akan berfokus pada finalisasi peta petani. Tim juga akan menyusun SOP budidaya dan pascapanen.

Selain itu, tim akan menentukan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan produksi.

Targetkan Ekosistem Bisnis Kakao yang Mandiri

TEP UNDIP menargetkan pengembangan kakao Senggi tidak berhenti pada program pendampingan.

Tim ingin membangun ekosistem bisnis yang mandiri dan memiliki daya saing.

Model tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi petani untuk mengelola hasil panen. Masyarakat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi dari proses pengolahan dan pemasaran.

Dengan pendekatan dari kebun hingga produk jadi, petani memiliki peluang untuk memperoleh nilai tambah lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan baku.

Hilirisasi Kakao Senggi Dukung SDGs

Program TEP UNDIP di Kawasan Transmigrasi Senggi juga mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs).

Program ini berkaitan dengan SDG 1 Tanpa Kemiskinan melalui upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani lokal.

Kegiatan tersebut juga mendukung SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Hilirisasi kakao dapat mendorong pertumbuhan ekonomi produktif di tingkat masyarakat.

Dari sisi produksi, program ini sejalan dengan SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Standardisasi pascapanen dan pengelolaan rantai nilai menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

Sementara itu, kolaborasi berbagai pihak mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Akademisi, pemerintah daerah, tokoh adat Ondoafi, pelaku usaha, dan masyarakat bekerja bersama untuk mengembangkan potensi kakao Senggi.

Kakao Keerom Dipersiapkan Naik Kelas

Pengembangan kakao di Kawasan Transmigrasi Senggi menunjukkan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam membangun komoditas lokal.

TEP UNDIP tidak hanya melihat kakao sebagai hasil perkebunan. Tim juga melihat peluang ekonomi yang muncul dari pengolahan dan pemasaran produk.

Penguatan kebun, peningkatan kualitas pascapanen, teknologi pengolahan, hingga pemasaran perlu berjalan dalam satu ekosistem.

Jika seluruh tahapan tersebut berjalan konsisten, kakao Senggi memiliki peluang untuk berkembang dari komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah.

Bagi petani Keerom, langkah tersebut membuka peluang untuk menghidupkan kembali kebun sekaligus memperkuat posisi mereka dalam rantai usaha kakao.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article