EDUCARE.CO.ID – Belajar di perguruan tinggi tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Mahasiswa juga bisa memperoleh pengalaman langsung dari lingkungan industri dan menghadapi situasi yang nyata.
Pendekatan tersebut diterapkan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) melalui konsep Living Lab. Salah satu praktiknya terlihat dalam kegiatan UPJ Connect 2026: Connecting Education, Industry, and Future Talent.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengunjungi BXSea Oceanarium, salah satu unit dalam ekosistem Pembangunan Jaya. Mereka tidak sekadar menikmati destinasi, tetapi juga mempelajari operasional dan lingkungan kerja di baliknya.
Berdasarkan rilis UPJ, kunjungan itu menjadi bagian dari upaya kampus menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk melihat langsung bagaimana teori yang mereka pelajari bekerja dalam kehidupan profesional.
Living Lab Bawa Mahasiswa ke Situasi Nyata
Konsep Living Lab yang dikembangkan UPJ menempatkan lingkungan nyata sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Mahasiswa tidak hanya menerima materi dari dosen. Mereka juga berhadapan dengan persoalan nyata, berdiskusi dengan praktisi, serta mengamati cara organisasi menjalankan aktivitasnya.
Presiden UPJ, Ir. Frans Sunito, menjelaskan bahwa Living Lab bukan sekadar kegiatan belajar di luar kampus.
“Living Lab bagi kami bukan hanya tentang lokasi belajar di luar kampus. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mendapatkan pengalaman menghadapi persoalan nyata, berinteraksi dengan praktisi, dan memahami bagaimana sebuah pengetahuan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Frans dalam UPJ Media Gathering bertema Connect: Connecting Education, Industry, and Future Talent.
Pendekatan ini membuat pengalaman di luar kampus memiliki fungsi yang lebih luas. Mahasiswa dapat menghubungkan teori dengan kondisi yang mereka temui secara langsung.
BXSea Jadi Laboratorium Pengalaman Industri
BXSea dikenal publik sebagai destinasi yang menghadirkan pengalaman melihat kehidupan bawah laut. Namun, bagi mahasiswa, tempat tersebut menawarkan bahan pembelajaran yang jauh lebih luas.
Ada operasional destinasi yang harus berjalan, pelayanan pengunjung yang perlu dijaga, sumber daya manusia yang harus dikelola, serta strategi untuk menciptakan nilai bagi masyarakat.
Mahasiswa pun dapat mengamati berbagai proses tersebut secara langsung. Mereka juga memiliki kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan pihak yang bekerja di lingkungan industri.
Pimpinan Unit BXSea Oceanarium, Sri Agung Agus Putranto, menilai hubungan antara industri dan pendidikan dapat membantu mahasiswa memahami kebutuhan dunia kerja sejak dini.
“Industri membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja dan memberikan nilai bagi masyarakat,” ujarnya.
Artinya, mahasiswa tidak harus menunggu wisuda untuk mengenal dunia profesional. Pengalaman tersebut bisa mereka bangun sejak masih menjalani perkuliahan.
Dari Jaya Bridge hingga Internship
UPJ menghubungkan mahasiswa dengan industri melalui sejumlah program. Skemanya mencakup Jaya Bridge, internship, proyek industri, penelitian terapan, mentoring profesional, hingga pengembangan karier.
Melalui berbagai program tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji pengetahuan sekaligus memahami tuntutan profesional.
Kunjungan ke BXSea menjadi salah satu bentuk pengalaman tersebut. Mahasiswa keluar dari rutinitas perkuliahan dan masuk ke lingkungan yang memungkinkan mereka melihat organisasi dari dekat.
Mereka mengamati, bertanya, berdiskusi, lalu menghubungkan pengalaman itu dengan bidang studi masing-masing.
Dengan pola tersebut, perjalanan ke lingkungan industri tidak berhenti sebagai kegiatan kunjungan. Pengalaman yang mahasiswa peroleh dapat menjadi bahan refleksi dan pembelajaran setelah mereka kembali ke kampus.
Destinasi Bisa Jadi Ruang Belajar
Pendekatan Living Lab juga mengubah cara mahasiswa memandang sebuah destinasi.
Tempat wisata tidak hanya menawarkan hiburan. Di dalamnya terdapat berbagai aspek yang bisa dipelajari, mulai dari bisnis, teknologi, lingkungan, budaya, pelayanan, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
BXSea, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pengelolaan industri pariwisata dan hiburan.
Di destinasi lain, mahasiswa bisa mempelajari konservasi, ekonomi kreatif, sejarah, arsitektur, atau pengelolaan lingkungan.
Pengalaman langsung juga dapat memunculkan pertanyaan baru. Bagaimana sebuah destinasi menjaga kualitas pelayanan? Bagaimana kebutuhan pengunjung diterjemahkan ke dalam operasional? Kompetensi apa yang harus dimiliki pekerjanya?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar karena mahasiswa mulai melihat persoalan dari sudut pandang dunia nyata.
Kesiapan Kerja Jadi Perhatian
Keterhubungan pendidikan dan industri juga menjadi semakin penting ketika perguruan tinggi menghadapi tantangan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang tercantum dalam rilis UPJ, jumlah pengangguran Indonesia mencapai 7,28 juta orang pada Februari 2025.
Pada periode yang sama, proporsi pengangguran dengan pendidikan Diploma IV, S1, S2, dan S3 meningkat menjadi 13,89 persen. Angka tersebut naik dari 12,12 persen pada Februari 2024.
Data itu menunjukkan bahwa gelar akademik perlu berjalan bersama pengalaman dan kompetensi kerja.
Mahasiswa juga perlu memahami lingkungan profesional, beradaptasi dengan perubahan, serta mengembangkan kemampuan sesuai kebutuhan industri.
232 Mahasiswa Sudah Ikuti Internship
UPJ mencatat keterhubungan mahasiswa dengan industri melalui program internship.
Pada periode tahun akademik 2024/2025 hingga semester gasal 2026/2027, sebanyak 232 mahasiswa telah mengikuti internship di berbagai unit Grup Pembangunan Jaya.
Rinciannya, sebanyak 112 mahasiswa mengikuti internship pada tahun akademik 2024/2025. Kemudian, 74 mahasiswa mengikuti program tersebut pada 2025/2026 dan 46 mahasiswa pada semester gasal 2026/2027.
Selain internship, program The Bridge juga menghubungkan lulusan dengan dunia profesional.
Pada periode tahun akademik 2023/2024 hingga 2025/2026, sebanyak 46 lulusan tercatat telah terhubung dengan dunia profesional melalui program tersebut.
Angka tersebut menunjukkan upaya UPJ memperluas pengalaman profesional mahasiswa dan lulusan sebelum maupun setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
Belajar Berlanjut Setelah Kembali ke Kampus
Kekuatan Living Lab bukan hanya terletak pada seberapa sering mahasiswa belajar di luar kampus.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana mereka mengolah pengalaman tersebut setelah kembali ke lingkungan akademik.
Pengalaman di BXSea, misalnya, dapat menjadi bahan diskusi mengenai industri, profesi, pelayanan, pengelolaan destinasi, hingga kompetensi masa depan.
Mahasiswa bisa membandingkan apa yang mereka lihat dengan teori yang sudah mereka pelajari. Mereka juga dapat mempertanyakan proses, mencari solusi, dan mengembangkan pemahaman baru.
Dengan demikian, mahasiswa tidak datang ke destinasi hanya sebagai pengunjung. Mereka hadir sebagai pembelajar yang melihat dunia profesional dari dekat.
Konsep Living Lab memperluas ruang belajar mahasiswa. Kelas tidak lagi terbatas pada bangunan kampus, tetapi juga bisa hadir di lingkungan industri, tempat kerja, maupun destinasi seperti BXSea.
Pada akhirnya, pengalaman nyata tersebut dapat membantu mahasiswa memahami satu hal penting: pengetahuan tidak hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diterapkan dan memberi manfaat bagi kehidupan.



