EDUCARE.CO.ID – Indonesia mencatat perkembangan positif dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Skor literasi sains dan membaca Indonesia sama-sama mengalami kenaikan dibandingkan hasil PISA 2022.
Hasil PISA 2025 dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dengan melibatkan 91 negara dan ekonomi. Lebih dari 760 ribu murid ikut dalam asesmen tersebut, menjadikannya partisipasi terbesar sejak PISA pertama kali berlangsung pada 2000.
Berdasarkan Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Nomor 797/sipers/A6/IX/2026, capaian Indonesia juga menunjukkan perkembangan dari sisi akses pendidikan.
Coverage Index Indonesia meningkat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Artinya, proporsi murid usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal mengalami peningkatan signifikan.
Skor Sains dan Membaca Indonesia Naik
Literasi sains menjadi fokus utama dalam PISA 2025. Indonesia mencatat kenaikan skor pada domain tersebut.
Skor sains Indonesia mencapai 389 poin, naik 6 poin dari 383 pada PISA 2022. Sementara itu, skor membaca meningkat dari 359 menjadi 365 poin.
Untuk matematika, Indonesia memperoleh skor 364 poin.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menilai capaian tersebut memiliki arti penting di tengah tren penurunan skor sejumlah negara OECD.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” jelas Toni Toharudin.
Menurut Kemendikdasmen, perkembangan skor tersebut perlu dibaca bersama dengan perubahan cakupan pendidikan Indonesia.
Akses Pendidikan Indonesia Hampir Berlipat Ganda
Salah satu indikator yang menjadi perhatian dalam hasil PISA 2025 ialah Coverage Index. Indikator ini menunjukkan proporsi murid berusia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal.
Saat Indonesia pertama kali mengikuti PISA pada 2003, Coverage Index berada pada angka 0,46. Dua puluh dua tahun kemudian, angka tersebut mencapai 0,90 pada PISA 2025.
Kenaikan itu menunjukkan perluasan akses pendidikan yang signifikan di berbagai wilayah Indonesia.
Perkembangan tersebut juga berlangsung seiring dengan perubahan sistem pelaksanaan PISA. Sejak PISA 2018, Indonesia beralih sepenuhnya dari paper based test (PBT) ke computer based test (CBT).
OECD Soroti Keingintahuan Murid Indonesia
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, memberikan apresiasi terhadap perkembangan pendidikan Indonesia.
Menurut OECD, Indonesia menghadapi tantangan yang juga dialami banyak negara, yaitu memperluas akses pendidikan sambil mempertahankan kualitas pembelajaran.
Data OECD menunjukkan murid Indonesia memiliki tingkat keingintahuan atau curiosity yang termasuk tinggi. Mereka juga menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri.
Murid Indonesia bahkan memperlihatkan performa yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan pada sejumlah mata pelajaran yang lebih konvensional.
Selain itu, mereka lebih sering mengikuti pembelajaran yang melatih kemampuan menilai kredibilitas konten hasil kecerdasan artifisial atau AI dibandingkan murid di banyak negara lain.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan murid Indonesia tidak hanya berkembang dalam aspek akademik konvensional. Mereka juga mulai berhadapan dengan kebutuhan belajar yang berkaitan dengan teknologi dan informasi digital.
Empat Strategi Kemendikdasmen Usai PISA 2025
Kemendikdasmen menyiapkan empat pilar strategi untuk menindaklanjuti hasil PISA 2025.
Pertama, penguatan kompetensi guru. Pemerintah akan memperkuat pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta kompetensi pedagogik dan digital. Kemampuan dalam bidang koding dan kecerdasan artifisial juga masuk dalam penguatan tersebut.
Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran. Kemendikdasmen mendorong penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter murid.
Ketiga, harmonisasi asesmen. Pemerintah akan menyelaraskan kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar dalam kerangka PISA.
Keempat, penguatan peran keluarga. Kemendikdasmen mendorong keterlibatan orang tua melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan kemitraan keluarga dalam penerapan pembelajaran mendalam.
Guru dan Murid Bisa Manfaatkan Platform Pembelajaran
Kemendikdasmen juga menyediakan sejumlah platform yang dapat membantu guru dan murid belajar serta berlatih secara mandiri.
Beberapa layanan tersebut meliputi Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, serta portal simulasi dan latihan asesmen dari Pusmendik.
Platform tersebut mendukung penguatan kemampuan bernalar dan literasi digital. Layanan itu juga mendorong murid agar semakin mandiri dalam proses belajar.
Penggunaan teknologi pembelajaran menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan kompetensi yang muncul dalam asesmen seperti PISA.
Hasil PISA Jadi Dasar Penguatan Pendidikan
Hasil PISA 2025 memberikan gambaran mengenai perkembangan pendidikan Indonesia dari sisi capaian pembelajaran sekaligus akses pendidikan.
Kenaikan skor sains dan membaca berjalan bersama dengan peningkatan Coverage Index hingga 0,90. Di sisi lain, temuan OECD mengenai curiosity, kemampuan belajar mandiri, pemecahan masalah komputasional, serta literasi AI menunjukkan adanya aspek kompetensi baru yang perlu terus dikembangkan.
Kemendikdasmen kini menempatkan hasil tersebut sebagai salah satu pijakan untuk memperkuat kualitas guru, pembelajaran, sistem asesmen, dan keterlibatan keluarga.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menjaga perluasan akses pendidikan tetap berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan relevansi pembelajaran bagi murid Indonesia.


