EDUCARE.CO.ID – Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan desain implan lutut atau Total Knee Arthroplasty (TKA) yang menyesuaikan karakteristik anatomi masyarakat Asia.
Riset tersebut melibatkan tiga fakultas di Unair. Fakultas Kedokteran (FK) menangani aspek klinis dan kebutuhan ortopedi.
Sementara itu, Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi (FST) mengembangkan desain serta biomaterial. Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) mendukung tahap pengujian praklinis.
Berdasarkan laman resmi Universitas Airlangga yang dikutip dari situs resmi Unair, pengembangan ini muncul karena produk TKA di pasaran belum sepenuhnya menyesuaikan karakteristik anatomi dan kebutuhan aktivitas masyarakat Asia.
Desain Implan Sesuaikan Anatomi Masyarakat Asia
Dosen FST Unair, Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., CCD, menjelaskan bahwa tim menggunakan data antropometri dan anatomi lutut masyarakat Asia sebagai dasar desain.
Tim juga memperhatikan bentuk sendi lutut yang asimetris. Kebutuhan gerakan dengan tingkat fleksi tinggi menjadi pertimbangan lain.
“Desain ini kami sesuaikan dengan anatomi masyarakat dan kebutuhan aktivitas yang membutuhkan fleksi tinggi. Misalnya gerakan saat salat dan posisi duduk tertentu,” jelas Prihartini, dikutip dari situs Unair, Rabu (2/9/2026).
Pendekatan tersebut membuat tim tidak hanya mempertimbangkan ukuran implan. Mereka juga melihat aktivitas sehari-hari yang membutuhkan gerakan lutut dengan sudut tertentu.
Riset Implan Lutut Dimulai Sejak 2024
Tim Unair memulai riset pada 2024. Mereka menyelesaikan desain implan pada 2025.
Setelah itu, tim melakukan seleksi material menggunakan simulasi komputer atau in silico. Sebanyak 68 material masuk dalam proses seleksi tersebut.
Tim menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk menentukan material yang paling sesuai.
Proses tersebut kemudian mempersempit pilihan menjadi tiga material. Tim selanjutnya menyiapkan material tersebut untuk pengujian lebih lanjut.
Tiga Material Jalani Berbagai Pengujian
Tim Unair melakukan pengujian in vitro menggunakan sel dan pengujian mekanis terhadap tiga material terpilih.
Material tersebut berasal dari Prancis, Tiongkok, dan Jerman. Pengujian membantu tim melihat karakteristik material sebelum melanjutkan proses ke tahap berikutnya.
Unair juga menggandeng mitra industri, yaitu PT Trafas Dwi Medika. Septian Indra Wicaksana mewakili perusahaan tersebut dalam kolaborasi pengembangan TKA.
Mitra industri tersebut mendukung beberapa kebutuhan pengembangan. Perannya mencakup produksi, pembentukan komponen, pengadaan material, hingga aspek regulasi dan registrasi produk.
Pengujian pada Hewan Berlangsung di RSH Unair
Setelah melewati tahapan sebelumnya, material terpilih menjalani pengujian in vivo di Rumah Sakit Hewan (RSH) Unair.
Tim melakukan implantasi dan memantau respons tubuh selama 40 hari. Setelah periode tersebut, tim mengambil sampel jaringan tulang, darah, dan organ pada Selasa (1/9/2026).
Pengambilan sampel membantu tim menganalisis sejumlah parameter. Pemeriksaan mencakup osteointegrasi, biokompatibilitas, respons imunologis, hematologi, dan toksisitas.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari pengujian praklinis untuk melihat respons tubuh terhadap biomaterial yang digunakan.
Pengujian Mengacu pada Standar ISO
Magister Teknik Biomedis Unair, Muhammad Hafizh Athari, S.T., M.T., ikut terlibat dalam pengembangan TKA.
Hafizh menjelaskan bahwa tim melakukan pengujian untuk melihat respons tubuh terhadap biomaterial. Tim juga menggunakan standar ISO sebagai acuan dalam proses pengujian.
“Pengujian kami lakukan untuk mengetahui respons tubuh terhadap biomaterial. Mulai dari osteointegrasi, biokompatibilitas, respons imunologis, hingga toksisitas. Seluruh pengujian mengacu pada standar ISO,” ungkap Hafizh.
Hasil pengujian menjadi salah satu dasar bagi tim untuk mengevaluasi desain dan material yang mereka kembangkan.
Desain Implan Sudah Dipatenkan
Riset tersebut kini memasuki tahap pengujian praklinis in vivo di Rumah Sakit Hewan Kampus MERR-C.
Tim menyebut hasil sementara pengujian menunjukkan temuan yang sesuai dengan harapan. Selain itu, tim telah mematenkan desain implan yang mereka kembangkan.
Meski begitu, proses pengembangan masih berlanjut. Tim perlu menyelesaikan analisis dan pelaporan sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Unair Bidik Hilirisasi dan Kurangi Ketergantungan Impor
Setelah seluruh analisis selesai, tim Unair menargetkan pengembangan menuju tahap hilirisasi dan produksi.
Pengembangan implan yang sesuai dengan karakteristik pasien Asia menjadi salah satu tujuan utama riset. Tim juga berharap inovasi tersebut dapat membuka peluang penggunaan produk dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap implan impor.
Riset lintas fakultas ini menunjukkan bagaimana kebutuhan klinis, desain biomaterial, pengujian praklinis, serta dukungan industri dapat bertemu dalam satu proses pengembangan teknologi kesehatan.
Jika seluruh tahapan berikutnya berjalan sesuai rencana dan memenuhi persyaratan yang berlaku, implan tersebut diharapkan dapat berkembang menuju tahap produksi pada masa mendatang.


