EDUCARE.CO.ID – Halal lifestyle kini tidak lagi identik dengan pembahasan soal makanan dan minuman. Bagi generasi muda, konsep halal mulai bersinggungan dengan berbagai pilihan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari fashion, bisnis, komunitas, hingga investasi.
Founder Halal Kulture, Agung Mulyawan Paramata, melihat perubahan tersebut sebagai peluang untuk membuat pembahasan halal terasa lebih dekat dengan anak muda. Menurutnya, masyarakat dapat menerapkan halal bukan hanya sebagai aturan, tetapi juga sebagai gaya hidup sehari-hari yang sederhana.
Pandangan itu ia sampaikan dalam wawancara bersama EDUCARE.CO.ID setelah press conference Pekan Halal Indonesia & EduNation Festival 2026, Rabu (26/8/2026), di Jakarta.
Halal Lifestyle Bukan Cuma Soal Aturan
Agung menilai perkembangan media sosial ikut membuat masyarakat semakin memperhatikan pilihan produk yang mereka konsumsi. IKini, masyarakat lebih mudah menemukan informasi tentang makanan, fashion, dan gaya hidup halal.
“Hidup halal itu bukan cuma orang Muslim, bukan cuma orang ustaz.” ujar Agung.
Menurutnya, kesadaran halal sebenarnya sudah masuk ke banyak aktivitas sehari-hari. Masyarakat mulai mempertanyakan bahan, proses, dan nilai di balik sebuah produk.
Ia juga menilai masyarakat perlu memahami konsep halal dan tayib atau baik secara bersamaan. Produk yang terlihat baik belum tentu memenuhi seluruh aspek halal.
Agung memberi contoh produk makanan yang tampak sederhana. Roti atau makanan laut mungkin memakai bahan yang umum dikonsumsi, tetapi konsumen tetap perlu memeriksa proses dan campuran yang digunakan.
Karena itu, menurut Agung, kesadaran halal perlu tumbuh sebagai bagian dari kebiasaan. Masyarakat tidak harus melihatnya sebagai sesuatu yang rumit.
Industri Halal Tidak Lagi Menyasar Pasar Muslim Saja
Agung juga melihat perkembangan menarik di tingkat global. Sejumlah negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim mulai mengembangkan produk dan layanan yang menyasar pasar halal.
Contohnya terlihat dalam sektor halal food, halal travel, hingga layanan yang lebih Muslim-friendly.
Menurut Agung, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri halal memiliki pasar yang luas. Nilai seperti kebersihan, kualitas, keamanan, dan proses yang baik membuat konsep halal semakin menarik bagi masyarakat secara lebih luas.
“Mereka mulai melihat segmen halal, segmen Muslim. Ini satu yang menarik.” kata Agung.
Perubahan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa halal lifestyle memiliki potensi menjadi bagian dari tren gaya hidup global, bukan hanya kebutuhan kelompok tertentu.
Halal Kulture Bawa Halal ke Dunia Komunitas
Melalui Halal Kulture, Agung ingin membawa pembahasan halal ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Halal Kulture menggunakan pendekatan komunitas untuk mendekatkan pembahasan halal kepada masyarakat.
Dalam Pekan Halal Indonesia 2026, Halal Kulture turut menggandeng berbagai komunitas. Di antaranya komunitas otomotif dan Muslim bikers yang memiliki irisan dengan gaya hidup anak muda.
Agung menilai komunitas punya peran penting karena perubahan gaya hidup sering kali tumbuh dari lingkungan pergaulan.
“Halal lifestyle adalah sesuatu yang tidak bisa disepelekan,” tegas Agung saat press conference.
Karena itu, pembahasan halal tidak hanya berlangsung dalam forum keagamaan. Halal Kulture juga ingin menghadirkannya melalui kegiatan komunitas, diskusi, bisnis, dan gaya hidup.
Dari Komunitas Motor hingga Kripto Syariah
Salah satu hal yang menarik dari konsep Halal Kulture adalah cakupan topiknya yang cukup luas. Pembahasan tidak berhenti pada produk konsumsi.
Agung menyebut Halal Kulture juga membawa isu bisnis, keuangan syariah, investasi, hingga kripto ke dalam diskusi halal.
Untuk topik kripto, Halal Kulture menggandeng masyarakat ekonomi syariah dan komunitas kripto syariah. Pendekatan tersebut bertujuan mempertemukan pelaku komunitas dengan pihak yang memiliki pengetahuan syariah.
Menurut Agung, diskusi semacam ini penting karena anak muda kini semakin banyak bersentuhan dengan teknologi finansial dan aset digital.
Halal Kulture ingin membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami praktik yang sesuai dengan prinsip syariah sekaligus mengenali hal-hal yang perlu dihindari.
Bisnis Halal Tetap Bisa Scale Up
Agung juga menyoroti anggapan bahwa menjalankan bisnis sesuai prinsip syariah akan membuat proses pengembangan usaha menjadi lebih sulit.
Menurutnya, masyarakat perlu meluruskan anggapan tersebut. Bisnis tetap bisa berkembang dan melakukan scale up dengan menggunakan skema yang sesuai dengan prinsip syariah.
“Ternyata tidak sesulit itu untuk bisnis tetap bisa scale up, tapi halal.” ujar Agung.
Untuk membahas persoalan tersebut, Halal Kulture mempertemukan pelaku usaha, ahli keuangan, komunitas, dan tokoh yang memahami aspek syariah.
Agung menyebut salah satu pendekatannya adalah menghadirkan financial expert bersama ustaz dan pelaku bisnis. Dengan kombinasi tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga gambaran mengenai penerapannya dalam bisnis nyata.
Halal Kulture Padukan Ilmu, Komunitas, dan Praktik
Agung menjelaskan bahwa Halal Kulture tidak ingin menghadirkan pembahasan halal dari satu sudut pandang saja. Mereka mencoba mempertemukan ahli ilmu dengan pelaku yang menjalankan aktivitas tersebut secara langsung.
Misalnya, pembahasan mengenai kripto syariah dapat mempertemukan ustaz yang memahami aspek fikih dengan komunitas yang bergerak di bidang aset digital.
Pendekatan serupa juga berlaku untuk bisnis. Pelaku usaha yang sudah menjalankan bisnis sesuai prinsip syariah dapat berbagi pengalaman, sementara ahli keuangan membantu membahas strategi pengembangan usaha.
Cara tersebut membuat diskusi halal terasa lebih kontekstual dan dekat dengan persoalan masyarakat.
Pekan Halal Indonesia Jadi Ruang Bertemu
Halal Kulture kemudian membawa konsep tersebut ke Pekan Halal Indonesia (PHI) 2026. Halal Kulture hadir sebagai salah satu bagian dari ekosistem yang mempertemukan industri, komunitas, pendidikan, dan masyarakat.
Selain komunitas otomotif dan kripto syariah, rangkaian kegiatan juga membawa topik bisnis dan keuangan syariah. Penyelenggara juga menghadirkan program Sunday Morning Hype dengan mengusung pendekatan komunitas dan gaya hidup.
Bagi Agung, berbagai komunitas dalam satu gelaran menunjukkan bahwa masyarakat dapat membahas halal lifestyle dengan cara yang lebih cair.
Halal tidak harus selalu hadir dalam format yang kaku. Anak muda bisa mengenalnya melalui komunitas yang mereka sukai, produk yang mereka gunakan, bisnis yang mereka bangun, hingga keputusan finansial yang mereka ambil.
Membuat Halal Lifestyle Lebih Relevan bagi Anak Muda
Perkembangan halal lifestyle menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pilihan hidup semakin luas. Anak muda tidak hanya mencari produk yang menarik, tetapi juga mulai mempertimbangkan nilai dan proses di baliknya.
Halal Kulture melihat kondisi tersebut sebagai ruang untuk memperluas edukasi halal. Pendekatan komunitas menjadi salah satu strategi agar pembahasan tidak terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Melalui Pekan Halal Indonesia 2026, Halal Kulture ingin menunjukkan bahwa ekosistem halal bisa hadir di berbagai ruang. Mulai dari komunitas motor, bisnis, fashion, hingga teknologi finansial.
Pada akhirnya, halal lifestyle bukan sekadar tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Konsep ini juga mengajak masyarakat lebih sadar terhadap pilihan yang mereka buat.
Bagi Gen Z, pendekatan seperti inilah yang membuat pembahasan halal terasa lebih relevan: bukan sekadar aturan, tetapi bagian dari cara memilih dan menjalani hidup.


