STEM Kini Lebih Dekat dengan Murid, Kemendikdasmen Gunakan Kearifan Lokal

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pembelajaran STEM yang lebih dekat dengan kehidupan murid. Melalui pendekatan berbasis kearifan lokal, Kemendikdasmen ingin menunjukkan bahwa murid dapat mempelajari sains dan teknologi tanpa harus bergantung pada laboratorium modern atau perangkat mahal.

Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen, gagasan tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis Calon Fasilitator Nasional Pelatihan STEM yang berlangsung di Tangerang, Banten, Selasa (11/8/2026). Pelatihan ini mengusung prinsip 5M, yaitu Murah, Mudah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Kemendikdasmen Ingin Semua Murid Bisa Mengakses STEM.

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch. Abduh, menegaskan bahwa pendidikan bermutu harus menjangkau seluruh murid tanpa terkecuali.

“Pendidikan bermutu untuk semua berarti tidak ada murid yang tertinggal. STEM yang kami gagas dapat memanfaatkan kearifan lokal, misalnya mempelajari fermentasi tempe atau proses pembuatan Kapal Pinisi,” ujar Abduh.

Menurutnya, contoh-contoh lokal tersebut membantu murid memahami konsep sains melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran STEM Fokus pada Masalah Nyata

Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto, menjelaskan bahwa pendekatan STEM tidak mengajarkan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara terpisah.

Sebaliknya, guru mengarahkan pembelajaran pada pemecahan masalah dan fenomena yang murid temui di lingkungan sekitar.

“STEM membawa pembelajaran lebih dekat pada persoalan nyata yang murid hadapi,” kata Rachmadi di hadapan 155 peserta dari 34 provinsi.

Peserta pelatihan terdiri atas guru SD, SMP, SMA, SMK, serta fasilitator dari unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal GTK.

Kolaborasi Lintas Mata Pelajaran Jadi Kunci

Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, menekankan pentingnya membuka akses STEM seluas-luasnya.

“Bangsa yang maju membutuhkan pembelajaran STEM yang maju. Kami ingin STEM menjadi ruang kolaborasi lintas mata pelajaran,” tegas Arif.

Ia menilai integrasi berbagai disiplin ilmu akan membuat pembelajaran lebih relevan dan aplikatif bagi murid.

Kemendikdasmen Mengemas Pelatihan STEM dengan Gamifikasi.

Kemendikdasmen menyusun pelatihan melalui beberapa tahap, mulai dari belajar mandiri, pembelajaran daring terbimbing, hingga tatap muka.

Pada tahun 2026, kementerian mengangkat tema “Petualangan Garuda Cendekia”. Melalui pendekatan gamifikasi tersebut, Kemendikdasmen ingin membuat STEM terasa lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami murid maupun guru.

Setelah mengikuti bimtek, para fasilitator akan menjalani on the job learning sebelum melatih fasilitator daerah di provinsi masing-masing.

Kemendikdasmen juga menyiapkan peluncuran nasional Pendekatan Pembelajaran STEM 5M pada akhir Agustus 2026.

Guru Aceh: STEM Kini Lebih Terintegrasi

Guru SMAN 3 Banda Aceh, Putri Desriana, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai integrasi lintas disiplin ilmu.

“Selama ini kami mengajarkan biologi, fisika, dan kimia secara terpisah. Setelah mempelajari modul STEM, saya memahami bahwa guru dapat menerapkan STEM pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler,” ujarnya.

Menurut Putri, pendekatan tersebut membuka peluang pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual.

Guru Sorong Tekankan Kearifan Lokal

Guru SMA Negeri 3 Kota Sorong, Mefi Boset, menilai tantangan terbesar guru adalah menghadirkan pembelajaran yang kontekstual sesuai kondisi daerah masing-masing.

“Berbicara STEM berarti berbicara tentang cara menyelesaikan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Murid tidak lagi hanya menghafal konsep, tetapi mengaplikasikan ilmu untuk memberi dampak,” jelas Mefi.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan kearifan lokal dapat membuat murid lebih mudah memahami konsep STEM sekaligus bangga terhadap budaya daerahnya.

Kemendikdasmen Ingin Menjadikan STEM 5M sebagai Gerakan Nasional.

Melalui pendekatan 5M, Kemendikdasmen ingin mengubah persepsi bahwa STEM merupakan pembelajaran yang sulit dan mahal. Kementerian berharap guru dapat memanfaatkan sumber belajar di sekitar sekolah, budaya lokal, dan masalah nyata sebagai bahan pembelajaran STEM.

Jika guru dan sekolah menerapkan pendekatan ini secara konsisten, STEM tidak hanya meningkatkan kemampuan sains dan teknologi murid, tetapi juga membentuk keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan adaptif yang mereka butuhkan pada abad ke-21.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img