EDUCARE.CO.ID – Dewan Pendidikan Nasional (DPN) mendorong pemerintah memperkuat literasi dan numerasi melalui Gerakan Nasional Literasi dan Numerasi. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung transformasi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan sumber rilis DPN, kemampuan literasi dan numerasi kini tidak hanya menjadi kebutuhan akademik. Kedua kompetensi tersebut juga menjadi bekal utama agar peserta didik mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI).
Literasi dan Numerasi Jadi Fondasi Pembelajaran Mendalam
DPN menilai literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Kedua kompetensi itu membantu peserta didik memahami informasi, mengolah data, mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, literasi dan numerasi juga mendukung pengembangan delapan dimensi profil lulusan. Melalui kemampuan tersebut, peserta didik dapat mengasah nalar, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan tanggung jawab.
Karena itu, DPN mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar dalam transformasi pendidikan.
Implementasi Masih Menghadapi Tantangan
Meski demikian, DPN menilai pelaksanaan kebijakan tersebut belum berjalan optimal. Banyak sekolah masih menganggap literasi sebagai tanggung jawab guru bahasa, sedangkan numerasi hanya menjadi tugas guru matematika.
Akibatnya, proses pembelajaran belum sepenuhnya mengintegrasikan kedua kompetensi tersebut ke seluruh mata pelajaran. Di sisi lain, sebagian sekolah masih berfokus pada penyampaian materi dibandingkan membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Menurut DPN, kondisi tersebut perlu segera diperbaiki agar transformasi pendidikan berjalan lebih efektif.
Era AI Perkuat Pentingnya Literasi
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial semakin memperbesar kebutuhan akan literasi dan numerasi.
DPN menilai peserta didik harus mampu menyaring informasi, memverifikasi data, serta menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Oleh sebab itu, DPN menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi terletak pada penyusunan kebijakan. Sebaliknya, tantangan terbesar berada pada konsistensi pelaksanaan, peningkatan kapasitas guru, dan pembangunan ekosistem literasi yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, perguruan tinggi, media, organisasi profesi, hingga dunia usaha.
Rekomendasikan Gerakan Nasional
Untuk memperkuat pelaksanaan program, DPN merekomendasikan pemerintah menetapkan Gerakan Nasional Literasi dan Numerasi melalui regulasi yang memiliki kekuatan hukum lebih kuat.
Selain itu, DPN juga mengusulkan adanya sistem koordinasi terpadu agar seluruh program, pendampingan, hingga evaluasi berjalan secara berkelanjutan.
DPN juga meminta pemerintah menetapkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi lintas disiplin. Dengan demikian, seluruh guru memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengembangkan kemampuan tersebut, bukan hanya guru bahasa maupun matematika.
Asesmen dan Kompetensi Guru Perlu Diperkuat
DPN turut mendorong perubahan sistem asesmen pendidikan, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA). Menurut DPN, asesmen sebaiknya lebih banyak mengukur kemampuan bernalar, memahami informasi, menggunakan data, serta menyelesaikan masalah daripada sekadar menguji penguasaan materi.
Di saat yang sama, pemerintah perlu meningkatkan kapasitas guru, kepala sekolah, pengawas, dan widyaiswara agar mampu menerapkan strategi literasi dan numerasi dalam proses pembelajaran.
DPN juga mengusulkan pengembangan sistem data nasional berbasis bukti untuk memantau perkembangan literasi, numerasi, dan STEAM secara berkala.
Bangun Ekosistem Literasi Bersama
DPN memandang keberhasilan gerakan ini bergantung pada kolaborasi banyak pihak. Karena itu, lembaga tersebut mengajak perguruan tinggi, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), komunitas guru, organisasi profesi, media, komunitas literasi, serta dunia usaha untuk terlibat aktif.
Selain itu, DPN menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi proses belajar anak, terutama di tengah tantangan era digital.
Tidak hanya berfokus pada baca-tulis dan numerasi, DPN juga mendorong pengembangan literasi multidomain. Cakupannya meliputi literasi sains, digital, finansial, kesehatan, budaya, kewargaan, ekologi, informasi, media, data, hukum, karier, kewirausahaan, keberagaman, hingga kecerdasan artifisial.
Melalui penguatan literasi dan numerasi secara konsisten, terpadu, dan berkelanjutan, DPN optimistis Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat Human Capital Index, mendorong inovasi nasional, serta mempercepat terwujudnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.




